Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Pakai AI Bikin Boros Air dan Listrik, Wamen Stella Bilang Indonesia Justru Punya Peluang

Pakai AI Bikin Boros Air dan Listrik, Wamen Stella Bilang Indonesia Justru Punya Peluang Kredit Foto: Rahmat Saepulloh
Warta Ekonomi, Jakarta -

Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) ternyata bukan hanya membutuhkan kemampuan komputasi yang besar.

Di balik teknologi yang semakin banyak digunakan, ada kebutuhan energi listrik dan air yang juga ikut melonjak. Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendikti) Stella Christie bahkan menyebut konsumsi energi AI saat ini sudah sangat besar.

Stella menunjukkan data pemakaian listrik untuk AI berdasarkan pusat data di Amerika Serikat (AS). Menurutnya, kebutuhan listrik tersebut bahkan dapat dibandingkan dengan konsumsi energi sejumlah negara di Eropa.

"Teman-teman, AI itu rakus luar biasa. Seberapa rakusnya? Ini data center di Amerika Serikat, lihat. 11 gigawatt, 10 gigawatt, kalau dikumpulin semuanya itu, pada saat ini AI data center menggunakan 155 triliun watt hours," kata Stella dalam unggahan di akun Instagram pribadinya baru-baru ini.

Baca Juga: Mahfud soal Pidato Prabowo: Sekarang Saya Percaya Dia Tidak Berdaulat sebagai Presiden

Angka tersebut, kata Stella, belum menunjukkan batas akhir. Penggunaan listrik untuk AI diperkirakan terus meningkat hingga 2030 dan mencapai 465 triliun watt hours.

"2030 akan naik ke 465 triliun watt hours. Kalau susah ngebayangin ya, bayangin begini. Tahun lalu, pemakaian listrik energi, AI, itu sama dengan satu negara Latvia selama satu tahun. Tahun ini estimasinya sama dengan Romania," ujarnya.

Stella kemudian menggambarkan besarnya kebutuhan tersebut dengan membandingkannya terhadap konsumsi listrik beberapa negara Eropa dari tahun ke tahun.

"Tahun depan Czechia yang negaranya lebih kecil, tapi pemakaiannya lebih intensif. Dan 2028 itu sama dengan Italia, seluruh Italia harus bekerja keras menghasilkan listrik untuk AI. 2029 sama dengan Inggris Raya, dan setelah itu tidak ada lagi negara di Eropa yang bisa menyamai penggunaan listrik dari AI. Kita harus ke Kanada, begitu besarnya," lanjut dia.

Namun, persoalan yang disoroti Stella bukan hanya soal listrik. Pengembangan dan pengoperasian AI juga membutuhkan air dalam jumlah besar. Ia menyebut penggunaan air tersebut berkaitan dengan kebutuhan energi untuk menopang sistem AI.

"Bukan saja listriknya rakus luar biasa, tahun lalu itu air minum untuk 1,2 juta orang terevaporasi. Lenyap dari bumi ini dipakai oleh AI. Nah, jadi kesimpulannya yang membatasi AI atau yang sangat diperlukan AI itu adalah energi. Bukan chips, bukan semikonduktor," sebut dia.

Meski terdengar mengkhawatirkan, Stella justru melihat kondisi tersebut sebagai peluang bagi Indonesia. Menurutnya, kebutuhan energi AI yang terus membesar dapat menjadi kesempatan bagi Indonesia karena memiliki sumber energi yang melimpah, termasuk energi baru terbarukan (EBT).

Baca Juga: Mantan Ketua MK Heran: Ada Orang Ngabisin Waktunya Ngurusin Urusan Ijazah

"Ini menarik buat kita Indonesia karena jadi peluang. Kenapa peluang? Karena kita punya energi. Terutama lagi energi terbarukan. Surya, angin sudah tahu, tapi mungkin kalian belum tahu bahwa panas bumi kita adalah cadangan terbesar nomor dua di dunia. Tapi belum kita optimalkan," ungkap Stella.

Pandangan tersebut sejalan dengan dorongan Kemdiktisaintek agar Indonesia memperkuat pemanfaatan energi terbarukan untuk mendukung perkembangan industri data center berbasis AI. Pemerintah menilai pengelolaan sumber energi terbarukan secara tepat dapat membuka peluang bagi Indonesia untuk mengambil peran lebih besar dalam industri tersebut.

Stella juga menyinggung temuan mengenai potensi hidrogen alami yang menurutnya sangat besar. Ia melihat sumber energi tersebut dapat menjadi bagian dari peluang yang perlu dikaji lebih lanjut.

"Baru-baru ini kita menemukan bahwa cadangan hidrogen alami kita sangat besar kemungkinan salah satu terbesar di dunia. Penemuan baru. Jadi kita ada kesempatan. Dan saya mau, kita bahas yuk," tambahnya.

Karena itu, Stella tidak ingin konsumsi energi AI hanya dilihat sebagai ancaman. Di satu sisi, teknologi tersebut memang membutuhkan listrik dan air dalam jumlah besar. Namun di sisi lain, kebutuhan tersebut dapat menjadi peluang bagi Indonesia apabila potensi energinya mampu dikembangkan dan dimanfaatkan secara tepat.

"Menyeramkan AI itu karena rakusnya luar biasa terhadap energi dan air, atau kita bahkan bisa jadi juara, karena kita punya peluang, kita punya banyak energi," lanjut Wamen Stella.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri