Kredit Foto: Istimewa
Masa depan pengaruh politik Jokowi kembali menjadi sorotan setelah serangkaian perubahan politik di pemerintahan Prabowo Subianto. Pengamat hukum Ferdinand Hutahaean bahkan menyebut upaya kekuatan Jokowi untuk kembali ke pusat kekuasaan telah berakhir.
Pernyataan itu disampaikan Ferdinand setelah mencermati sejumlah peristiwa politik dalam sepekan terakhir, mulai dari pergantian pejabat hingga momen Prabowo bersama Jokowi dan Gibran Rakabuming Raka. Menurut dia, perubahan tersebut menunjukkan semakin kuatnya kendali Prabowo atas pemerintahan.
Ferdinand menilai dua momentum kenegaraan turut memperlihatkan perubahan tersebut. Ia menyoroti peringatan Hari Kesaktian Pancasila dan HUT ke-81 TNI yang menurutnya menunjukkan adanya jarak politik antara Prabowo dengan keluarga Jokowi.
Baca Juga: ‘Bolanya di Prabowo’, Pakar Soroti Dampak Putusan MK ke Jokowi dan Gibran
“Peristiwa yang terjadi pada saat hari peringatan Kesaktian Pancasila, Gibran seperti diabaikan, dan bukan seperti diabaikan, benar-benar diabaikan. Yang kedua, pada saat HUT TNI, Jokowi diabaikan benar-benar juga oleh Prabowo Subianto," kata Ferdinand dalam keterangannya, dikutip Rabu (7/10/2026).
Menurut Ferdinand, kedua peristiwa itu menjadi bagian dari rangkaian tanda bahwa Prabowo tidak lagi berada di bawah pengaruh Jokowi. Ia kemudian mengaitkannya dengan perubahan posisi sejumlah pejabat strategis.
“Ini bagi saya adalah fakta yang menegaskan bahwa Prabowo telah menunjukkan bahwa dia tidak bisa diintervensi oleh Jokowi," tegasnya.
“Bagi saya ini adalah sebuah sikap tegas Prabowo Subianto yang menegaskan bahwa dirinya adalah the real president," ungkapnya.
Baca Juga: Ganti Kapolri hingga Lantik Wantimpres, Mahfud MD Sebut Itu Penanda Prabowo Ingin...
Ferdinand juga menyebut Prabowo tidak ingin pemerintahannya dipengaruhi kekuatan politik lain.
“Prabowo adalah presiden sesungguhnya dan dia tidak mau diganggu oleh kekuatan-kekuatan apapun yang mencoba menjadi subordinasi kekuatan politik yang lain," imbuhnya.
Salah satu dasar penilaian Ferdinand adalah perubahan posisi sejumlah pejabat dalam waktu berdekatan. Ia menyebut pergantian Kapolri, Menko Polhukam, hingga Kepala Bakom sebagai bagian dari dinamika yang menurutnya penting dicermati.
“Saya melihat banyak fakta-fakta yang terjadi dalam seminggu terakhir, dimulai dari pencopotan Kapolri, pencopotan Menko Polhukam, pencopotan Qodari dari Bakom," ujarnya.
“Penggeseran banyak Kapolda-Kapolda, diparkirnya dua kekuatan utama Listyo Sigit yaitu mantan Kabareskrim dan mantan Kabaintelkam ke KSP mengikuti Pak Listyo Sigit," lanjut dia.
Dari seluruh perkembangan itu, Ferdinand menyimpulkan hubungan politik Prabowo dan Jokowi telah berakhir.
“Cerita banyak orang bahwa hubungan Prabowo dengan Jokowi telah berakhir, saya yakini bukanlah sebuah cerita omong kosong dan bukan cerita isapan jempol. Saya meyakini sepenuhnya bahwa itu benar-benar terjadi, Prabowo dan Jokowi sudah selesai," kata Ferdinand.
“Artinya apa? Upaya-upaya kekuatan Jokowi untuk kembali ke pentas kekuasaan, tewas sudah," tambah Ferdinand.
Tak berhenti di situ, Ferdinand juga menyampaikan prediksi mengenai PSI, Gibran, dan Jokowi dalam politik Indonesia ke depan.
“PSI pasti hanya tinggal cerita nanti di masa lalu, Gibran hanya menjadi catatan sejarah, dan Jokowi akan tetap menjadi olok-olok negeri ini," imbuhnya.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri