Rupiah Dibuka Melemah Rp17.903 per USD, Pasar Soroti Kenaikan Harga Minyak Dunia
Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di pasar spot tertekan di awal perdagangan hari ini. Senin (28/9/2026). Mata uang Garuda dibuka di level Rp17.940 per dolar Amerika Serikat (AS).
Ini membuat rupiah melemah 0,21% dibandingkan dengan penutupan Jumat (25/9/2026) di level Rp17.903 per dolar AS. Pergerakan rupiah sejalan dengan mayoritas mata uang di Asia.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan ntuk perdagangan Senin ini mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp17.900 - Rp17.950 per dolar AS.
"Sedangkan untuk perdagangan pekan depan di Range Rp17.800-Rp18.100," kata Ibrahim kepada wartawan.
Ibrahim mengatakan penguatan rupiah ditopang oleh pelambatan eonomi akibat lonjakan harga minyak.
Lembaga keuangan global, International Monetar Fund (IMF) mengingatkan semua pemangku kepentingan dunia akan kondisi ekonomi global yang bakal semakin tertekan. Konflik yang berkaitan dengan Iran dan gangguan pasokan energi telah meningkatkan tekanan inflasi global sejak Februari.
"Kondisi tersebut mendorong bank sentral di berbagai negara untuk menaikkan suku bunga guna mengendalikan kenaikan harga," kata dia.
Namun, kebijakan suku bunga yang lebih tinggi juga meningkatkan biaya pinjaman pemerintah. Peningkatan beban bunga utang berpotensi mempersempit ruang fiskal negara untuk memberikan stimulus atau meredam dampak ekonomi apabila harga energi kembali melonjak.
Guna untuk meredam kondisi tersebut maka Kementerian Keuangan dan Gubernur Bank Indonesia melakukan kolaborasi fiscal dan moneter guna untuk meredam pelemahan mata uang rupiah,
Pertama, optimalisasi pertumbuhan ekonomi dengan memaksimalkan instrumen kebijakan fiskal dan moneter secara padu guna menopang laju pertumbuhan ekonomi nasional.
Baca Juga: IHSG Dihantui Suku Bunga Tinggi, Harga Minyak dan Rupiah Jadi Perhatian
Baca Juga: Jelang Akhir Pekan, Rupiah Ditutup Menguat di Level Rp17.903 per USD
Kedua adalah penguatan Sektor Eksternal menjaga stabilitas dari potensi gejolak eksternal pada sektor perdagangan dan aliran modal asing (capital inflows).
Ketiga, pengelolaan Likuiditas Perekonomian adalah memastikan kecukupan likuiditas di pasar uang, perbankan, dan sektor riil, termasuk merespons dinamika perebutan dana yang memicu kenaikan beban biaya dana (cost of fund).
Keempat yakni pengendalian Inflasi dengan memperkuat koordinasi penanganan inflasi melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP/TPID).
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: