Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

IHSG Rawan Tertekan, Tekanan Global dan Rupiah Jadi Perhatian Investor

IHSG Rawan Tertekan, Tekanan Global dan Rupiah Jadi Perhatian Investor Kredit Foto: Muhammad Adimaja
Warta Ekonomi, Jakarta -

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak mixed-to-cautious pada perdagangan Jumat (25/9/2026). Secara teknikal, IHSG telah dua kali menguji batas Moving Average (MA) 60 hari sehingga momentum penguatan mulai mereda.

Senior Technical Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta mengatakan MA20 dan MA60 masih menunjukkan positive crossover. Namun, Stochastics K_D dan RSI memberikan sinyal negatif, disertai penurunan volume. 

"IHSG memiliki support di 6.254 dan 6.146, sementara resistance berada di 6.352 dan 6.429," ujar dia dalam riset hariannya.

Tekanan juga datang dari aksi jual asing. Pada perdagangan sebelumnya, net foreign sell mencapai Rp1,42 triliun, sementara secara kumulatif sepanjang 2026 telah mencapai Rp102,97 triliun. 

Dalam kondisi tersebut, Nafan menyarankan investor lebih selektif dengan mempertimbangkan saham berfundamental solid, valuasi murah, dan yang mulai menunjukkan tanda pembalikan tren, disertai manajemen risiko yang disiplin.

Dari global, pasar masih dibayangi kenaikan harga minyak, lonjakan imbal hasil US Treasury, serta ekspektasi kebijakan The Fed yang lebih ketat. Imbal hasil US Treasury 10 tahun naik 1,74% ke 5,205%, didorong aktivitas ekonomi AS yang kuat dan tekanan inflasi akibat kenaikan energi. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama atau kembali naik.

CME FedWatch mencatat probabilitas kenaikan suku bunga 25 basis poin pada pertemuan The Fed 28 Oktober 2026 mencapai 70,86%, naik dari 68,64% sehari sebelumnya. Sementara itu, harga minyak Brent melonjak 3,86% menjadi US$107,06 per barel setelah belum ada terobosan diplomatik antara AS dan Iran. 

"Harga energi yang tinggi berpotensi menaikkan biaya transportasi dan produksi, menjaga tekanan inflasi, serta mempersempit ruang pelonggaran moneter bank sentral," jelas Nafan.

Investor juga, bilang dia, mencermati pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Washington yang membahas perdagangan dan tarif, Taiwan, Iran dan energi, ekspor rare earth China, pembelian produk pertanian, penjualan chip AS ke China, serta regulasi AI. 

"Stabilitas hubungan kedua negara dapat meredakan ketidakpastian global, sedangkan ketegangan baru berpotensi kembali menekan pasar. Bagi Indonesia, perubahan risk appetite global dapat memengaruhi arus modal asing, rupiah, harga komoditas, serta saham berbasis ekspor dan komoditas," kata Nafan.

Baca Juga: IHSG Dibuka Merah, Turun 0,16% ke Level 6.364,97

Baca Juga: Investor Asing Buang Saham Rp2,74 Triliun, BMRI hingga BBRI Jadi Sasaran Jual

Baca Juga: Ini Daftar 59 Saham HSC di BEI, Ada Punya Kamu?

Dari domestik, BI Rate 5,75% menjadi salah satu penyangga pasar karena membantu menjaga stabilitas moneter sekaligus memberi ruang bagi pertumbuhan kredit. Namun, BI masih melihat tingginya ketidakpastian global, dengan kenaikan harga minyak dan potensi kenaikan suku bunga The Fed menjadi risiko bagi rupiah.

Rupiah telah melemah 0,59% ke Rp17.900,5 per dolar AS. Kondisi ini dapat meningkatkan beban emiten dengan utang valuta asing sekaligus membatasi ruang BI untuk melonggarkan kebijakan moneter.

Sentimen domestik juga dipengaruhi penyesuaian posisi investor menjelang aturan baru batas minimum harga saham. Mulai Senin (28/9/2026), batas minimum harga saham Rp50 akan digantikan menjadi Rp1.

"Dengan sinyal teknikal yang melemah, aksi jual asing yang masih besar, tekanan rupiah, serta ketidakpastian global, investor diperkirakan tetap berhati-hati terhadap pergerakan IHSG," tutup Nafan.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Dian Ihsan
Editor: Dian Ihsan