Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Industropolis Batang Gandeng Hangzhou, Bidik Investasi Tiongkok dan Industri Hijau

Industropolis Batang Gandeng Hangzhou, Bidik Investasi Tiongkok dan Industri Hijau Kredit Foto: KEK Industropolis Batang
Warta Ekonomi, Jakarta -

PT Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB), pengelola Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industropolis Batang, memperluas jaringan investasi ke Tiongkok melalui kerja sama dengan Hangzhou Economic and Technological Development Area (HEDA).

Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dalam rangkaian BRICS SEZ Hangzhou Dialogue & GDTE 2026 di Hangzhou, Tiongkok, pada 24 September 2026.

Kerja sama ini diarahkan untuk membuka peluang investasi dan kolaborasi bisnis di sejumlah sektor, termasuk ekonomi digital, energi hijau, kesehatan, serta manufaktur peralatan canggih.

Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi Industropolis Batang memperluas konektivitas dengan ekosistem industri dan investasi Tiongkok. Hingga September 2026, komitmen investasi di kawasan tercatat mencapai Rp114,5 triliun.

Direktur Pemasaran & Pengembangan PT KITB Angga Brahmana Sukma mengatakan kerja sama dengan HEDA diharapkan memperluas akses Industropolis Batang terhadap investor dari negara-negara BRICS sekaligus membuka peluang transfer pengetahuan.

"Kami satu-satunya Kawasan Ekonomi Khusus di Indonesia yang berhasil menandatangani kerja sama dengan salah satu Kawasan Ekonomi Khusus di China dalam agenda BRICS ini. Harapannya dengan kerja sama ini membuka platform yang lebih luas lagi untuk kita bisa kerja sama di bidang investasi, tentunya untuk menarik investasi dari negara-negara BRICS, dan yang penting kita bisa mendapatkan transfer of knowledge," ujar Angga.

Berdasarkan dokumen MoU, kerja sama HEDA dan Industropolis Batang mencakup lima bidang, yakni dukungan operasional dan bisnis, promosi investasi dan perdagangan, pertukaran kebijakan serta pengalaman, kegiatan bisnis bersama, dan peningkatan kapasitas.

Kerja sama promosi investasi mencakup sektor ekonomi digital, pembangunan hijau dan energi, kesehatan, serta advanced manufacturing. Kedua kawasan juga akan menjajaki kegiatan business matching, roadshow, serta inisiatif platform "Buy@BRICS" dan "Invest@BRICS".

Peluang investasi dari Tiongkok juga mulai dijajaki secara lebih spesifik. Pemerintah Distrik Qiantang, Hangzhou, menyatakan kesiapan menjembatani ekspansi penanaman modal asing (PMA) asal Tiongkok ke Indonesia dan tengah menjajaki kerja sama lanjutan di sektor biofarmasi.

Di sisi lain, delegasi KITB melakukan benchmarking terhadap pengembangan kawasan berbasis teknologi tinggi, kolaborasi pemerintah-industri-akademisi, serta kawasan energi terbarukan dan praktik ESG. Hasil kunjungan tersebut akan menjadi masukan bagi pengembangan Klaster Inovasi Industropolis Batang.

Dari sisi ekosistem industri, kawasan saat ini telah dihuni sejumlah perusahaan yang bergerak di sektor manufaktur dan hilirisasi.

PT LBM Energi Baru Indonesia, misalnya, mengembangkan fasilitas produksi material baterai Lithium Ferro Phosphate(LFP) dengan investasi sekitar Rp1,5 triliun di atas lahan 31,72 hektare. Perusahaan tersebut memiliki kapasitas produksi hingga 150.000 ton LFP dan 150.000 ton FP per tahun serta berpotensi menyerap sekitar 1.000 tenaga kerja.

Baca Juga: KEK Industropolis Batang Bidik Ekonomi Kreatif Lewat Wisata Budaya Alas Roban

Baca Juga: Kawasan Industri Jadi Panggung Budaya, KEK Industropolis Batang Tarik 10.000 Pengunjung

Baca Juga: KEK Industropolis Batang Siapkan Tenaga Kerja Industri, 80% Peserta Vokasi Langsung Diterima

Sementara itu, PT TGP Plaspack Lestari asal Malaysia menanamkan investasi sekitar Rp115 miliar dengan penyerapan sekitar 500 tenaga kerja. Sekitar 85% produksinya ditujukan untuk pasar ekspor.

Ekosistem tersebut turut diperkuat PT Trax Sumbiri Indo yang mengembangkan teknologi manufaktur pakaian olahraga untuk pasar internasional.

Pertumbuhan aktivitas industri di kawasan juga beriringan dengan perkembangan ekonomi Kabupaten Batang. Pada kuartal II 2026, PDRB Kabupaten Batang tumbuh 8,38%, sementara tingkat pengangguran turun dari 5,67% menjadi 5,07%.

Melalui kerja sama dengan HEDA, Industropolis Batang menargetkan perluasan jejaring investasi, pengembangan teknologi, serta integrasi dengan rantai pasok global. Kolaborasi tersebut sekaligus diarahkan untuk memperkuat posisi kawasan sebagai basis produksi bagi industri berorientasi ekspor.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Annisa Nurfitri
Editor: Annisa Nurfitri