Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Sikapnya Disebut Berubah-ubah, Dedi Mulyadi: Konteksnya Beda...

Sikapnya Disebut Berubah-ubah, Dedi Mulyadi: Konteksnya Beda... Kredit Foto: Rahmat Saepulloh
Warta Ekonomi, Jakarta -

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi buka suara soal kehadirannya dalam pembangunan pusat data berbasis artificial intelligence (AI) di kawasan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta. Sikap Dedi dalam proyek tersebut sebelumnya dibandingkan dengan responsnya ketika melihat kondisi hutan di kawasan Puncak, Bogor.

Perbandingan itu muncul setelah Dedi terlihat menangis saat berada di kawasan Puncak. Ketika itu, ia menyoroti pemanfaatan kawasan hutan untuk aktivitas rekreasi, termasuk fasilitas yang dibangun di antara pepohonan.

Dedi kemudian menegaskan bahwa persoalan di Puncak dan pembangunan pusat data AI di Jatiluhur tidak bisa disamakan karena memiliki konteks berbeda.

"Itu beda ceritanya, konteksnya beda. Saya waktu yang di Bogor, itu saya mengikuti kegiatan Menteri Lingkungan Hidup dan kegiatan Menko Pak Zulhas. Mereka itu menyegel bangunan yang ada di situ karena provinsi tidak punya kewenangan menyegel," kata Dedi, Jumat (2/10/2026).

Baca Juga: Syahganda Nainggolan: Gibran Harusnya Jadi Camat Dulu

Ia kemudian menjelaskan alasan dirinya menangis ketika melihat kondisi kawasan hutan di Puncak. Menurut Dedi, keberadaan fasilitas rekreasi yang dibangun di atas pepohonan menjadi persoalan yang membuatnya keberatan.

"Saya waktu itu sedih karena lihat ada jembatan gantung yang masuk ke atas pohon. Saya bilang ini jangan. Pohon antar pohon ada jembatan gantung tuh, apa istilahnya flying fox. Nah saya keberatan kenapa hutan dijadikan sebagai sarana rekreasi di mana posisi orang berada di atas pohon. Itu nggak boleh," ujarnya.

Sementara itu, terkait pusat data AI di Jatiluhur, Dedi menjelaskan kronologi kedatangannya ke lokasi proyek data center milik BDx di kawasan waduk Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta.

Ia menegaskan kedatangannya bukan untuk menghadiri peresmian. Menurut Dedi, kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan investasi sekaligus proses perizinan proyek berjalan sesuai aturan.

Beberapa hari setelah pertemuan tersebut, Dedi mengaku berinisiatif menghubungi pihak perusahaan untuk menyampaikan rencana kunjungannya ke lokasi proyek. Ia menegaskan kunjungan itu merupakan inisiatif pribadi dan tidak dilakukan atas undangan perusahaan.

Pada akhirnya, Dedi memutuskan menghentikan sementara pembangunan pusat data kecerdasan buatan (AI) di kawasan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta. Keputusan tersebut diambil karena BDX Data Centers sebagai pihak yang membangun proyek tersebut belum mengantongi analisis dampak lingkungan (AMDAL) dan persetujuan bangunan gedung (PBG).

"Ketika saya tanya kemarin, Izin Mendirikan Bangunan (IMB) belum keluar. Amdalnya sudah keluar belum? Belum. Ya saya bilang jangan dulu dilaksanakan (pembangunan). Kan izinnya tidak keluar. Kesalahannya di mana? Di Pemda Purwakarta? Bukan. Kesalahannya adalah konsultannya, sampai ketika saya datang belum memasukkan data," katanya, dikutip dari laman resmi Jabar Prov. 

"Bagi saya pribadi, kalau secara objektif Amdal lulus, ya saya tidak ada masalah untuk dilaksanakan. Kalau menurut Amdalnya tidak boleh, ya saya tidak ada masalah juga dihentikan. Tapi satu catatan, warga Purwakarta yang berkorban untuk kepentingan Jatiluhur harus mendapat akses air. Tidak boleh terganggu," imbuh Dedy Mulyadi.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri

Tag Terkait: