Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Konsumsi Masih Tumbuh, tapi Great Institute Ungkap Sinyal Daya Beli Mulai Melemah

Konsumsi Masih Tumbuh, tapi Great Institute Ungkap Sinyal Daya Beli Mulai Melemah Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Konsumsi rumah tangga masih menjadi salah satu penopang utama perekonomian Indonesia pada paruh pertama 2026. Namun, sejumlah indikator menunjukkan masyarakat mulai lebih selektif dalam membelanjakan pendapatannya, seiring pelemahan penjualan ritel dan penurunan keyakinan konsumen.

Temuan tersebut menjadi salah satu perhatian GREAT Institute dalam GREAT Mid-Year Economic Outlook 2026: Membangun Kembali Kepercayaan, Menumbuhkan Optimisme. Lembaga tersebut tetap mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 sebesar 5,3%–5,6%, tetapi melihat ketahanan konsumsi perlu dicermati karena tekanan terhadap daya beli mulai terlihat.

Secara agregat, konsumsi rumah tangga secara riil meningkat menjadi sekitar Rp1.887,7 triliun. Namun, setelah menguat selama momentum Ramadan dan Idulfitri, penjualan ritel kembali melemah dan terkontraksi 3,9% secara tahunan pada Mei 2026.

Peneliti Ekonomi GREAT Institute Trisha Devita Indraswari mengatakan pergerakan konsumsi perlu dilihat tidak hanya melalui pertumbuhan agregat, tetapi juga perubahan perilaku belanja masyarakat.

“Konsumsi memang masih tumbuh, tetapi rumah tangga mulai semakin selektif dalam membelanjakan pendapatannya. Ketika penjualan ritel melemah setelah momentum musiman berakhir, ini menunjukkan bahwa daya dorong konsumsi belum cukup kuat untuk bertahan secara konsisten,” ujar Trisha.

Pelemahan juga terlihat dari tingkat keyakinan konsumen. Indeks Keyakinan Konsumen turun dari 127,0 pada Januari menjadi 117,8 pada Juni 2026, meski masih berada di zona optimistis. Penurunan tersebut juga mencerminkan melemahnya ekspektasi masyarakat terhadap penghasilan, ketersediaan lapangan kerja, dan kegiatan usaha ke depan.

GREAT Institute menilai kondisi tersebut dapat mendorong rumah tangga meningkatkan precautionary saving atau menyimpan lebih banyak pendapatan sebagai bantalan menghadapi ketidakpastian. Dengan demikian, daya beli tidak hanya berkaitan dengan kemampuan masyarakat membelanjakan pendapatan, tetapi juga kemauan untuk melakukan konsumsi.

“Rumah tangga tidak hanya melihat kondisi hari ini. Ketika keyakinan terhadap pendapatan dan pekerjaan ke depan mulai menurun, respons yang muncul biasanya adalah meningkatkan kehati-hatian, menunda pengeluaran yang tidak mendesak, dan mempertahankan tabungan lebih lama,” kata Trisha.

Pembelian Rumah Jadi Sinyal Kehati-hatian

Perubahan perilaku tersebut semakin terlihat pada pembelian aset bernilai besar, terutama perumahan. Penjualan rumah primer terkontraksi 25,67% secara tahunan pada kuartal I 2026, sementara pertumbuhan kredit pemilikan rumah (KPR) dan kredit pemilikan apartemen (KPA) terus melambat hingga berada di level satu digit.

Menurut GREAT Institute, pembelian rumah dan barang tahan lama (durable goods) membutuhkan dana besar, akses pembiayaan, serta komitmen pembayaran dalam jangka panjang. Karena itu, pengeluaran tersebut cenderung lebih mudah ditunda ketika rumah tangga menghadapi ketidakpastian.

“Pembelian rumah memberikan sinyal yang lebih kuat mengenai keyakinan rumah tangga dibandingkan konsumsi sehari-hari. Ketika masyarakat merasa pendapatan dan pekerjaannya cukup aman, mereka lebih berani mengambil komitmen jangka panjang. Sebaliknya, ketika ketidakpastian meningkat, pembelian bernilai besar menjadi salah satu yang pertama ditunda,” jelas Trisha.

Meski demikian, tekanan konsumsi belum terjadi secara menyeluruh. Rumah tangga masih mempertahankan konsumsi kebutuhan dasar, sementara penyesuaian lebih banyak terjadi pada pengeluaran sekunder, barang tahan lama, dan pembelian yang membutuhkan pembiayaan jangka panjang.

Kondisi tersebut membuat konsumsi agregat masih dapat tumbuh meski sejumlah indikator ritel dan pembelian aset menunjukkan pelemahan.

Pendapatan dan Lapangan Kerja Jadi Kunci

GREAT Institute menilai keberlanjutan konsumsi bergantung pada kekuatan pendapatan riil, kepastian pekerjaan, ekspektasi terhadap kondisi ekonomi, serta kemampuan rumah tangga mempertahankan bantalan keuangan.

Stimulus konsumsi dapat mendorong permintaan dalam jangka pendek, tetapi tidak cukup untuk menjaga pertumbuhan konsumsi apabila fundamental rumah tangga tidak ikut menguat.

“Konsumsi masih resilien, tetapi resiliensi itu tidak tanpa batas. Yang perlu dijaga bukan hanya kemampuan masyarakat untuk berbelanja hari ini, tetapi juga keyakinan mereka bahwa pendapatan dan pekerjaan akan tetap terjaga ke depan,” tutup Trisha.

Untuk semester II 2026, GREAT Institute menilai penguatan konsumsi membutuhkan kebijakan yang berorientasi pada penciptaan pekerjaan berkualitas, peningkatan pendapatan riil, pengendalian biaya hidup, serta pemulihan keyakinan masyarakat terhadap prospek ekonomi.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Annisa Nurfitri
Editor: Annisa Nurfitri