Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Zuckerberg: Jangan takut AI, justru pengetahuan AI harus disebarkan

Zuckerberg: Jangan takut AI, justru pengetahuan AI harus disebarkan Kredit Foto: Instagram/Mark Zuckerberg
Warta Ekonomi, Jakarta -

CEO Meta Mark Zuckerberg punya pandangan yang cukup tegas soal masa depan kecerdasan buatan (AI). Menurutnya, kekhawatiran terhadap AI supercerdas tidak seharusnya menjadi alasan untuk memusatkan pengembangan teknologi tersebut di tangan segelintir pihak.

Pandangan itu disampaikan Zuckerberg melalui esai panjang yang dirilis bersamaan dengan pengumuman model AI open source terbaru Meta, Muse Glimmer. Dalam tulisan tersebut, ia justru mendorong agar kemampuan AI supercerdas dapat didistribusikan secara luas.

Zuckerberg menilai pemusatan kekuasaan dengan alasan untuk mengendalikan risiko AI justru dapat menimbulkan persoalan baru. Ia khawatir teknologi yang seharusnya membuka peluang ekonomi malah hanya dikuasai pemerintah, perusahaan besar, atau lembaga tertentu.

"Gagasan bahwa AI begitu berbahaya sehingga satu-satunya jalur aman adalah pemusatan kekuasaan secara ekstrem, menurut saya pada dasarnya bermasalah," tulis Zuckerberg, melansir Politico, Senin (10/8).

Bagi Zuckerberg, penyebaran teknologi AI secara lebih luas dapat menjadi salah satu cara untuk menjaga keseimbangan kekuasaan. Dengan akses yang lebih terbuka, manfaat dari perkembangan AI tidak hanya dinikmati oleh kelompok atau organisasi yang memiliki sumber daya terbesar.

Pandangan tersebut sekaligus memperlihatkan posisi Meta dalam persaingan industri AI global. Perusahaan Zuckerberg masih menghadapi persaingan ketat dari sejumlah pemain besar, termasuk OpenAI dan Anthropic, yang terus mengembangkan model AI dengan kemampuan semakin tinggi.

Karena itu, Zuckerberg juga mendorong Amerika Serikat dan negara-negara sekutunya untuk memperkuat ekosistem AI open source. Ia menilai model terbuka berpotensi memainkan peran besar dalam penggunaan AI secara global.

Menurut Zuckerberg, pemerintah Amerika Serikat juga perlu berhati-hati dalam menerapkan berbagai pembatasan terhadap perusahaan AI domestik. Ia menilai aturan yang terlalu ketat dapat membuat laboratorium AI di luar negeri memiliki keunggulan dalam pengembangan teknologi.

"Penting juga bagi AS dan sekutunya untuk memimpin ekosistem AI open source yang bakal mendominasi sebagian besar penggunaan AI global," tulis Zuckerberg.

Ia juga menyoroti persoalan data pelatihan yang menjadi salah satu faktor penting dalam pengembangan model AI. Menurutnya, perusahaan di Amerika menghadapi sejumlah pembatasan tambahan yang dapat memengaruhi kemampuan mereka dalam membangun model AI terbaik.

Meski menolak ketakutan berlebihan terhadap AI, Zuckerberg tidak menutup mata terhadap risiko yang mungkin muncul. Ia menyebut perkembangan AI tetap perlu diikuti dengan langkah perlindungan terhadap ancaman seperti kejahatan siber dan bioterorisme.

Zuckerberg mengusulkan agar pemerintah lebih fokus mengendalikan produksi dan distribusi fisik bahan-bahan berbahaya. Menurutnya, mengatur komponen fisik akan lebih mudah dibandingkan mencoba membendung penyebaran pengetahuan yang berkaitan dengan teknologi AI.

Baca Juga: Facebook Luncurkan Centang Verifikasi Gratis untuk Pengguna, Cukup Lewat Video Selfie

Ia juga mendorong percepatan kemampuan masyarakat dalam menemukan penawar baru serta melindungi diri dari ancaman yang muncul. Langkah tersebut, menurut Zuckerberg, perlu didukung dengan proses pengujian dan persetujuan regulator yang lebih cepat.

Selain soal keamanan, Zuckerberg turut membela pembangunan pusat data yang dibutuhkan untuk menopang perkembangan AI. Ia menilai fasilitas tersebut merupakan bentuk investasi yang dapat memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat di wilayah operasionalnya.

Meta juga memasang target untuk menjadi perusahaan yang "water-positive" pada 2030. Artinya, perusahaan menargetkan dapat mengembalikan lebih banyak air ke wilayah operasionalnya dibandingkan jumlah air yang digunakan.

Lewat pandangan tersebut, Zuckerberg pada dasarnya menawarkan pendekatan berbeda terhadap masa depan AI. Alih-alih melihat penyebaran pengetahuan AI sebagai ancaman utama, ia justru menganggap akses yang lebih luas dapat menjadi cara untuk mencegah teknologi tersebut berubah menjadi sumber kekuasaan yang hanya dimiliki segelintir pihak.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Wahyu Pratama