Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Berani Riset ke Luar Negeri, Cerita Dr. Gio Fidelito dari i3L University hingga Jadi Peneliti di Australia

Berani Riset ke Luar Negeri, Cerita Dr. Gio Fidelito dari i3L University hingga Jadi Peneliti di Australia Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Perjalanan Dr Gio Fidelito dari bangku kuliah hingga menjadi postdoctoral researcher di Australia menunjukkan pentingnya pengalaman laboratorium, dukungan dosen, dan kesempatan riset internasional dalam membentuk talenta peneliti Indonesia.

Gio merupakan mahasiswa i3L University angkatan 2015. Ketertarikannya pada bidang biologi telah tumbuh sejak bersekolah di SMA Kolese Santo Yusup, Malang.

Minat tersebut semakin kuat setelah Gio mengikuti kelas pengayaan biologi dan pelatihan biologi molekuler di Fakultas Teknobiologi Universitas Surabaya. Berbekal pengalaman tersebut, ia kemudian mendaftar ke i3L University dengan pilihan awal program studi Bioteknologi.

Namun, setelah memahami cakupan masing-masing jurusan, Gio memilih Biomedik karena merasa lebih tertarik pada biologi molekuler di bidang kesehatan.

“Setelah memahami cakupan tiap jurusan, saya merasa Biomedik lebih cocok. Saya merasa lebih tertarik pada biologi molekuler di bidang kesehatan,” ujar Gio dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (29/9/2026).

Selama menjalani pendidikan di i3L University, Gio mendapatkan pengalaman laboratorium secara intensif sejak semester pertama. Pengalaman tersebut turut membentuk pola pikirnya menjadi lebih sistematis, logis, dan kritis.

Kesempatan untuk mengenal dunia riset internasional kemudian terbuka ketika Gio mengikuti program penelitian di Soochow University, Tiongkok, yang difasilitasi International Office i3L University.

Di Tiongkok, Gio bekerja di laboratorium Prof Yufang Shi. Pengalaman itu menjadi kesempatan pertamanya untuk melihat secara langsung kehidupan peneliti dalam lingkungan akademik internasional.

“Pengalaman di Tiongkok membuka mata saya tentang dunia penelitian, terutama di tingkat internasional. Sebelumnya, saya tidak benar-benar tahu apa yang dikerjakan seorang peneliti atau seperti apa kesehariannya,” tuturnya.

Dalam proses seleksi program tersebut, Gio diwawancarai oleh dosen i3L University, Dr Richard Sutejo. Richard merupakan salah satu dosen yang aktif mendorong mahasiswa mencari peluang riset di luar negeri.

“Beliau sering mendorong kami untuk tidak takut atau ragu mengirim email ke profesor di luar negeri untuk mencari peluang magang,” ujar Gio.

Menurut Richard, potensi Gio di bidang riset telah terlihat sejak masa kuliah. Hal tersebut antara lain tercermin dari cara Gio menganalisis pertanyaan, mengikuti perkuliahan, dan menerima konsep-konsep baru.

“Memang Dr Gio ini terhitung brilian di antara teman-teman sekelasnya. Kalau mengenai etos kerja, ia memiliki inisiatif dan daya analitis yang terhitung sangat potensial,” kata Richard.

Potensi tersebut salah satunya terlihat ketika Gio mendapat tugas presentasi mengenai penemuan terbaru di dunia biomedis dalam mata kuliah Canceromics.

“Dr Gio ini selalu membawa keilmuan yang baru yang menurut saya sangat bagus, bahkan setara S3 padahal Dr Gio masih semester 6,” ujarnya.

Richard mengatakan pola pembelajaran tersebut dirancang untuk mendorong mahasiswa mengembangkan keilmuan sekaligus kemampuan analitis. Dari proses itu, ia melihat minat dan bakat Gio di bidang biomedis berkembang semakin kuat.

Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana di i3L University, Gio melanjutkan studi doktoral di University of Melbourne. Memasuki masa PhD, ia sempat mengalami keraguan ketika berada di lingkungan akademik dengan nama besar universitas tersebut.

Namun, pengalaman mengajar serta bekal yang diperolehnya selama kuliah kembali membangun kepercayaan dirinya.

“Setelah menyelesaikan PhD pada 2024, kini saya dipercaya memimpin program penelitian yang sesuai dengan minat saya, sambil tetap aktif membantu proyek-proyek lain di laboratorium,” terang Gio.

Saat ini, Gio tergabung dalam proyek riset Metabolism and Diabetes Laboratory di Department of Anatomy and Physiology, University of Melbourne, di bawah Prof Matthew Watt.

Laboratorium tersebut berfokus pada perlemakan hati, obesitas, dan diabetes tipe 2, termasuk mekanisme gangguan metabolisme dan komunikasi antarorgan untuk menemukan target terapi baru.

Gio menjalankan dua jalur penelitian. Pada riset dasar, ia mempelajari mekanisme molekuler yang mengatur metabolisme asam lemak di tingkat sel.

Sementara dalam riset translasional, ia meneliti kanker prostat, khususnya bagaimana sel kanker memprogram ulang metabolismenya agar mampu tumbuh dan bertahan hidup. Ia juga mencari aspek metabolik yang berpotensi menjadi target pengobatan.

Bagi Richard, keberhasilan Gio hingga menjadi postdoctoral researcher di Australia menjadi kebanggaan sekaligus gambaran dari proses pendidikan dan pembinaan riset yang dijalankan di i3L University.

“Melihat kesuksesan dari Dr Gio yang sudah menjadi seorang postdoctoral di Australia memang membawa kebanggaan tersendiri bagi saya. Saya berharap Dr Gio bisa terus mengembangkan ilmunya dan menjadi seorang ilmuwan Indonesia yang mendunia,” tandas Richard.

Baca Juga: Menteri Mukhtarudin Dorong Lulusan Poltekkes Jadi Tenaga Kesehatan Profesional di Dunia

Gio pun mendorong mahasiswa Indonesia untuk berani mengejar peluang riset internasional dan tidak merasa minder ketika berhadapan dengan mahasiswa dari luar negeri.

“Jangan takut bermimpi. Terkadang kita merasa minder atau kurang mampu dibanding mahasiswa di luar negeri. Tapi percayalah, jika diberi kesempatan yang sama, kita juga mampu,” tegas Gio.

Ia juga mengajak mahasiswa untuk memulai langkah menuju impian dari hal-hal sederhana, termasuk berani menghubungi peneliti atau profesor yang bidang penelitiannya diminati.

“Mulailah dari langkah yang kecil, misalnya memberanikan diri menghubungi atau mengirim email ke profesor yang penelitiannya kamu minati,” pungkas Gio.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat

Tag Terkait: