Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Dolar Digdaya Jadi Rp18.000, Ekonom INDEF Mengendus Salah Satunya Dipicu oleh Pidato Seorang Presiden

Dolar Digdaya Jadi Rp18.000, Ekonom INDEF Mengendus Salah Satunya Dipicu oleh Pidato Seorang Presiden Kredit Foto: Wafiyyah Amalyris K
Warta Ekonomi, Jakarta -

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Berly Martawardaya mengungkapkan bahwa kurs dolar Amerika Serikat kembali menembus level Rp18.000 per dolar. Menurutnya, pelemahan rupiah beberapa hari terakhir merupakan indikasi kondisi ekonomi yang kurang sehat.

“Kurs dolar kembali tembus 18 ribu. Ibarat suhu badan yang naik adalah indikasi badan yang kurang sehat,” ujar Berly Martawardaya.

Ia menjelaskan, melemahnya nilai tukar rupiah bisa disebabkan oleh satu faktor atau kombinasi beberapa kondisi sekaligus, diantaranya, impor meningkat, terutama karena harga migas naik seiring tensi antara Amerika Serikat dan Iran (tersangka utama).

"Ekspor turun dilihat dari data perdagangan September baru akan keluar 1 November. Capital outflow meningkat, terlihat dari IHSG yang turun dan T-bill rate yang naik, diduga ada flight to safety. Capital inflow menurun, kemungkinan karena ekspektasi pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah di kuartal III," jelasnya.

Berly menilai situasi ekonomi akan dinamis dalam seminggu ke depan.

Selain pelemahan rupiah, harga minyak mentah Brent, Dubai Crude, dan MOPS Singapore (dua terakhir banyak dibeli Indonesia) menunjukkan tren naik tajam dalam sebulan terakhir. Kenaikan ini sejalan dengan meningkatnya tensi konflik antara AS dan Iran.

Pernyataan Presiden AS Donald Trump dalam pidato di Sidang Umum PBB minggu lalu juga dinilai tidak menenangkan pasar minyak. Trump menyampaikan dua pilihan keras:

“Will a deal be made with Iran that lets them rebuild and create a far greater country than it ever was before? Or do I annihilate the Islamic Republic and do it quickly, never giving them a chance to kill and destroy people and countries again?”

Trump juga menolak tawaran gencatan senjata dari Iran. Dengan pemilu mid-term Amerika Serikat yang tinggal sekitar lima minggu lagi, probabilitas Trump memerintahkan serangan yang bisa diklaim sebagai kemenangan semakin meningkat, demi mempertahankan mayoritas partainya di Kongres dan Senat.

"Indonesia ikut merasakan dampaknya. Selain kurs dolar yang menguat, harga BBM non-subsidi juga berpotensi naik," tegasnya.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Ferry Hidayat
Editor: Ferry Hidayat