Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Target Pertumbuhan RI 2027 6%, Airlangga: Ini PR-nya Menteri Investasi

Target Pertumbuhan RI 2027 6%, Airlangga: Ini PR-nya Menteri Investasi Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Warta Ekonomi, Jakarta -

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyebut pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 6% pada 2027. Untuk mencapai target tersebut, investasi menjadi salah satu faktor yang perlu diperkuat dengan target penanaman modal sebesar Rp2.258 triliun.

Airlangga mengatakan investasi perlu tumbuh di kisaran 8–9% untuk mendukung pencapaian target pertumbuhan ekonomi tersebut. Ia menyebut peningkatan investasi menjadi pekerjaan bagi Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Perkasa Roeslani.

"Untuk itu pertumbuhan ekonomi didorong untuk tumbuh 6% di tahun 2027, di mana investasi ini PR-nya Pak Menteri Investasi dan Hilirisasi, ses-nya yang harus bekerja keras, harus tumbuh 8 sampai 9% dengan penanaman modalnya 2.258 triliun," ujar Airlangga di Jakarta, Selasa (29/9/2026).

Target investasi tersebut menjadi bagian dari agenda pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi melalui penguatan sektor industri, hilirisasi, serta pengembangan sektor-sektor strategis lainnya.

Baca Juga: DPR Sahkan RAPBN 2027 Jadi UU, Pertumbuhan Ekonomi Ditargetkan 6%

Baca Juga: Ekspor Furnitur RI Masih Bergantung AS, Airlangga Dorong Cari Pasar Baru

Sebagai gambaran, realisasi investasi menjadi salah satu indikator yang akan menentukan pencapaian target tersebut. Pada Semester I 2026, realisasi investasi tercatat mencapai Rp1.010,6 triliun atau sekitar 49,5% dari target investasi nasional 2026 sebesar Rp2.041,3 triliun.

Berdasarkan data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, realisasi penanaman modal asing (PMA) pada Triwulan II 2026 tercatat sebesar Rp257,7 triliun atau 50,4% dari total investasi, sementara penanaman modal dalam negeri (PMDN) mencapai Rp254,1 triliun atau 49,6%.

Dari sisi negara asal investasi, Hong Kong menjadi penyumbang PMA terbesar pada periode tersebut, disusul Singapura, Republik Rakyat Tiongkok, Jepang, dan Malaysia. Kelima negara tersebut berkontribusi sebesar 79,6% terhadap total investasi asing yang masuk ke Indonesia.

Sementara dari sisi wilayah, investasi di luar Pulau Jawa masih mendominasi dengan nilai Rp256,5 triliun atau 50,1%, sedangkan investasi di Pulau Jawa mencapai Rp255,3 triliun atau 49,9%.

Adapun lima provinsi dengan realisasi investasi terbesar pada Triwulan II 2026 adalah DKI Jakarta sebesar Rp94,9 triliun, Jawa Barat Rp61,3 triliun, Maluku Utara Rp40,2 triliun, Jawa Timur Rp40,1 triliun, dan Sulawesi Tengah Rp36,6 triliun.

Secara kumulatif, realisasi investasi Semester I 2026 untuk PMA mencapai Rp507,6 triliun atau 50,2%, sedangkan PMDN sebesar Rp502,9 triliun atau 49,8%.

Dari sisi persebaran wilayah, investasi di luar Pulau Jawa mencapai Rp507,8 triliun atau 50,2%, lebih tinggi dibandingkan investasi di Pulau Jawa yang tercatat sebesar Rp502,8 triliun atau 49,8%.

Berdasarkan sektor usaha, realisasi investasi Semester I 2026 masih didominasi oleh industri logam dasar, barang logam, bukan mesin dan peralatannya. Sektor lain yang menjadi penyumbang utama berasal dari jasa lainnya, pertambangan, transportasi, pergudangan dan telekomunikasi, serta perumahan, kawasan industri, dan perkantoran.

Hilirisasi Masih Jadi Motor Investasi

Pemerintah terus mendorong hilirisasi sebagai salah satu strategi transformasi ekonomi nasional. Pada Semester I 2026, realisasi investasi sektor hilirisasi mencapai Rp300,1 triliun atau 29,7% dari total investasi nasional.

Investasi hilirisasi masih didominasi oleh komoditas mineral, seperti bauksit, nikel, tembaga, besi baja, dan pasir silika yang diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah industri nasional.

“Realisasi investasi di bidang hilirisasi untuk triwulan kedua ini angkanya Rp152,7 triliun atau meningkat 5,7% (YoY), dan total realisasi investasinya ini hampir mencapai 30% atau 29,8% dari total realisasi investasi di triwulan kedua tahun 2026. Kalau kita lihat biasanya itu nikel yang menjadi nomor satu. Nah ini ada shifting, bauksit sekarang menjadi nomor satu. Karena memang ada beberapa pembangunan bauksit, baik yang dilakukan oleh penanam modal dalam negeri maupun luar negeri, sehingga bauksit untuk pertama kalinya mengambil tempat nomor satu. Tapi harapannya tetap ingin mendorong hilirisasi turunan dari kelapa sawit dan lain-lainnya,” papar Rosan dalam keterangan resmi.

Rosan menegaskan pemerintah akan terus menjaga momentum investasi melalui penyederhanaan perizinan berusaha, penguatan ekosistem investasi, percepatan pembangunan kawasan industri dan hilirisasi, serta peningkatan kualitas pelayanan kepada investor.

Kebutuhan Energi Jadi Penopang Pertumbuhan

Selain investasi, Airlangga juga menyoroti kebutuhan energi sebagai salah satu faktor pendukung pertumbuhan ekonomi ke depan.

Airlangga menyebut keandalan dan keterjangkauan pasokan energi menjadi faktor penting, terutama seiring berkembangnya sektor berbasis teknologi seperti artificial intelligence (AI), digitalisasi, dan pusat data.

"Nah dengan demikian kalau energinya tersedia, maka untuk mendukung artificial intelligence atau digitalisasi, data center itu menjadi sangat penting dan data center ini adalah industri yang momentumnya 3 sampai 4 tahun ke depan," lanjutnya.

Dengan asumsi target pertumbuhan ekonomi 8%, kebutuhan energi Indonesia pada 2030 diperkirakan mencapai 700–800 terawatt hour (TWh). Jumlah tersebut lebih dari dua kali lipat dibandingkan konsumsi listrik nasional saat ini yang tercatat oleh PT PLN (Persero) sebesar 317 TWh.

"Untuk itu, tentu keandalan dan keterjangkauan pasokan energi menjadi penting, dan kebutuhan energi diperkirakan di tahun 2030 antara 700 sampai 800 terawatt hours," ujar Airlangga.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra