Investasi AI Terus Diguyur, Data Center Harus Cetak Pendapatan Rp94.000 Triliun Supaya Gak Tekor
Kredit Foto: PLN
Bain & Company memperkirakan industri kecerdasan artifisial (AI) perlu menghasilkan pendapatan hampir US$6 triliun atau sekitar Rp94.000 triliun per tahun pada 2031 untuk menopang investasi besar-besaran pada infrastruktur komputasi AI.
Proyeksi tersebut menunjukkan adanya kesenjangan antara kebutuhan investasi infrastruktur AI dan pendapatan yang dihasilkan teknologi tersebut. Bain memperkirakan belanja infrastruktur AI dapat mencapai sekitar US$1,5 triliun per tahun pada 2031.
Sementara itu, pendapatan dari aplikasi AI yang sudah ada diperkirakan baru mencapai sekitar US$1,8 triliun pada periode yang sama. Dengan demikian, terdapat kesenjangan sekitar US$4,2 triliun yang perlu ditutup melalui aplikasi, layanan, atau sumber pendapatan baru.
Analisis Bain tersebut dilaporkan oleh Futurism, Jumat (2/10/2026). Menurut Bain, peningkatan produktivitas perusahaan melalui adopsi AI belum cukup untuk menghasilkan pengembalian atas modal yang dibutuhkan untuk membangun infrastruktur dalam skala tersebut.
Industri AI dinilai membutuhkan gelombang inovasi baru yang mampu menciptakan pasar dengan nilai ekonomi lebih besar.
David Crawford, penulis utama laporan sekaligus ketua praktik teknologi, media, dan telekomunikasi global Bain, mengatakan pembangunan infrastruktur AI saat ini bergerak lebih cepat dibandingkan pertumbuhan permintaan.
"Apa yang dibutuhkan industri ini adalah gelombang inovasi yang jauh lebih besar dibandingkan apa yang pernah dibawa oleh telepon seluler dan komputasi awan," ujar Crawford, seperti dikutip Futurism.
Bain juga memperkirakan keberlanjutan investasi AI membutuhkan tambahan pertumbuhan sekitar 1 persen terhadap pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) global setiap tahun. Perhitungan tersebut menggambarkan skala nilai ekonomi baru yang dibutuhkan untuk menopang pembangunan infrastruktur AI.
Kebutuhan investasi tersebut muncul ketika perusahaan teknologi besar terus meningkatkan belanja untuk membangun kapasitas komputasi. Bain memperkirakan Microsoft, Google, Amazon, Meta, dan Oracle dapat menggelontorkan hingga US$780 miliar untuk belanja modal pada 2026.
Belanja tersebut mencakup pembangunan data center, jaringan, sistem kelistrikan, serta perangkat komputasi yang menjadi bagian dari pengembangan kapasitas AI.
Di sisi lain, Bain menyebut infrastruktur AI saat ini dibangun "jauh di depan kurva permintaan". Tantangannya bukan hanya menyediakan kapasitas komputasi, tetapi juga memastikan adanya aplikasi yang mampu menghasilkan pendapatan dalam skala yang sebanding dengan modal yang telah dikeluarkan.
Kondisi tersebut membuat keberlanjutan investasi AI bergantung pada munculnya penggunaan baru di luar aplikasi yang berkembang saat ini. Bain menilai inovasi yang dibutuhkan harus memiliki dampak ekonomi lebih besar dibandingkan perkembangan telepon seluler dan komputasi awan pada era sebelumnya.
Persoalan ekonomi pembangunan data center juga mendapat perhatian dari investor Harris Kupperman dari Praetorian Capital. Ia menyoroti usia perangkat keras yang relatif pendek di pusat data karena perangkat komputasi perlu diperbarui secara berkala untuk mengikuti perkembangan kebutuhan AI.
Kondisi tersebut membuat operator tidak hanya membutuhkan modal untuk membangun fasilitas, tetapi juga untuk mengganti dan meningkatkan perangkat di dalamnya.
"Jika perhitungannya tidak masuk akal, memperbesarnya tidak akan memperbaikinya. Itu hanya akan mengubah krisis industri menjadi krisis ekonomi nasional," ujar Kupperman, dikutip Futurism.
Baca Juga: Ambisi Data Center di Antariksa, Google Hitung Butuh 1.800 Peluncuran Starship
Baca Juga: AI Haus Air, Data Center Bisa Habiskan 25,5 Juta Liter per Tahun
Baca Juga: Airlangga Sebut Kebutuhan Energi RI Capai 800 TWh pada 2030, Data Center Jadi Perhatian
Sementara itu, Jessica Wachter, pengajar keuangan di University of Pennsylvania, menyoroti risiko apabila pertumbuhan ekonomi yang diharapkan dari AI tidak terealisasi.
Wachter memperingatkan bahwa kegagalan menghasilkan pertumbuhan tersebut dapat membuat pembangunan data center saat ini dinilai sebagai salah satu contoh alokasi modal dalam skala besar yang manfaat ekonominya tidak sesuai dengan ekspektasi.
Dengan proyeksi investasi infrastruktur mencapai US$1,5 triliun per tahun pada 2031, Bain menempatkan kemampuan AI menciptakan aplikasi, layanan, dan pasar baru sebagai salah satu faktor yang menentukan kemampuan industri menghasilkan pendapatan dalam skala yang dibutuhkan.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
Editor: Annisa Nurfitri