AI Haus Air, Data Center Bisa Habiskan 25,5 Juta Liter per Tahun
Kredit Foto: PLN
Perkembangan kecerdasan buatan (AI) membawa konsekuensi lingkungan yang tidak hanya berkaitan dengan konsumsi listrik. Di balik pengoperasian model AI, pusat data membutuhkan air dalam jumlah besar untuk menjaga suhu mesin tetap stabil.
World Economic Forum (WEF) mengungkapkan data center dengan kapasitas 1 megawatt (MW) dapat menggunakan hingga 25,5 juta liter air per tahun untuk kebutuhan pendinginan. Volume tersebut setara dengan konsumsi air harian sekitar 300.000 orang.
Kebutuhan air yang besar menjadi persoalan tersendiri, terutama ketika data center dibangun di wilayah yang telah menghadapi tekanan terhadap ketersediaan air.
Air digunakan dalam sejumlah teknologi pendinginan data center, mulai dari chiller dan cooling tower hingga sistem liquid cooling. Konsumsi air juga dapat muncul secara tidak langsung dari pembangkit listrik yang memasok energi ke pusat data, terutama pembangkit yang menggunakan air dalam proses produksinya.
WEF memperkirakan data center berkapasitas 15 MW dapat menghabiskan air dalam setahun setara kebutuhan tahunan tiga rumah sakit berukuran rata-rata atau lebih dari dua lapangan golf 18 lubang.
Besarnya penggunaan air tersebut juga dipengaruhi oleh keterbatasan sistem penggunaan kembali air. Dalam proses pendinginan, sebagian air tawar menguap, sedangkan sebagian lainnya menjadi air limbah yang dapat mengandung debu, bahan kimia, dan mineral.
Kondisi itu membuat air bekas pendinginan tidak selalu bisa langsung dikembalikan ke sistem. Kandungan tertentu dalam air limbah berpotensi menurunkan efisiensi perangkat pendingin.
Pertumbuhan model AI dengan kebutuhan komputasi tinggi turut meningkatkan kebutuhan air data center. Model seperti GPT-3 dan GPT-4 membutuhkan kapasitas komputasi besar sehingga pusat data harus menggunakan lebih banyak energi dan sistem pendinginan untuk menjaga perangkat tetap beroperasi.
WEF memperkirakan GPT-3 membutuhkan sekitar 500 mililiter air untuk setiap 10 hingga 50 respons. Jika dikalikan dengan penggunaan AI dalam skala miliaran kali, kebutuhan air tersebut dapat menghasilkan jejak air yang signifikan.
Secara global, WEF memperkirakan permintaan AI pada 2027 dapat mendorong pengambilan air hingga 1,1 triliun-1,7 triliun galon atau sekitar 4,2 miliar-6,6 miliar meter kubik.
Volume tersebut diperkirakan setara lebih dari empat hingga enam kali total pengambilan air tahunan Denmark.
Menurut WEF, konsumsi air data center selama ini belum mendapat perhatian sebesar emisi karbon. Padahal, kebutuhan air berpotensi menjadi persoalan penting seiring ekspansi infrastruktur yang menopang perkembangan AI.
Untuk mengurangi tekanan terhadap sumber daya air, operator data center dapat menerapkan pendekatan pengelolaan air secara sirkular. Konsep tersebut mencakup penggunaan kembali dan daur ulang air dalam sistem operasional pusat data.
Baca Juga: Data Center Rp3,5 Triliun Disorot, Kebutuhan Air Capai 33 Ribu Meter Kubik per Hari
Baca Juga: Proyek Data Center Rp3,5 Triliun Disetop, Rosan Roeslani Turun Tangan
Baca Juga: Airlangga Sebut Kebutuhan Energi RI Capai 800 TWh pada 2030, Data Center Jadi Perhatian
Sejumlah teknologi memungkinkan air limbah dari proses pendinginan diolah dan digunakan kembali. Operator juga dapat memanfaatkan sumber alternatif seperti air hujan untuk mengurangi ketergantungan terhadap air tawar.
WEF menyebut penerapan sistem pendinginan dengan daur ulang air limbah maupun pemanenan air hujan berpotensi mengurangi penggunaan air tawar hingga 50%-70% di lokasi penerapannya.
Pengelolaan air secara sirkular dinilai menjadi salah satu langkah yang dapat ditempuh industri data center untuk menekan dampak lingkungan sekaligus menjaga keberlanjutan infrastruktur yang menopang perkembangan AI.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: