Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Internet BAKTI Bikin Petani 3T Tak Lagi Bergantung Tengkulak

Internet BAKTI Bikin Petani 3T Tak Lagi Bergantung Tengkulak Kredit Foto: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
Warta Ekonomi, Jakarta -

Akses internet di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) mulai memberikan dampak lebih luas bagi masyarakat. Konektivitas yang sebelumnya sulit diperoleh kini dimanfaatkan warga untuk mencari informasi harga komoditas hingga memperluas pasar produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Salah satu perubahan tersebut terlihat di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Pemerintah daerah setempat menyebut akses internet yang dibangun Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) membantu masyarakat di daerah terpencil memperoleh informasi mengenai harga hasil pertanian.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kominfo Kabupaten Parigi Moutong Khairuddin mengatakan sebelum tersedianya jaringan internet, masyarakat di wilayah pegunungan kesulitan mendapatkan informasi mengenai harga komoditas.

Kondisi tersebut membuat petani rentan bergantung pada informasi dari tengkulak. Bahkan, menurut Khairuddin, petani kerap menerima informasi harga yang tidak sesuai dengan kondisi pasar.

"Karena dulu itu, para petani itu masih banyak dibohongi. Dibohongi para tengkulak, yang sebenarnya harga itu sudah naik, tapi para tentulat ini sampaikan bahwa harganya turun," kata Khairuddin dalam acara BAKTI Media Connect 2026 di Jakarta, Rabu (12/8/2026).

Khairuddin mengatakan kini masyarakat sudah dapat mengakses internet sehingga sudah bisa mengecek sendiri harga hasil panen mereka.

“Dengan adanya bantuan dari BAKTI, masyarakat sudah bisa mengakses semua informasi-informasi yang ada khususnya di provinsi, kabupaten sampai di kecamatan,” pungkasnya.

Kepala Desa Baina Barat, Yuslan mengatakan perubahan serupa dirasakan langsung oleh masyarakat desanya. Sebelum jaringan tersedia, warga kesulitan mengetahui harga pasar untuk komoditas seperti cengkeh, kelapa, dan kemiri.

"Setelah masuknya program BTS dari Bakti, masyarakat merasa sangat senang bisa internetan. Sekarang mereka tidak bisa dibohongi lagi oleh para tengkulak," kata Yuslan.

Dengan akses internet, warga dapat menghubungi pengusaha atau calon pembeli di luar desa untuk membandingkan harga. Petani juga mulai memiliki pilihan untuk menahan hasil panen hingga harga dianggap lebih menguntungkan.

"Jadi mereka tahu mau menjual ke mana yang harganya paling tinggi," ujarnya.

Baca Juga: BAKTI Andalkan Satria-1 Percepat Internet di 3T, 31.000 Lokasi Sudah Terhubung

Baca Juga: Setelah Bangun 31 Ribu Titik Internet, BAKTI Mulai Susun Strategi Keluar

Manfaat konektivitas juga mulai dirasakan pelaku UMKM di daerah tersebut. Menurut Yuslan, masyarakat memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan produk dan menerima pesanan dari luar desa.

“Mudah aksesnya untuk mereka mendapatkan misalnya seperti makanan yang dibuat kemudian dijual, kemudian mereka posting di foto, posting kemudian dikirim di media sosial,” tuturnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
Editor: Annisa Nurfitri