Pengamat Sinyalkan Jokowi Ada di Persimpangan Politik, Kaesang Lebih Baik daripada Gibran?
Kredit Foto: Istimewa
Posisi Kaesang Pangarep dalam peta politik keluarganya kembali menjadi sorotan menyusul polemik ijazah dari Gibran Rakabuming di Mahkamah Konstitusi (MK).
Pengamat Komunikasi Politik Hendri Satrio melihat sosok politikus muda itu memiliki peluang membangun dukungan politik sendiri, meski peluang tersebut belum dapat disamakan dengan jaminan keberhasilan.
Baca Juga: Putusan Lebih dari Soal Ijazah, Heru Subagia: Jokowi Pemenang Gugatan Diskualifikasi Gibran di MK
Peluang itu sendiri muncul karena adanya keputusan pengadilan yang menyisakan catatan penting mengenai dokumen pendidikan Gibran. Mahkamah menyatakan tidak menemukan bukti meyakinkan berupa ijazah, sertifikat, atau diploma luar negeri yang dapat menjadi dasar penyetaraan pendidikan sosok politikus itu dengan minimal sekolah menengah atas atau sederajat. Namun, permohonan para pemohon tetap dinyatakan tidak dapat diterima karena persoalan kedudukan hukum.
Namun Hensa melihat persoalan itu dapat menjadi pertimbangan ketika membaca masa depan politik Gibran. Apabila isu mengenai syarat pendidikan kembali muncul ketika sosok itu mengambil langkah politik baru, keluarganya dinilai membutuhkan alternatif jalur politik. Kaesang di sini menjadi menarik.
“Kaesang memiliki kesempatan membangun dukungan melalui partai, dan keberadaanayahnya tentu menjadi modal politik,” kata Hensa, dikutip Rabu (7/10/2026).
Kaesang saat ini memiliki kendaraan politik melalui PSI. Sementara Joko Widodo (Jokowi) telah menyatakan bergabung dengan partai tersebut pada September 2026. Langkah Jokowi tersebut sebelumnya dinilai sebagai bagian dari upaya membangun jalur politiknya sendiri di tengah dinamika nasional.
Namun, apakah kondisi tersebut membuat anaknya lebih unggul dibandingkan Gibran? Hensa tidak memberikan kesimpulan sesederhana itu. Menurut dia, terdapat perbedaan mendasar antara memiliki akses terhadap dukungan politik dan mampu mengubah dukungan tersebut menjadi kekuatan yang bertumpu pada kapasitas pribadi.
“Kedekatan dengan ayahnya dan penerimaan pemilih terhadap dia merupakan dua hal yang berbeda,” ujar Hensa.
Kaesang dan Gibran memiliki posisi politik yang berbeda. Gibran telah mencapai jabatan Wakil Presiden. Artinya, ia memiliki posisi formal dalam pemerintahan yang memberikan pengalaman dan visibilitas politik nasional. Sementara Kaesang membangun jalur melalui partai politik, sehingga tantangan utamanya adalah memperluas dukungan dan menunjukkan kemampuan kepemimpinan di luar faktor hubungan keluarga.
Kaesang menurutnya masih perlu membuktikan bahwa modal politik dari ayahnya dapat berkembang menjadi kekuatan yang berdiri di atas kapasitasnya sendiri.
“Kita masih perlu melihat sejauh mana Kaesang bisa mengembangkan dukungan itu menjadi kekuatan politik yang juga bertumpu pada kemampuan dan kepemimpinannya sendiri,” kata Hensa.
Namun Gibran dengan polemik ijazahnya telah membuka kemungkinan strategi politik keluarga mantan presiden itu tidak hanya bergantung pada satu figur atau bahkan berpindah ke Kaesang.
Baca Juga: Heru Soroti Momen Jokowi Temui Prabowo Jelang Putusan MK: Labrakan Itu Sukses Selamatkan Gibran
Kaesang memang bukan otomatis menjadi pengganti Gibran. Ia lebih tepat dipandang sebagai figur yang memiliki kesempatan membangun jalur politik sendiri. Dukungan Jokowi dapat menjadi modal awal. Tetapi modal tersebut harus dikonversi menjadi penerimaan politik yang lebih luas.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: