BGN Soal Sekolah Menolak MBG: Kita Harus Arif, Ini Bukan Soal Suka atau Tidak Suka
Kredit Foto: Dokumentasi resmi BGN
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menegaskan perlunya sikap arif dari pihak sekolah dalam menyikapi pelaksanaan dari Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurutnya, penerapan program yang menjadi salah satu agenda utama pemerintah, tidak semestinya dipandang hanya berdasarkan persoalan suka atau tidak suka.
Sudaryono menjelaskan bahwa untuk sekolah negeri, keputusan terkait penerimaan program makan bergizi gratis pada prinsipnya harus diberlakukan secara menyeluruh. Ia mengatakan bahwa siswa harus kompak meski ada beberapa pihak yang tidak mau mengonsumsi makanan yang disediakan melalui program tersebut.
Baca Juga: Mau Dipermalukan Secara Nasional, Ini Delapan Tuntutan Soal Gugatan Ijazah Gibran bin Jokowi di MK
"Sampai saat ini, itu adalah kalau sekolah itu sekolah negeri kalau iya, iya semua. Kalau tidak, tidak semua," kata Sudaryono, dikutip Selasa (22/9/2026).
Ia kemudian kembali menegaskan prinsip yang sama ketika memberikan penjelasan mengenai kemungkinan adanya perbedaan sikap di dalam satu sekolah.
"Karena kalau ini kan masalah, memang kita terkait itu ya," tuturnya.
"Memang kalau ada satu dua misalnya keputusannya adalah saya sampaikan kalau iya, iya semua. Kalau tidak, tidak semua," jelasnya.
Menurut Sudaryono, persoalan penerimaan makan bergizi gratis tidak dapat dilepaskan dari kondisi sekolah sebagai sebuah lingkungan bersama. Ia menilai akan sulit apabila dalam satu sekolah terdapat perlakuan yang sangat berbeda antara siswa yang mendapatkan makanan makan bergizi gratis dan siswa lain yang tidak mendapatkannya.
Sudaryono memberikan gambaran mengenai kondisi tersebut. Menurutnya, tidak semestinya ada situasi ketika sebagian siswa makan bersama melalui program makan bergizi gratis, sementara siswa lainnya berada dalam kondisi sebaliknya.
"Tidak mungkin dalam satu sekolah itu semua ada yang teman makan kemudian dia tidak makan sendiri. Atau dia makan sendiri temannya semua tidak makan," paparnya.
Sudaryono, atas dasar itu, meminta seluruh pihak melihat program makan bergizi gratis secara lebih bijaksana. Ia menilai pembahasan mengenai program tersebut tidak seharusnya berhenti pada persoalan preferensi pribadi.
"Itu saya kira kita harus arif juga dalam pendidikan ini ya bukan hanya masalah suka apa tidak suka," terangnya.
BGN menegaskan bahwa program tersebut dirancang bukan sekadar sebagai penyedia makanan bagi siswa, tetapi sebagai bagian dari kebijakan pemerintah dalam memenuhi kebutuhan gizi anak-anak sekolah.
BGN menilai adanya perbedaan pilihan di antara siswa dalam satu sekolah perlu disikapi secara hati-hati. Persoalannya bukan semata-mata apakah seseorang menyukai atau tidak menyukai makanan maupun program tersebut, melainkan bagaimana pelaksanaannya dapat berjalan secara tertib di lingkungan pendidikan.
Baca Juga: KPK Hanya Punya Satu Minggu untuk Panggil Nusron Wahid Sebelum Digulung Publik
Bagi Sudaryono, makan bergizi gratis bukan hanya tentang selera individu, melainkan bagian dari kebijakan pendidikan dan pemenuhan gizi yang harus dipertimbangkan dengan kepentingan bersama.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: