- Home
- /
- EkBis
- /
- Agribisnis
Gudang Tak Lagi Muat, Indonesia Siap Ekspor 500 Ribu Ton Beras ke Malaysia
Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo mengungkapkan Indonesia siap mengekspor hingga 500 ribu ton beras ke Malaysia. Ekspor ini dilakukan setelah produksi beras dalam negeri dinilai melimpah hingga kapasitas gudang penyimpanan lokal tidak lagi mampu menampungnya.
Hashim menilai capaian tersebut tidak lepas dari keberhasilan Kementerian Pertanian di bawah kepemimpinan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. Target swasembada beras yang sebelumnya dipatok tercapai pada 2029, menurutnya, justru berhasil dicapai tiga tahun lebih cepat, yakni pada 2026.
"Program yang dilaksanakan oleh Kementerian Pertanian, Amran Sulaiman, itu sangat-sangat berhasil. Sangat sukses, begitu sukses dan begitu efisien. Target swasembada beras tercapai 3 tahun sebelumnya, seharusnya 2029, ternyata Kementerian Pertanian sudah bisa melaksanakan 3 tahun lebih awal," kata Hashim dalam acara Investor Daily Summit 2026 di Jakarta, Rabu (7/10/2026).
Hashim menyatakan, stok beras nasional saat ini mencapai sekitar 5,3 juta ton. Jumlah itu diklaim luar biasa besar, sehingga tidak bisa lagi disimpan di gudang milik Perum Bulog. Sehingga pemerintah dihadapkan pada dua pilihan, antara menyewa gudang swasta dengan ongkos mahal atau mengekspornya.
"Gudang Bulog sudah penuh, maka perlu disewa gudang-gudang swasta, dan itu mahal. Karena lebih murah kita ekspor, dan sudah diputuskan ada kontrak 500 ribu ton ke Malaysia, negeri tetangga, Negeri Jiran. Menguntungkan kontraknya, dan Indonesia jadi penghasil ekspor lagi setelah 42 tahun," ungkap dia.
Keberhasilan Kementerian Pertanian ini pun diklaim Hashim turut menyukseskan Kementerian Kehutanan dalam menjaga lahan hutan. Pasalnya, program pembukaan lahan untuk area persawahan hingga 3 juta ha tak perlu lagi dilakukan karena stok beras dalam negeri sudah lebih dari cukup.
Baca Juga: Bahlil Rangkap Menteri, Kemenperin Berpotensi Masuk Kemenko Hilirisasi
Baca Juga: Hashim: Indonesia Tak Ingin Bunuh Diri Ekonomi dengan Menutup Industri Batu Bara
"Pak Amran bilang ke saya, pemerintah sekarang tidak perlu lagi melaksanakan perluasan lahan sawah. Yang 2 juta ha, 3 juta ha yang diumumkan 2 tahun lalu itu tidak perlu lagi. Kita sudah swasembada pangan," ujar Hashim.
Selain peningkatan produksi beras, Hashim turut menyoroti keberhasilan pemerintah menaikan harga pembelian beras dari petani hingga 50%. Di sisi lain, harga pupuk urea untuk petani juga sukses dipangkas hingga 20%.
"Harga yang kita bayar ke petani beras, petani sawah, dinaikan 50%. Ini sebenarnya market measures. Kita memberikan insentif, rangsangan kepada petani, dan harga pupuk urea dipotong 20%. The cost of production turun, dan harga pengadaan dari pemerintah naik," tutupnya.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Maulandy Rizky Bayu Kencana
Editor: Dian Ihsan
Tag Terkait: