Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Hasil Investasi Asuransi Jiwa Anjlok, Semester I-2026 Berbalik Negatif Rp2,47 Triliun

Hasil Investasi Asuransi Jiwa Anjlok, Semester I-2026 Berbalik Negatif Rp2,47 Triliun Kredit Foto: Azka Elfriza
Warta Ekonomi, Jakarta -

Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) membukukan hasil investasi industri asuransi jiwa berbalik negatif Rp2,47 triliun pada semester I-2026 dari sebelumnya mencatatkan hasil positif Rp16,19 triliun pada periode yang sama 2025.

Ketua Bidang Keuangan, Permodalan, Investasi, dan Pajak AAJI Meylindawati Tjoa mengatakan perubahan tersebut mencerminkan tekanan pasar terhadap portofolio investasi industri asuransi jiwa sepanjang enam bulan pertama 2026.

“Perubahan ini mencerminkan pengaruh volatilitas pasar keuangan terhadap kinerja investasi dalam jangka pendek di semester satu 2026,” ujar Meylindawati dalam Konferensi Pers Kinerja Industri Asuransi Jiwa Periode Semester I-2026 di Grha AAJI, Jakarta, Senin (31/8/2026).

Meski hasil investasi tertekan, Meylindawati mengatakan bahwa kinerja satu periode tidak dapat digunakan untuk menggambarkan keseluruhan siklus investasi industri. Pasalnya, perusahaan asuransi jiwa mengelola dana dengan orientasi jangka panjang dan menyesuaikan dengan kewajiban pemegang polis.

“Investasi industri asuransi jiwa berorientasi jangka panjang sehingga kinerja dalam kurun waktu tertentu saja tidak dapat disimpulkan dari siklus pasar secara keseluruhan,” katanya.

Dari sisi nilai investasi, industri asuransi jiwa justru mencatat pertumbuhan. Total investasi mencapai sekitar Rp564,42 triliun, atau tumbuh 2,4% secara tahunan (year on year/yoy).

Surat Berharga Negara (SBN) diketahui menjadi instrumen dengan porsi terbesar dalam portofolio investasi industri, yakni Rp251,64 triliun atau sekitar 44% dari total investasi.

Selanjutnya, saham menyumbang sekitar 18%, reksa dana 12%, dan sukuk korporasi sekitar 10%. Industri juga melakukan diversifikasi melalui deposito, tanah dan bangunan, serta penyertaan langsung.

“Penempatan pada SBN mencerminkan komitmen industri dalam menjaga stabilitas portofolio sekaligus turut berkontribusi pada pembiayaan pembangunan pemerintah,” ucap Meylindawati.

Baca Juga: Premi Asuransi Jiwa Syariah Anjlok 20,2%, AAJI Ungkap Penyebabnya

Baca Juga: AAJI Belum Terima Data Klaim Asuransi Jiwa akibat Bencana NTT

Baca Juga: AAJI Dorong Implementasi POJK 36/2025, Fokus Kendalikan Inflasi Medis

Adapun strategi investasi harus tetap disesuaikan dengan kebutuhan liabilitas perusahaan dan tidak hanya mengejar keuntungan jangka pendek saja.

“Dalam konteks industri asuransi jiwa yang memiliki kewajiban jangka panjang strategi investasi perlu konsisten dengan kebutuhan liabilitas yang ada dan tidak semata-mata mengejar hasil jangka pendek saja,” ujar Meylindawati.

Dari sisi fundamental, tercatat per semester I-2026, AAJI mencatatkan total aset industri asuransi jiwa mencapai Rp645,08 triliun, tumbuh 2,3% yoy. Menurut Meylindawati, kekuatan aset menjadi salah satu fondasi bagi industri dalam menjalankan kewajiban kepada pemegang polis.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Azka Elfriza
Editor: Annisa Nurfitri