Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

BRIN: Pengelolaan Gambut Harus Seimbang antara Penanganan Karhutla dan Pemanfaatan Berkelanjutan

BRIN: Pengelolaan Gambut Harus Seimbang antara Penanganan Karhutla dan Pemanfaatan Berkelanjutan Kredit Foto: Muhammad Farhan Shatry
Warta Ekonomi, Jakarta -

Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria menekankan pentingnya merancang pengelolaan lahan gambut secara berkelanjutan, seiring kebutuhan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta pemanfaatan kawasan gambut untuk mendukung kehidupan masyarakat. 

Dalam pertemuan yang melibatkan sejumlah akademisi dan pakar dari berbagai perguruan tinggi itu, Arif menekankan bahwa pengelolaan gambut mencakup dua aspek utama, yakni penyelesaian persoalan karhutla dan perancangan pemanfaatan gambut secara berkelanjutan (sustainable use).

"Jadi gambut ini ada dua hal. Pertama tentu masalah karhutla yang harus kita selesaikan. Yang kedua adalah bagaimana sustainable use dari gambut," ujar Arif di Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (24/9/2026).

Arif menyebutkan, kawasan hidrologis gambut memiliki luasan sekitar 24 juta hektare. Ia juga menyinggung ketentuan pemanfaatan dan fungsi lindung kawasan gambut yang mengacu pada peraturan pemerintah.

"Kalau kita lihat kawasan hidrologis gambut itu kan 24 juta hektare ya. Dan berbasis pada peraturan pemerintah, pemanfaatan itu kan maksimum 70%. Dan fungsi lindung, minimum 30 persen," katanya.

Menurut Arif, ketentuan tersebut perlu diikuti dengan perencanaan pemanfaatan yang matang agar pengelolaan gambut tetap memperhatikan aspek keberlanjutan.

"Sehingga kita harus juga berpikirkan di satu sisi sustainable use ini harus benar-benar kita desain dengan baik," ujarnya.

Ia menambahkan, pengelolaan gambut juga berkaitan dengan kehidupan masyarakat yang tinggal di kawasan hidrologis gambut. Arif menyebut terdapat sekitar 41 juta penduduk yang hidup di kawasan tersebut.

"Karena di sana ada 41 juta penduduk yang hidup di kawasan hidrologis gambut," kata Arif.

Baca Juga: 174 Ribu Warga Terdampak Asap Karhutla, Ahmad Arif: Negara Gagal Lindungi Rakyat

Dengan mempertimbangkan aspek lingkungan dan kehidupan masyarakat, Arif menilai pembahasan bersama para ahli menjadi bagian penting dalam merumuskan pengelolaan gambut.

"Karena itu saya yakin hari ini Pak Presiden mengundang para ahli, para pakar untuk membahas masalah pengolahan gambut ini," ujarnya.

Pertemuan tersebut turut dihadiri akademisi dan pakar dari berbagai perguruan tinggi, termasuk BRIN, Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), serta sejumlah universitas lainnya.

Arif menyebutkan, para akademisi yang hadir berasal dari berbagai institusi dan memiliki latar belakang keilmuan yang relevan dengan pembahasan gambut.

"Akademisinya ada dari BRIN, kemudian dari IPB, dari UI, dari ITB. Kemudian juga ada beberapa dari Universitas Tanjungpura dan beberapa kampus ya. Tadi saya melihat daftar yang ada," kata Arif.

Sejumlah nama yang tercantum dalam daftar peserta di antaranya Bagus Muljadi dari Nottingham University, Azwar Maas dan Bambang Kun Cahyono dari UGM, Zakaria Amsari dari Universitas Tanjungpura, Haris Gunawan dan Sigit Sutikno dari Universitas Riau (UNRI), serta Darmae Nasir dan Henrik Segah dari Universitas Palangka Raya. Selain itu, terdapat akademisi dari UI, ITB, IPB, Universitas Jambi, Universitas Lambung Mangkurat, dan BRIN.

Dalam kesempatan tersebut, Arif juga memberikan penjelasan mengenai inovasi pemadaman kebakaran yang menggunakan ubi, yang saat ini masih dalam tahap pengujian.

Ia mengatakan, BRIN bersama Kepolisian Republik Indonesia (Polri) terus melakukan uji coba terhadap inovasi tersebut. Pengujian dilakukan untuk melihat kemungkinan pemanfaatannya secara lebih luas.

"Ya. Itu masih terus diuji coba. Kita rutin dengan Polri sudah bekerja sama dan sudah diuji terus ya sampai saat ini," ujar Arif.

Ketika ditanya apakah inovasi pemadaman berbasis ubi tersebut sudah diterapkan secara luas, Arif menegaskan bahwa teknologi itu masih dalam tahap pengembangan dan belum dimanfaatkan secara operasional secara masif.

"Ini belum. Jadi proses uji yang kita lakukan di Serpong," katanya.

Arif menambahkan, salah satu langkah yang sedang dipersiapkan adalah pengembangan pemanfaatan inovasi tersebut dalam skala yang lebih besar.

"Dan tentu yang sekarang sedang kita siapkan adalah bagaimana pemanfaatan secara lebih masif lagi," ujarnya.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Istihanah
Editor: Istihanah