Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Prabowo Hampir Jadikan Besan Dedi Mulyadi sebagai Kapolri, Ini Kata Mahfud MD

Prabowo Hampir Jadikan Besan Dedi Mulyadi sebagai Kapolri, Ini Kata Mahfud MD Kredit Foto: BPMI
Warta Ekonomi, Jakarta -

Mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD mengungkap dinamika politik di balik pergantian pucuk pimpinan Kepolisian Republik Indonesia (Polri). Salah satu nama yang disebut sempat kuat dipersiapkan untuk menggantikan Jenderal Listyo Sigit Prabowo adalah Irjen Karyoto.

Menurut Mahfud, rencana pergantian Kapolri sebenarnya telah beberapa kali disiapkan Presiden Prabowo Subianto. Sedikitnya, pergantian tersebut direncanakan hingga empat kali sebelum akhirnya Jenderal Suyudi Ario Seto dilantik sebagai Kapolri secara mendadak.

Salah satu momentum yang hampir berujung pada pergantian Listyo Sigit terjadi ketika muncul ketegangan antara Polri dan Kejaksaan Agung terkait insiden pembuntutan Jampidsus Febrie Adriansyah.

"Kapolri (Listyo Sigit) dianggap membikin gaduh, tidak becus mengamankan situasi sehingga waktu itu sudah mau diganti. Informasi ini tidak pernah dibantah. Yang mau menggantikan waktu itu Karyoto," ungkap Mahfud dalam podcast Terus Terang bersama Rizal Mustary, Rabu (7/10/2026).

Mahfud mengatakan, persiapan Karyoto untuk menggantikan Listyo Sigit saat itu bahkan sudah cukup matang. Karyoto disebut telah berada tidak jauh dari lokasi untuk menunggu panggilan dari Presiden.

Namun, rencana tersebut kembali batal setelah muncul informasi mengenai hubungan kekerabatan Karyoto dengan salah satu tokoh politik.

"Begitu mau dipanggil, ada yang bilang, 'Pak, Karyoto itu adalah besannya Pak KDM'. Muncul berita itu, dan tidak ada bantahan. Cerita itu meluas, akhirnya tidak jadi lagi," beber Mahfud.

Mahfud menilai kegagalan berulang dalam rencana pergantian Kapolri tidak terlepas dari informasi yang lebih dahulu beredar serta berbagai intervensi politik. Kondisi tersebut kemudian membuat strategi pergantian pimpinan Polri dilakukan secara lebih tertutup.

Menurut dia, pengalaman pembatalan sebelumnya menjadi salah satu alasan Prabowo memilih melakukan pergantian Kapolri secara cepat dan tanpa banyak pemberitahuan.

Baca Juga: Kinerja Dipuji, Prabowo Ungkap Rencana Ubah Nama BNN Menjadi BNPN

"Kesimpulannya, ini kalau dibicarakan panjang-panjang dan ramai, tidak jadi terus. Sehingga yang terakhir ini, menurut saya, Pak Prabowo mengambil taktik tidak usah diberitahu dulu. Makanya pemberitahuannya mendadak pada tanggal 1, jangan sampai berulang kegagalan tiga kali sebelumnya," jelas tokoh hukum tata negara tersebut.

Strategi tersebut pada akhirnya membuat pergantian pucuk pimpinan Polri dapat dilakukan tanpa kembali menghadapi pembatalan seperti sebelumnya. Jenderal Listyo Sigit Prabowo kemudian digeser ke Kantor Staf Presiden (KSP).

Sementara itu, Jenderal Suyudi Ario Seto resmi menempati posisi Kapolri. Mahfud juga menyebut adanya peran Sufmi Dasco Ahmad dalam strategi politik yang berlangsung secara senyap tersebut.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat