Kredit Foto: Ist
Founder & CEO Hive Five Dr. Sabar L. Tobing, SE., MM., Ak., CA., CTL., CTAP., BKP. menilai nama besar perguruan tinggi bukan jaminan seseorang akan berhasil dalam dunia profesional.
Menurut dia, kompetensi, integritas, pola pikir, serta kemauan untuk terus berkembang menjadi faktor penting yang menentukan perjalanan seseorang setelah menyelesaikan pendidikan tinggi.
Hal itu disampaikan Sabar dalam kuliah umum di Universitas Sumatera Utara (USU) bertajuk “The Future of Taxation: AI, Digital Transformation & the Future of Tax Professionals”. Kegiatan tersebut dihadiri lebih dari 250 mahasiswa USU.
“Nama kampus tidak menjamin kesuksesan. Kompetensi, integritas, pola pikir, dan kemauan untuk terus berjuang menjadi bekal utama dalam membangun masa depan,” kata Sabar.
Ia mengatakan perguruan tinggi seharusnya tidak hanya menjadi tempat memperoleh gelar. Masa kuliah perlu dimanfaatkan mahasiswa untuk membangun pola pikir, kemampuan analitis, karakter, serta kesiapan menghadapi dunia profesional.
Menurut Sabar, mahasiswa juga perlu memperdalam keahlian secara terarah. Penguasaan banyak bidang, kata dia, tidak selalu memberikan nilai lebih apabila tidak diikuti kedalaman kompetensi.
“Mahasiswa perlu memperdalam ilmu secara terarah dan membangun keahlian yang kuat, bukan sekadar menguasai banyak hal tanpa kedalaman kompetensi,” ujarnya.
Tujuh kompetensi untuk dunia kerja
Dalam pemaparannya, Sabar menyebut sedikitnya terdapat tujuh kompetensi fundamental yang perlu dipersiapkan mahasiswa untuk menghadapi perubahan kebutuhan industri.
Kompetensi tersebut meliputi penguasaan dasar-dasar akuntansi, literasi kecerdasan buatan atau AI literacy, penguasaan data dan teknologi, kemampuan komunikasi dan bahasa Inggris, integritas serta etika profesional, pemahaman proses bisnis, hingga kemampuan mengintegrasikan seluruh kompetensi tersebut dalam menyelesaikan persoalan di dunia kerja.
“Perusahaan membutuhkan lulusan yang tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu menerapkan teknologi dalam menyelesaikan permasalahan bisnis,” ujarnya.
Menurut dia, perkembangan teknologi juga membuat kemampuan mengolah data semakin dibutuhkan. Hal tersebut berlaku pula pada sektor perpajakan yang terus beradaptasi dengan transformasi digital dan pemanfaatan kecerdasan buatan.
Pemerintah dan Direktorat Jenderal Pajak (DJP), lanjut Sabar, terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi untuk mendukung efisiensi sistem perpajakan.
Karena itu, mahasiswa yang ingin membangun karier di sektor perpajakan perlu mempersiapkan kemampuan yang lebih luas dibandingkan hanya memahami regulasi dan teori perpajakan.
Personal branding bangun kepercayaan
Selain kemampuan teknis, Sabar menyoroti pentingnya personal branding bagi mahasiswa.
Menurut dia, personal branding berperan dalam membangun kepercayaan, memperluas jaringan, serta membuka peluang profesional. Namun, ia menekankan bahwa citra profesional harus ditopang oleh kompetensi yang nyata.
“Personal branding menjadi salah satu faktor penting untuk membangun trust, memperluas jaringan, serta membuka peluang dan kesempatan profesional,” ucapnya.
Menurut dia, kompetensi dan karakter tetap menjadi fondasi utama. Nama universitas dapat menjadi bagian dari perjalanan seseorang, tetapi hasil akhirnya akan banyak ditentukan oleh kemampuan individu dalam mengembangkan diri.
Pernah gagal kuliah di USU karena keterbatasan biaya
Dalam kuliah umum tersebut, Sabar juga membagikan perjalanan hidupnya kepada mahasiswa. Ia mengatakan berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi dan pernah memperoleh kesempatan masuk USU melalui jalur beasiswa.
Namun, saat itu ia tidak dapat melanjutkan pendidikan karena terkendala biaya. Sabar kemudian memilih merantau ke Jakarta dan menjalani pekerjaan sambil melanjutkan pendidikan.
Pengalaman itu, menurut dia, menjadi bagian dari proses panjang hingga kemudian membangun bisnis yang berkembang menjadi perusahaan dengan 13 cabang dan ratusan karyawan.
“Kegagalan di masa lalu bukanlah akhir dari perjalanan, tetapi bagian dari proses menuju kesuksesan,” jelasnya.
Pengalaman tersebut juga menjadi alasan dirinya menekankan pentingnya daya juang kepada mahasiswa. Menurut dia, keterbatasan tidak seharusnya membuat seseorang berhenti membangun kompetensi maupun mengejar pendidikan.
Kampus dan industri perlu berkolaborasi
Sabar juga menyoroti perlunya kolaborasi yang lebih kuat antara perguruan tinggi dan dunia industri, khususnya dalam mempersiapkan lulusan yang sesuai dengan kebutuhan lapangan kerja.
Menurut dia, penguatan kurikulum modern, praktik lapangan, program magang, serta pengembangan Tax Center di lingkungan kampus dapat menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesiapan mahasiswa.
“Kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri perpajakan diperlukan untuk mempersiapkan lulusan yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja,” ujarnya.
Program magang, lanjut dia, dapat menjadi pintu masuk bagi mahasiswa untuk mengenal lingkungan profesional, memperoleh pengalaman praktis, sekaligus membangun jaringan untuk pengembangan karier.
Berikan beasiswa penuh hingga lulus
Pada kesempatan tersebut, Dr. Sabar L. Tobing, juga menyampaikan pemberian beasiswa penuh 100 persen hingga lulus kepada mahasiswa USU yang terpilih.
Program tersebut diharapkan dapat memperluas akses terhadap pendidikan dan membantu mahasiswa menyelesaikan pendidikan tinggi. Bagi Sabar, pengalaman pribadinya menghadapi keterbatasan ekonomi menjadi salah satu alasan pentingnya membuka kesempatan pendidikan bagi mahasiswa.
Ia kembali menekankan bahwa keberhasilan mahasiswa pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh institusi tempat mereka belajar, melainkan oleh kompetensi, integritas, karakter, serta kemauan untuk terus mengembangkan diri.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Ferry Hidayat
Editor: Ferry Hidayat
Tag Terkait: