Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Zuckerberg Enggan Kejar Untung Jangka Pendek dari Penyewaan Infrastruktur AI

Zuckerberg Enggan Kejar Untung Jangka Pendek dari Penyewaan Infrastruktur AI Kredit Foto: Instagram/Mark Zuckerberg
Warta Ekonomi, Jakarta -

Meta Platforms tengah mempertimbangkan strategi bisnis baru dengan membuka peluang menyewakan kapasitas komputasi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) kepada perusahaan lain. Namun, di saat yang sama, perusahaan masih menimbang kebutuhan untuk mempertahankan kapasitas tersebut guna mempercepat pengembangan produk AI internal.

CEO Meta Mark Zuckerberg mengatakan perusahaan menerima banyak penawaran untuk menyewa infrastruktur komputasi AI dengan nilai yang jauh di atas biaya investasi yang telah dikeluarkan. Meski demikian, kapasitas tersebut juga dibutuhkan untuk mendukung pengembangan berbagai produk AI yang masuk dalam peta jalan perusahaan.

"Kami menerima banyak penawaran untuk kapasitas komputasi dengan harga jauh di atas biaya yang kami keluarkan. Kami juga memiliki lebih banyak produk coding dan produktivitas dalam peta jalan pengembangan," ujar Zuckerberg dalam paparan kinerja kuartal II, Rabu (30/7).

Langkah tersebut muncul ketika Meta mulai menjajaki bisnis AI cloud sebagai sumber pendapatan baru di tengah tingginya permintaan infrastruktur AI global. Menurut laporan Yahoo Finance, Meta sedang berdiskusi dengan Anthropic terkait potensi penyewaan kapasitas komputasi AI dengan nilai transaksi hingga US$10 miliar.

Meski peluang bisnis tersebut dinilai menjanjikan, Zuckerberg menegaskan perusahaan masih mempertimbangkan keseimbangan antara memperoleh pendapatan jangka pendek dan membangun fondasi bisnis AI untuk jangka panjang.

"Dalam menjalankan bisnis, kami selalu harus menyeimbangkan antara memonetisasi sesuatu hari ini atau mengembangkan aset untuk masa depan. Ini selalu menjadi sebuah portofolio," katanya.

Menurut Zuckerberg, potensi monetisasi AI Meta tidak hanya berasal dari penyewaan infrastruktur komputasi. Perusahaan juga mengembangkan berbagai sumber pendapatan baru melalui layanan API, aplikasi produktivitas berbasis AI, hingga agen AI yang masih dalam tahap pengembangan.

Di sisi lain, Meta membutuhkan kapasitas komputasi dalam jumlah besar untuk melatih model AI miliknya sendiri. Awal bulan ini, perusahaan meluncurkan model Muse Spark 1.1 yang diklaim mampu bersaing dengan model AI milik OpenAI dan Anthropic untuk kebutuhan agen AI maupun pemrograman dengan biaya operasional yang lebih rendah.

"Merupakan keputusan yang tidak bijaksana jika kami menjual seluruh kapasitas komputasi hanya demi keuntungan jangka pendek," ujar Zuckerberg.

Strategi tersebut disampaikan di tengah meningkatnya belanja investasi Meta untuk memperkuat infrastruktur AI. Perusahaan menaikkan proyeksi belanja modal (capital expenditure/capex) 2026 menjadi US$130 miliar hingga US$145 miliar, lebih tinggi sekitar US$5 miliar dibandingkan proyeksi sebelumnya.

Besarnya investasi tersebut turut menekan kondisi keuangan perusahaan. Meta melaporkan arus kas bebas (free cash flow) turun sekitar 90% dibandingkan periode yang sama tahun lalu akibat lonjakan belanja infrastruktur AI. Selain itu, proyeksi pendapatan kuartal III yang berada di bawah ekspektasi pasar sempat memicu koreksi harga saham Meta lebih dari 7% pada perdagangan setelah penutupan bursa.

Baca Juga: Meta Bakal Jual Kapasitas Komputasi ke Anthropic Senilai Rp179,4 triliun

Baca Juga: Tuai Kritik, Meta Tarik Fitur AI di Instagram yang Gunakan Foto Akun Publik

Baca Juga: Meta Bangun Pusat Data AI Pertama di Kanada, Nilai Investasi Capai CAD $13 Miliar

Zuckerberg mengakui bahwa jika ingin masuk lebih jauh ke bisnis AI cloud, Meta masih harus membangun kapabilitas baru untuk melayani pelanggan korporasi, segmen yang selama ini bukan menjadi fokus utama perusahaan.

Langkah tersebut merupakan bagian dari strategi diversifikasi pendapatan Meta di luar bisnis iklan digital yang hingga kini masih menyumbang sekitar 98% dari total pendapatan perusahaan.

"Saya memahami ini merupakan taruhan besar bagi seluruh industri. Namun, saya yakin perusahaan yang berinvestasi di bidang ini pada akhirnya akan memperoleh hasil yang sangat baik," tuturnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
Editor: Annisa Nurfitri