Putra Mantan Menteri BUMN ini Blak-Blakan Mengaku: 'Saya Tidak Pernah Punya Ijazah SMA, Jujur, Silakan Cek!'
Kredit Foto: Istimewa
Putra mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan, Azrul Ananda blak-blakan kalau dirinya Tidak Pernah Lulus SMA. Ia jujur mengakui: "Saya mengaku terus terang dan blakblakan: Saya tidak pernah lulus SMA," kata Azrul dalam catatannya di akun media sosialnya.
"Saya tidak pernah punya ijazah SMA. Jujur. Seratus persen. Silakan cek ke sekolah di seluruh dunia. Azrul Ananda tidak punya ijazah SMA. Bahkan, seumur hidup ini, saya hanya pernah setahun duduk di bangku SMA," jelasnya.
Ia menceritakan sewaktu SMP di Surabaya, orang tuanya berusaha keras agar saya dan adik saya untuk melanjutkan ke luar negeri secepatnya. Karena waktu itu pekerjaannya di dunia jurnalistik penuh dengan ancaman, penuh dengan risiko.
"Abah saya tidak ingin saya seperti dia. Abah ini bisa ditangkap kapan saja", ucapnya.
Masalahnya waktu itu, keluarga kami belum punya banyak uang. Tidak bisa begitu saja dengan mudah menerbangkan anak ke luar negeri.
"Pada suatu waktu, dia menunjukkan sebuah iklan di koran. Ada sebuah institusi pendidikan internasional yang menawarkan program pertukaran SMA di Amerika. Saya tinggal mengambil tes dan menjalani interviu. Usia waktu itu 15 tahun, sudah kelas 3 SMP," jelasnya.
"Tes pertukaran pelajar. Ternyata saya diterima!," jelasnya.
Waktu itu, ada 80 anak Indonesia yang berangkat ke Amerika. Satu pesawat naik Garuda dari Jakarta ke Los Angeles. Transit di Denpasar, Biak, dan Honolulu.
Sampai di Amerika, kami melanjutkan ke sebuah kota kecil di dekat Seattle, negara bagian Washington.
Kami semua mendapatkan amplop. Isinya informasi kami akan dikirim ke mana. Semua akan disebar ke berbagai penjuru Amerika. Rata-rata ke kota-kota kecil di negara-negara bagian yang "tidak umum".
Saya? Saya dapat negara bagian Kansas, sempat singgah di sebuah rumah sementara di kota Lyon (penduduk 5.000), sebelum geser ke Ellinwood (penduduk 2..800). Letaknya pas tengah-tengah Kansas. Pas tengah-tengah Amerika.
Saya sampai di rumah keluarga angkat saya cukup malam. Sekitar pukul 21.00. Saya diterima di keluarga John dan Chris Mohn. Mereka punya anak perempuan yang setahun lebih senior dari saya, Andrea.
Kata John, tahun sebelumnya mereka menerima siswa pertukaran asal Spanyol. Namun anaknya terbilang merepotkan dan mereka sempat tidak mau lagi menampung siswa pertukaran. Tapi rupanya Andrea kasihan sama saya. Anak kurus banget (47 kg) yang harus dibantu, katanya.
Mereka keluarga pemilik koran setempat, Ellinwood Leader. Sekaligus mengajar di Ellinwood High School. Chris jadi guru bahasa Spanyol dan pelatih Quiz Bowl. John pengajar English dan Journalism. Andrea termasuk aktif jadi pengurus berbagai kegiatan sekolah, khususnya teater.
Selama setahun, keluarga inilah yang menghidupi saya. Menyediakan tempat tinggal, makan, dan lain sebagainya. Setelah saya ingat-ingat, selama setahun itu, Abah saya hanya memberi saya USD 250. Itu saja. Uang saku lain saya dapat dengan membantu John bekerja di korannya, juga membantu melatih program sepak bola anak-anak kelas 1-2 SD saat weekend.
Ya , anak yang dijauhkan dari Indonesia karena Abah-nya terancam di dunia media justru ditampung oleh pekerja media lain. Ya, saya benar-benar melatih sepak bola anak-anak SD Ellinwood. Lumayan, USD 15 per jam.
Nah, waktu pertama kali masuk SMA di Ellinwood itulah, John mengarahkan saya ke keputusan yang pada kemudian hari mengakibatkan saya tidak punya ijazah SMA.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Ferry Hidayat
Editor: Ferry Hidayat