Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Truk Listrik Jadi Senjata Baru, Potensi Hemat Subsidi Solar Capai Rp161 Triliun

Truk Listrik Jadi Senjata Baru, Potensi Hemat Subsidi Solar Capai Rp161 Triliun Kredit Foto: Rahmat Saepulloh
Warta Ekonomi, Jakarta -

Potensi penghematan hingga Rp161 triliun terbuka jika kendaraan logistik di Indonesia beralih dari solar ke truk listrik. Namun, transisi tersebut masih menghadapi persoalan besar, mulai dari harga kendaraan hingga kesiapan infrastruktur pengisian daya.

Lembaga riset WRI Indonesia memperkirakan elektrifikasi angkutan barang dapat menekan beban fiskal sekitar Rp161,36 triliun pada periode 2030-2035 dibandingkan skenario business as usual. Simulasi tersebut juga memperkirakan konsumsi diesel dapat berkurang hingga 77,9 juta kiloliter dalam periode yang sama.

Urban Mobility Manager WRI Indonesia Dimas Fadhil mengatakan potensi penghematan tersebut muncul karena peralihan kendaraan logistik ke listrik dapat mengurangi ketergantungan terhadap solar. Menurut dia, kebutuhan solar yang terus tumbuh juga berpotensi kembali mendorong kebutuhan impor dalam jangka panjang.

"Analisis kami sebetulnya ketika ada transisi lain gitu ya kepada truk listrik akan terjadi penghematan subsidi sebesar Rp161 triliun," ujar Dimas dalam sesi diskusi Indonesia International Sustainability Forum (IISF) 2026 di Jakarta Pusat, Rabu (7/10/2026).

Meski menawarkan potensi penghematan besar, penggunaan truk listrik belum bisa dilakukan secara instan. Pelaku industri logistik masih mempertimbangkan kemampuan kendaraan sekaligus ekosistem pendukung sebelum beralih dari truk berbahan bakar solar.

Dimas mengatakan ada dua persoalan utama yang menjadi perhatian pelaku industri. Keduanya adalah keandalan kendaraan beserta infrastruktur pendukung serta harga truk listrik yang saat ini masih relatif mahal.

"Jadi seperti charging station, kemudian truknya bisa jalan berapa jauh, dan juga yang kedua adalah harga (truk listrik) yang cukup mahal," kata Dimas.

Persoalan jarak tempuh menjadi penting karena truk logistik beroperasi untuk perjalanan dengan jarak dan beban yang berbeda-beda. Karena itu, ketersediaan charging station di jalur distribusi menjadi salah satu faktor yang menentukan apakah kendaraan listrik bisa digunakan secara optimal.

WRI menilai kebutuhan tersebut tidak bisa dilepaskan dari pertumbuhan sektor angkutan barang. Dalam kajiannya, konsumsi diesel nasional tercatat mencapai 38,57 juta kiloliter pada 2024, sementara kendaraan berat menyumbang sekitar 31,7 persen emisi transportasi nasional.

Pemerintah sendiri sudah menjalankan strategi lain untuk menekan ketergantungan terhadap solar melalui mandatori biodiesel B50. Program yang mulai diterapkan pada 2026 itu menggunakan campuran 50 persen biodiesel berbasis sawit dan 50 persen solar, dengan pemerintah memproyeksikan penghematan devisa hingga Rp170 triliun.

Baca Juga: GM Group Pamerkan Truk Listrik dan Alat Berat EV di Mining Indonesia 2026

Bagi WRI, elektrifikasi truk bukan berarti menggantikan seluruh kebijakan biodiesel yang sudah berjalan. Elektrifikasi dipandang sebagai strategi tambahan jangka panjang untuk menekan permintaan diesel sekaligus mengurangi beban fiskal dan ketergantungan terhadap impor.

Untuk menguji kesiapan ekosistem tersebut, kini tengah dikembangkan green freight corridor atau koridor angkutan barang rendah emisi. Program ini dirancang sebagai ruang uji coba sebelum penerapan kendaraan listrik untuk angkutan barang dilakukan secara lebih luas.

Uji coba tersebut mencakup lima pilar, yakni tata kelola, call for project trial, pembangunan infrastruktur pengisian daya, koordinasi lintas pemangku kepentingan, serta evaluasi dan pemantauan kebijakan. Dimas mengatakan pendekatan itu diperlukan untuk mengetahui persoalan apa saja yang harus diselesaikan sebelum program menjadi permanen.

"Kami berharap green freight ini juga bisa menjadi sebuah ajang uji coba gitu ya sebelum nanti menjadi sesuatu yang permanen, apa saja yang perlu di-unlock, apa saja yang perlu di-tackle dari sisi pemerintah maupun dari sisi pengusaha," tutur Dimas.

Potensi penghematan Rp161 triliun masih bergantung pada kemampuan Indonesia membangun ekosistem truk listrik yang layak secara teknis dan ekonomi. Tantangannya bukan hanya menghadirkan kendaraan listrik, tetapi juga memastikan harga, jarak tempuh, jaringan pengisian daya, dan kesiapan industri dapat mendukung perpindahan kendaraan logistik dari solar ke listrik.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Wahyu Pratama