Kredit Foto: KEK Industropolis Batang
Hubungan antara kampus vokasi dan industri di Kawasan Industri Kendal (KIK) mulai diarahkan lebih jauh. Perusahaan tidak hanya disiapkan sebagai tempat mahasiswa menjalani magang, tetapi juga didorong ikut masuk ke ruang kelas melalui tenaga praktisi.
Gagasan tersebut mengemuka dalam Workshop Kemitraan Strategis Politeknik Negeri dan Akademi Komunitas Negeri (AKN) se-Indonesia yang digelar di Politeknik Industri Furnitur dan Pengolahan Kayu (Polifurneka) Kendal, Rabu (23/9/2026).
Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) Beny Bandanadjaja mengatakan, keterlibatan industri dalam pendidikan vokasi perlu diperluas.
Menurut dia, perusahaan dapat mengirimkan praktisi atau tenaga ahli untuk membantu dosen memberikan gambaran mengenai pekerjaan dan kebutuhan kompetensi di lapangan.
“Industri di Kendal ini tidak hanya dijadikan tempat magang mahasiswa politeknik,” kata Beny dikutip, Kamis (24/9/2026).
Dengan pola tersebut, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman kerja ketika menjalani praktik di perusahaan. Mereka juga dapat memperoleh pengetahuan langsung dari orang yang sehari-hari bekerja di industri.
Beny mengatakan pola kerja sama tersebut dapat memperkuat keterhubungan antara pendidikan vokasi dan dunia industri. Forum di Kendal sendiri diikuti 44 politeknik, lima AKN, serta sejumlah sekolah vokasi.
Direktur Politeknik Negeri Semarang (Polines) Garup Lambang Goro mengatakan kebutuhan industri berkembang dengan cepat sehingga pendidikan perlu lebih responsif terhadap perubahan tersebut.
“Perkembangan di industri kadang-kadang lebih cepat daripada perkembangan di pendidikan,” ungkap Garup.
Menurut dia, kerja sama yang lebih dekat dengan perusahaan menjadi salah satu cara agar perguruan tinggi dapat mengetahui kompetensi yang benar-benar dibutuhkan di lapangan.
Masukan dari industri dapat digunakan untuk menyesuaikan kompetensi lulusan, sementara perguruan tinggi juga dapat memberikan kontribusi melalui penelitian terapan dan inovasi yang dapat digunakan perusahaan.
Artinya, hubungan kampus dan industri tidak lagi sebatas pola sederhana berupa mahasiswa masuk perusahaan untuk magang lalu kembali ke kampus. Kebutuhan industri mulai dibawa ke proses pembelajaran, sementara hasil riset dari kampus juga diarahkan agar dapat menjawab persoalan nyata di lapangan.
Kebutuhan tersebut semakin besar seiring pertumbuhan KIK. Direktur Eksekutif PT Kawasan Industri Kendal Didik Purbadi mengatakan kawasan yang berdiri sejak 2016 dan berstatus Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) sejak 2019 itu kini memiliki sekitar 140 tenant.
Baca Juga: Kemenperin Dorong Kawasan Industri di Daerah Segera Kantongi IUKI
Baca Juga: Heboh Impor Raw Sugar 150.000 Ton, Kemenperin Buka Suara
Dari jumlah tersebut, sekitar 40 industri telah beroperasi. Pertumbuhan jumlah perusahaan membuat kebutuhan tenaga kerja menjadi semakin beragam.
Executive Director KEK Kendal Juliani Kusumaningrum mengatakan perkembangan kawasan perlu diikuti kesiapan sumber daya manusia dengan kompetensi yang sesuai.
“Seiring dengan perkembangan kawasan dan semakin beragamnya aktivitas industri, kebutuhan terhadap sumber daya manusia dengan kompetensi yang sesuai juga semakin luas,” ujar Juliani.
Karena itu, kemitraan dengan pendidikan vokasi diarahkan mencakup lebih banyak aspek, mulai dari pengembangan kompetensi, magang, rekrutmen, penyusunan kurikulum, penelitian terapan hingga keterlibatan praktisi industri dalam pembelajaran.
Bagi kawasan industri yang terus berkembang, pola tersebut membuat kebutuhan tenaga kerja tidak hanya dijawab ketika perusahaan mulai merekrut. Kompetensi calon pekerja mulai dibentuk sejak mereka masih berada di bangku pendidikan.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Ilham Nurul Karim
Editor: Dian Ihsan