Anies Baswedan Masih Laku Dibeli: Dulu Juga Bisa Dicalonkan NasDem, Terus Ngajak PKS
Kredit Foto: Istimewa
Nama Anies Baswedan dinilai masih memiliki nilai jual politik menuju Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029. Meski belum ada kepastian mengenai partai yang akan kembali mengusungnya, daya tarik elektoral politikus itu disebut tetap menjadi modal penting untuk membuat mantan gubernur itu diperhitungkan.
Pengamat Politik Saiful Mujani dan Ahli Strategi Media Muchlis A Rofik menilai mantan menteri tersebut memiliki basis dukungan tersendiri di masyarakat. Kondisi tersebut menjadi alasan mengapa partai politik pada pilpres mendatang bersedia memberikan kendaraan politik kepadanya.
Baca Juga: Skenario Prabowo-Bahlil Dibayang-bayangi Porosnya Jokowi: Opsi Mungkin Secara Politik, Tapi...
"Lalu bagaimana nasib dari Anies? Apakah kekuatan elektoralnya masih laku dibeli partai-partai?" ungkap Muchlis, dikutip Selasa (22/9/2026).
Pertanyaan tersebut mendapat jawaban cukup tegas dari Saiful. Anies menurutnya masih mempunyai daya tarik elektoral yang dapat menjadi modal untuk kembali masuk dalam perhitungan politik nasional.
"Anies Baswedan punya daya tarik elektoral sendiri," kata Saiful.
Saiful kemudian mengingatkan bahwa pencalonan politikus itu pada pilpres sebelumnya bukanlah keputusan yang muncul tanpa pertimbangan elektoral. Partai politik memiliki alasan ketika memilih seorang tokoh untuk dijadikan kandidat, salah satunya adalah melihat apakah figur tersebut mempunyai segmen pemilih yang dapat dikonversi menjadi kekuatan politik.
Anies menjadi salah satu contoh nyata dari pertimbangan tersebut.
"Jadi dulu juga kenapa dia dicalonkan oleh Nasdem. Kemudian ngajak Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kemudia ngajak Cak Imin. Ya karena minimal ada segmen tertentu dalam masyarakat yang mendukung Anies," ujar Saiful.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa kekuatan seorang kandidat tidak hanya diukur dari seberapa besar dukungan partai yang dimilikinya. Basis pemilih juga menjadi aset penting karena dapat menjadi pertimbangan partai ketika menyusun strategi menghadapi pemilu.
Di Anies, dukungan elektoral tersebut membuatnya mampu mendapatkan kendaraan politik pada Pilpres 2024. Partai NasDem menjadi salah satu kekuatan pertama yang memberikan dukungan, sebelum kemudian konfigurasi koalisi berkembang dengan melibatkan Partai Keadilan Sejahtera dan Muhaimin Iskandar atau Cak Imin.
Saiful melihat keputusan partai dalam memilih kandidat pada dasarnya tidak terlepas dari kalkulasi politik. Partai tentu akan mencari figur yang dianggap mampu memberikan keuntungan elektoral sekaligus memperbesar peluang mereka dalam sebuah kontestasi.
"Dan partai politik kan sering ngambil untung," tuturnya.
Baca Juga: Curhat Guru Viral Protes Disuruh 'Endus' MBG: Kita Mau Ngajar, Bukan Jadi Anjing Pelacak
Bagi partai, figur seperti poliitkus itu dapat menjadi pilihan apabila kalkulasi elektoral menunjukkan bahwa dukungan terhadapnya masih cukup kuat untuk membawa keuntungan dalam pertarungan di Pilpres 2029.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: