Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Duet Prabowo-Gibran Diprediksi Tak Lanjut di 2029: Belum Ada Sejarahnya Pasangan Periode Pertama...

Duet Prabowo-Gibran Diprediksi Tak Lanjut di 2029: Belum Ada Sejarahnya Pasangan Periode Pertama... Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka berpotensi tidak kembali mendampingi Presiden Prabowo Subianto pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029. Salah satu pertimbangannya adalah pola politik yang belum pernah mencatat pasangan presiden dan wakil presiden pada periode pertama kembali maju sebagai pasangan yang sama pada periode kedua di Indonesia.

Pengamat Politik Hendri Satrio menilai fakta tersebut patut diperhitungkan ketika membicarakan kemungkinan Prabowo-Gibran pada 2029.

Baca Juga: BGN Soal Sekolah Menolak MBG: Kita Harus Arif, Ini Bukan Soal Suka atau Tidak Suka

Menurutnya, jika sang presiden kembali maju sebagai calon presiden, belum tentu politikus muda itu otomatis menjadi pilihan untuk kembali mendampinginya. Ada banyak pertimbangan politik yang dapat membuat konfigurasi pasangan berubah.

"Belum ada sejarahnya pasangan presiden, wakil presiden periode pertama itu ada di periode kedua. Belum ada juga," ujar Hendri, dikutip Selasa (22/9/2026).

Pernyataan tersebut memberikan gambaran bahwa skenario keduanya maju bersama dalam jilid dua masih jauh dari kepastian. Bahkan, secara historis, belum terdapat contoh pasangan presiden dan wakil presiden yang kembali tampil sebagai pasangan yang sama untuk memenangkan periode kedua dalam sistem pemilihan langsung di Indonesia.

Jika Prabowo kembali maju pada pilpres mendatang, posisi politikus muda itu tentu tetap menjadi salah satu opsi. Namun, keputusan tersebut tidak hanya bergantung pada hubungan politik keduanya.

Prabowo harus mempertimbangkan komposisi partai pendukung, kebutuhan koalisi, kekuatan elektoral, serta potensi dampak pilihan cawapres terhadap peta politik setelah 2029.

Hendri sebelumnya juga menilai mempertahankan politus muda itu bukan tanpa konsekuensi bagi Gerindra. Menurutnya, pilihan tersebut dapat memperkuat parpol lain, seperti kekuatan politik yang berada dalam bayang-bayang Golkar.

"Sama, kalau dia mengambil Gibran. Itu bisa jadi membahayakan Gerindra. Dan membesarkan pihak yang dalam bayang-bayang Golkar," ujarnya.

Hendri juga melihat persoalan cawapres tidak dapat dipisahkan dari kebutuhan seorang presiden untuk menjaga stabilitas politik hingga masa jabatan berakhir.

Seorang presiden yang memasuki periode kedua tentu memiliki kepentingan untuk memastikan pemerintahan berjalan tanpa gangguan besar. Kondisi tersebut dapat memengaruhi keputusan mengenai siapa yang akan berada di sampingnya.

"Kenapa? Karena di periode kedua si presiden ini juga pengen landingnya smooth, aman, gak digangguin," tuturnya.

Pertimbangan tersebut membuat pilihan pasangan untuk periode kedua bisa saja berbeda dengan pasangan pada periode pertama.

Bagi Prabowo, Gibran kembali dapat memberikan kesinambungan pemerintahan. Namun, mempertahankan pasangan yang sama juga berarti mempertahankan konfigurasi kekuatan politik yang sudah terbentuk sejak awal pemerintahannya.

Baca Juga: Skenario Prabowo-Bahlil Dibayang-bayangi Porosnya Jokowi: Opsi Mungkin Secara Politik, Tapi...

Sebaliknya, mengganti cawapres membuka kesempatan bagi politikus itu untuk memperluas koalisi dan mengakomodasi kekuatan politik lain. Tetapi langkah tersebut juga dapat menimbulkan konsekuensi terhadap hubungan dengan kelompok politik yang selama ini berada di belakang pemerintahan.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar