Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Musim Hujan 2026 Tiba, Actifed Gandeng 100 Apoteker Perkuat Edukasi Swamedikasi Batuk dan Pilek

Musim Hujan 2026 Tiba, Actifed Gandeng 100 Apoteker Perkuat Edukasi Swamedikasi Batuk dan Pilek Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Memasuki periode musim hujan, masyarakat Indonesia perlu mewaspadai meningkatnya gangguan kesehatan yang berkaitan dengan saluran pernapasan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan musim hujan di sejumlah wilayah Indonesia mulai berlangsung pada periode akhir 2026.

Perubahan kondisi cuaca tersebut juga menjadi momentum untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai gejala batuk dan pilek serta penggunaan obat secara tepat. Pasalnya, karakteristik dan tingkat keparahan gejala dapat berbeda pada setiap individu sehingga penanganannya tidak selalu sama.

Melihat kebutuhan tersebut, Actifed, merek obat batuk dari Haleon Indonesia, menggandeng Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) dan tenaga kesehatan profesional untuk memperkuat edukasi mengenai swamedikasi batuk dan pilek.

Kegiatan edukasi tersebut melibatkan sekitar 100 apoteker anggota IAI dan para ahli kesehatan. Selain membahas berbagai gejala batuk dan pilek, kegiatan ini juga menjadi momentum peluncuran modul edukasi “Batuk dan Pilek dari Perspektif Pasien: Menjawab Keluhan Pasien dengan Edukasi dan Konseling Berbasis Self-Care.”

Modul yang dikembangkan Actifed bersama IAI tersebut dirancang sebagai panduan bagi apoteker dalam memberikan edukasi dan konseling kepada masyarakat. Materinya mencakup pemahaman terhadap keluhan pasien, penggunaan obat secara bertanggung jawab, hingga membantu mengenali kondisi yang membutuhkan konsultasi medis lebih lanjut.

General Manager Haleon Indonesia Dhanica Mae Dumo-Tiu mengatakan, upaya meningkatkan literasi kesehatan merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam menghadirkan solusi kesehatan sehari-hari.

“Di Haleon, tujuan kami untuk menghadirkan solusi kesehatan sehari-hari yang lebih baik dengan kemanusiaan, melampaui sekadar menyediakan produk-produk terpercaya,” ujar Dhanica.

Menurutnya, edukasi kesehatan juga diperlukan agar masyarakat memiliki pengetahuan dan kepercayaan diri dalam mengambil keputusan terkait kesehatan diri dan keluarga.

“Melalui Actifed, kami ingin mendukung hal tersebut dengan membuat informasi mengenai swamedikasi untuk batuk dan pilek menjadi lebih mudah dipahami, khususnya di masa seperti sekarang ini, ketika masyarakat mungkin lebih cermat dalam memikirkan cara mempersiapkan diri serta merawat kesehatan diri sendiri dan keluarga,” lanjutnya.

Baca Juga: El Nino Kuat hingga Awal 2027, BMKG Prediksi Musim Hujan 2026-2027 Mundur

Perkuat Peran Apoteker

Dalam upaya penanganan keluhan kesehatan sehari-hari, apoteker dinilai memiliki posisi strategis karena menjadi salah satu tenaga kesehatan yang relatif mudah diakses masyarakat.

Kehadiran apoteker di lingkungan masyarakat dapat membantu pasien maupun keluarga memperoleh informasi awal ketika menghadapi gejala tertentu, termasuk saat mereka masih ragu menentukan langkah penanganan yang tepat.

Penulis modul sekaligus Ketua Program Studi Farmasi Fakultas Farmasi Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Dr. apt. Lucy Novianti, MM, mengatakan masyarakat kerap menentukan sendiri obat atau metode penanganan berdasarkan pengalaman sebelumnya maupun rekomendasi dari orang lain.

“Kami sering menjumpai orang yang telah menentukan sendiri obat atau penanganan medis berdasarkan kebiasaan pribadi sebelumnya atau rekomendasi orang lain saat mengalami gangguan kesehatan umum, khususnya flu, batuk, pilek, atau masalah pernapasan ringan lainnya,” kata Lucy.

Menurut dia, pendekatan tersebut perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu karena gejala dan tingkat keparahannya dapat berbeda.

“Melalui modul edukasi baru yang dikembangkan bersama antara Actifed dengan IAI, apoteker akan memiliki sarana panduan tambahan untuk membantu memberikan konseling kepada konsumen, mendukung praktik swamedikasi yang bertanggung jawab, sekaligus mengidentifikasi situasi yang memerlukan saran medis lebih lanjut,” jelasnya.

Sementara itu, Dokter Umum dr. Ikhsanuddin Qoth’i mengatakan gejala batuk dan pilek dapat muncul dengan karakteristik, intensitas, maupun durasi yang berbeda pada setiap orang.

Karena itu, masyarakat dinilai perlu memperhatikan perkembangan gejala dari waktu ke waktu, termasuk apabila gejala menetap atau semakin parah.

“Gejala yang menetap, bertambah parah, atau disertai tanda-tanda peringatan tertentu mungkin memerlukan perhatian lebih lanjut, karena bisa jadi berkaitan dengan masalah kesehatan pernapasan lainnya, seperti ISPA atau influenza,” ujar Ikhsanuddin.

Ia menambahkan, pemahaman terhadap perubahan gejala dapat membantu masyarakat menentukan kapan swamedikasi masih dapat dilakukan dan kapan perlu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan atau dokter.

Edukasi hingga Tingkat Keluarga

Edukasi mengenai kesehatan pernapasan juga dinilai penting bagi keluarga yang harus menghadapi aktivitas padat di tengah perubahan cuaca.

Kreator konten sekaligus pembawa acara siniar Curhat Bapak Ibu, Nucha Bachri, mengatakan periode akhir tahun menjadi salah satu masa ketika aktivitas anggota keluarga semakin padat, mulai dari kegiatan sekolah anak hingga pekerjaan orang tua.

Menurut Nucha, kondisi tersebut membuat orang tua perlu lebih peka terhadap perubahan kondisi kesehatan anggota keluarga.

“Sebagai seorang ibu, saya berusaha untuk selalu siap siaga dan memerhatikan berbagai gejala yang mungkin dialami anggota keluarga saya. Memiliki informasi yang lengkap membantu kami dalam mengambil keputusan yang lebih baik serta melakukan langkah penanganan yang sesuai saat ada anggota keluarga yang mulai merasa kurang sehat,” kata Nucha.

Selain peluncuran modul edukasi untuk apoteker, Actifed turut memperkenalkan kampanye “Beda Gejalanya, Beda Warnanya.”

Kampanye tersebut ditujukan untuk mendorong masyarakat memahami gejala yang dialami sebelum menentukan metode perawatan swamedikasi.

Senior Brand Manager OTC Haleon Indonesia Anindita Pranawestri mengatakan kampanye tersebut menjadi bagian dari upaya Actifed menyederhanakan informasi kesehatan agar lebih mudah dipahami masyarakat.

“Selama bertahun-tahun, Actifed telah mendukung masyarakat Indonesia dalam menangani gejala batuk dan pilek. Melalui ‘Beda Gejalanya, Beda Warnanya,’ kami ingin membantu konsumen memahami gejala mereka dengan lebih baik dan mengambil keputusan swamedikasi yang lebih tepat, khususnya terkait kesehatan pernapasan sehari-hari,” ujar Anindita.

Ia menambahkan, edukasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat dalam melakukan perawatan kesehatan secara mandiri sekaligus memahami kapan membutuhkan bantuan tenaga kesehatan.

Sebagai perusahaan kesehatan konsumen, Haleon juga menjalankan berbagai program untuk meningkatkan literasi kesehatan dan mendorong praktik swamedikasi yang bertanggung jawab. Program tersebut dilakukan melalui kolaborasi dengan tenaga kesehatan dan organisasi profesi, antara lain HISFARMA, IPEC, webinar SwipeRx, program edukasi apoteker, serta IAI.

Di sisi konsumen, edukasi dilakukan melalui berbagai konten Actifed di platform digital, termasuk TikTok, serta kolaborasi dengan Good Doctor dan Guardian.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Editor: Istihanah

Tag Terkait: