Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Ini 2 Poin Krusial yang Bikin Prabowo dan Gibran Disebut Tak Sejalan soal MBG

Ini 2 Poin Krusial yang Bikin Prabowo dan Gibran Disebut Tak Sejalan soal MBG Kredit Foto: ChatGPT/Al Musthafa Gustar's
Warta Ekonomi, Jakarta -

Peneliti Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), Saidiman Ahmad, menilai Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka memiliki pandangan yang berbeda terkait implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Ia menyoroti pernyataan Gibran yang menyarankan para korban dugaan keracunan MBG di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, untuk sementara membawa bekal dari rumah dan tidak mengonsumsi MBG.

"Wapres ke korban MBG: "Kamu hari ini pulang, besok sekolah, ya. Nanti bawa bekal dari rumah. MBG jangan dimakan."," tulis Saidiman di akun X pribadinya, dikutip Rabu (30/9).

Menurut Saidiman, pernyataan tersebut menunjukkan adanya perbedaan pandangan antara presiden dan wakil presiden terkait pelaksanaan program MBG.

"Ternyata presiden dan wakil presiden memiliki pandangan yang berbeda soal implementasi program MBG. Wapres menginginkan target MBG hanya pada kelompok masyarakat dengan tingkat ekonomi terendah, sementara presiden ingin semua diberi makan," ujarnya.

Ia juga menyoroti perbedaan pandangan terkait mekanisme pelaksanaan program tersebut.

"Wapres ingin pelaksanaan MBG melibatkan dapur-dapur warga di sekitar sekolah seperti kantin sekolah, sementara pelaksanaannya justru menggunakan konsep dapur terpusat yang sebagian besarnya dikelola militer dan polisi," lanjutnya.

Menurut Saidiman, yang menarik adalah perbedaan pandangan tersebut disampaikan secara terbuka kepada publik.

"Dari sekian lembar tafsir politik yang bisa dibaca dari sini, yang paling penting untuk sementara adalah bahwa ternyata kekuasaan Prabowo tidak sepenuhnya terkonsolidasi di kalangan elit," ucapnya.

Baca Juga: Kejagung Serahkan Eks Bos BGN dan 5 Tersangka Korupsi MBG, Kerugian Negara Capai Rp10 Triliun

Ia menilai menurunnya legitimasi politik presiden di tingkat akar rumput, sebagaimana tergambar dalam sejumlah survei opini publik, berpotensi memengaruhi loyalitas di kalangan elite politik.

"Ungkapan Wapres pada korban MBG ini, lalu pidato ketua Demokrat tentang demokrasi, juga pernyataan Ketua PAN mengenai MBG adalah gejala politik yang penting dibaca dalam satu tarikan nafas," tandasnya.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya