Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

John Herdman Sebaiknya Tinggalkan High Pressing, Indonesia Tak Boleh Ulang Kesalahan Lawan Vietnam

John Herdman Sebaiknya Tinggalkan High Pressing, Indonesia Tak Boleh Ulang Kesalahan Lawan Vietnam Kredit Foto: Kemenpora
Warta Ekonomi, Jakarta -

Kekalahan telak 0-3 dari Vietnam menjadi alarm keras bagi Timnas Indonesia jelang laga hidup-mati melawan Singapura di Grup A Piala AFF 2026. Selain harus bangkit secara mental, skuad Garuda juga dituntut melakukan evaluasi taktik agar kesalahan serupa tidak kembali terulang.

Indonesia kini menempati posisi ketiga klasemen Grup A dengan enam poin. Garuda wajib mengalahkan Singapura pada laga terakhir jika ingin mengamankan tiket ke babak semifinal.

Sorotan terbesar mengarah kepada pendekatan permainan John Herdman yang tetap mempertahankan garis pertahanan tinggi atau high pressing. Skema tersebut justru menjadi celah yang terus dimanfaatkan lawan dalam dua pertandingan terakhir.

Masalah itu sebenarnya sudah terlihat saat Indonesia menghadapi Timor Leste. Meski menang 3-0, Garuda berkali-kali kesulitan mengantisipasi serangan balik lawan yang bermain dengan 10 orang sejak menit ke-21.

Saat itu Herdman melakukan enam perubahan dalam susunan pemain. Kombinasi Jordi Amat, Wahyu Prasetyo, dan Braif Fatari beberapa kali terlambat menutup ruang ketika kehilangan bola.

Performa Indonesia baru membaik setelah Sandy Walsh dan Shayne Pattynama masuk pada babak kedua. Kehadiran Sandy membuat keseimbangan lini belakang kembali terjaga, sedangkan Shayne turut mencetak gol untuk mengunci kemenangan.

Meski mendapat sejumlah peringatan dari laga tersebut, Herdman tetap mempertahankan identitas permainan agresif saat menghadapi Vietnam. Keputusan itu justru menjadi bumerang.

Vietnam tampil jauh lebih efektif memanfaatkan ruang kosong di belakang garis pertahanan Indonesia. Tim asuhan Kim Sang-sik mampu menghukum Garuda melalui serangan balik cepat yang menghasilkan tiga gol.

Gol pembuka bahkan berawal dari kesalahan kontrol bola Rizky Ridho ketika mendapat tekanan di area pertahanan sendiri. Setelah bola direbut Vietnam, Nguyen Van Vi dengan mudah menyelesaikan peluang menjadi gol.

Gol kedua juga lahir dari situasi serupa ketika lini belakang Indonesia berada terlalu tinggi. Vietnam hanya membutuhkan beberapa sentuhan untuk menembus ruang kosong sebelum Nguyen Hai Long menggandakan keunggulan.

Usai pertandingan, Herdman mengakui Vietnam tampil lebih baik secara taktik dibanding timnya. Menurut pelatih asal Inggris tersebut, Indonesia harus belajar cepat dari kekalahan itu.

Baca Juga: PSSI Untung Rp722 Miliar Setahun, Kualitas Timnas Indonesia Masih Terseok-Seok

"Saya tidak menyangka Vietnam akan berubah secepat ini setelah hasil imbang yang sengit melawan Singapura. Masih terlalu dini untuk menganalisis, tetapi kami kebobolan dua gol dengan mudah hanya dalam 15 menit dan tidak bisa bermain sesuai rencana awal," kata Herdman.

Rizky Ridho juga mengakui dirinya melakukan kesalahan yang berujung gol bagi Vietnam. Bek Persija Jakarta itu berjanji melakukan evaluasi agar tidak mengulang kesalahan serupa.

"Saya sendiri telah melakukan banyak kesalahan yang menyebabkan kebobolan. Saya harus introspeksi diri untuk menghindari pengulangan kesalahan tersebut," ujar Ridho.

Dengan situasi yang ada, Indonesia dinilai tidak memiliki ruang untuk kembali mengambil risiko. Tanpa Sandy Walsh yang mampu menjaga keseimbangan saat garis pertahanan tinggi diterapkan, skema high pressing justru berpotensi menjadi senjata makan tuan.

Laga melawan Singapura bukan lagi soal mempertahankan identitas bermain, melainkan memastikan hasil. Tiga poin menjadi satu-satunya target agar perjalanan Indonesia di Piala AFF 2026 tidak berakhir lebih cepat.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Wahyu Pratama