Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Bukan Karena Bauksit, Ini Alasan Investasi Aluminium Deras Masuk Indonesia

Bukan Karena Bauksit, Ini Alasan Investasi Aluminium Deras Masuk Indonesia Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Warta Ekonomi, Jakarta -

Investasi industri aluminium dalam beberapa tahun terakhir terus mengalir ke Indonesia. Namun, tingginya minat investor ternyata bukan semata karena Indonesia memiliki cadangan bauksit sebagai bahan baku utama aluminium.

Anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Septian Hario Seto, mengatakan, faktor utama yang membuat Indonesia menarik bagi investor aluminium adalah adanya ekosistem industri yang mendukung, terutama dari sisi ketersediaan energi.

Menurutnya, Indonesia memang memiliki cadangan bauksit, tetapi jumlahnya tidak termasuk yang terbesar di dunia. Dengan posisi cadangan yang berada di kisaran peringkat enam atau tujuh dunia, Indonesia tetap mampu menarik investasi aluminium dalam jumlah besar karena memiliki keunggulan lain.

“Di aluminium kita itu cadangan bauxit-nya kalau boleh dibilang itu kecil ya, peringkat 6, peringkat 7 gitu ya. Tapi kenapa dalam 3 tahun terakhir kita bisa menarik investasi aluminium yang sangat besar di Indonesia?” ujar Septian dalam diskusi di Jakarta, Selasa (6/10/2026).

Septian menyebut ketersediaan energi menjadi alasan utama investor memilih Indonesia sebagai lokasi pembangunan industri aluminium. Industri ini membutuhkan pasokan listrik besar untuk menjalankan fasilitas pengolahan, sehingga keberadaan sumber energi menjadi faktor penting.

“Itu faktor utamanya bukan karena bauxit, tapi karena apa? Karena kita punya batubara dan PLTU yang ada gitu ya,” katanya.

Dengan dukungan energi tersebut, investor dinilai dapat membangun fasilitas pengolahan aluminium lebih cepat dibandingkan negara lain. Kondisi itu kemudian menciptakan integrasi industri mulai dari pengolahan bahan baku hingga produksi aluminium.

“Jadi orang bisa berekspansi untuk membangun smelter aluminium di Indonesia relatif lebih cepat dibandingkan dengan negara-negara lain gitu. Itu tadi akhirnya kan ada integrasi,” ujar Septian.

Ia menilai perkembangan industri aluminium menjadi contoh bahwa hilirisasi tidak dapat dilihat hanya berdasarkan satu komoditas. Menurutnya, daya tarik investasi muncul ketika berbagai sektor dalam industri saling terhubung.

“Menurut saya paradigma baru bahwa kita tidak bisa melihat hilirisasi itu komoditas baik komoditas, tapi bagaimana kita melihatnya sebagai satu ekosistem industri yang saling mendukung,” katanya.

Dorongan investasi di sektor aluminium juga terlihat dari meningkatnya pembangunan fasilitas pengolahan bauksit. Salah satunya berasal dari perusahaan aluminium asal Rusia, United Company Rusal, yang berencana membangun fasilitas hilirisasi bauksit menjadi alumina di Kalimantan.

Rencana tersebut disampaikan Presiden Prabowo Subianto dalam sesi dialog Eastern Economic Forum (EEF) di Vladivostok, Rusia, Kamis (3/9/2026).

Berdasarkan data BPS, investasi hilirisasi bauksit pada triwulan II 2026 mencapai Rp40,1 triliun. Angka tersebut melonjak 193 persen dibandingkan realisasi pada triwulan I 2026 yang sebesar Rp13,7 triliun.

Baca Juga: INALUM Ungkap Calon Mitra JV Smelter Mempawah, Ada Danantara hingga Investor China

Baca Juga: INALUM Kantongi Rating BBB- S&P Jelang Pendanaan SGAR 2 dan Smelter 2

Kenaikan tersebut membuat bauksit menjadi komoditas dengan investasi hilirisasi terbesar pada periode tersebut, menggeser posisi nikel yang selama ini mendominasi.

Secara keseluruhan, realisasi investasi hilirisasi pada triwulan II 2026 mencapai Rp152,7 triliun atau tumbuh 5,7 persen secara tahunan. Nilai tersebut menyumbang 29,8 persen dari total investasi nasional sebesar Rp511,8 triliun.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani mengatakan perubahan posisi tersebut terjadi karena meningkatnya pembangunan fasilitas pengolahan bauksit oleh investor domestik maupun asing.

“Nah ini kalau kita lihat, biasanya itu nikel, selalu di nomor 1, nah ini ada shifting nih, Bauksit. Bauksit ini nomor 1, biasanya kita tahu selalu nikel, nah ini ada shifting bauksit, karena memang ada beberapa pembangunan bauksit, baik yang dilakukan oleh dalam negeri maupun luar negeri, sehingga bauksit ini untuk pertama kali juga mengambil tempat nomor 1 sesudah nikel,” ungkapnya di Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (16/7/2026).

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra