Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

INALUM Ungkap Calon Mitra JV Smelter Mempawah, Ada Danantara hingga Investor China

INALUM Ungkap Calon Mitra JV Smelter Mempawah, Ada Danantara hingga Investor China Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Warta Ekonomi, Jakarta -

PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM) tengah mengakselerasi pembentukan perusahaan patungan yang nantinya akan mengelola smelter kedua milik perusahaan di Mempawah, Kalimantan Barat.

Sebagaimana diketahui, pembangunan smelter tersebut resmi dimulai bersamaan dengan pembangunan Smelter Grade Alumina Refinery Fase 2 (SGAR Fase 2) pada Jumat (6/2/2026). Peresmian pembangunan dilakukan oleh Holding BUMN Industri Pertambangan MIND ID bersama Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara).

Direktur Strategi Korporasi, Pengembangan Usaha, dan Komersial Inalum, Arif Haendra, menyebut urgensi pembentukan perusahaan patungan (joint venture) tersebut berkaitan dengan besarnya kebutuhan investasi yang diperlukan untuk pembangunan smelter.

”Jadi Inalum sedang mengupayakan diberikan eh apa waiver ya pengecualian untuk pendirian eh joint venture ini. Mengapa Inalum harus pakai joint venture? Karena memang eh industri smelter ini membutuhkan investasi yang sangat besar,” ucapnya selepas gelaran diskusi di Jakarta, Selasa (6/10/2026).

Adapun investasi yang dibutuhkan untuk pembangunan smelter baru tersebut mencapai US$2,7 miliar atau setara Rp48,33 triliun (asumsi kurs Rp17.900 per US$).

Pabrik tersebut nantinya akan memiliki kapasitas produksi aluminium sebesar 600 kilo ton per annum (KTPA). Proyek ini berdiri di atas lahan sekitar 110 hektare dan diproyeksikan menyerap sekitar 1.370 tenaga kerja saat memasuki tahap operasi, di luar penyerapan tenaga kerja selama masa konstruksi yang berlangsung selama tiga tahun.

Lebih lanjut, Arif menyampaikan bahwa dalam struktur perusahaan patungan tersebut, Inalum akan tetap menjadi pemegang saham terbesar. Ia juga menyebut terdapat investor asing yang diharapkan dapat bergabung dalam perusahaan patungan tersebut.

”Jadi Inalum akan tetap mayoritas ya. Inalum minimal 50 eh persen 51 persen sampai 60 persen. Kemungkinan nanti DANANTARA 20 sampai 25 persen. Dari grup MIND ID mungkin 10 persen dan sisanya eh 95 sampai 9 persen saja yang dari China. Untuk menjamin bahwa teknologi ini eh benar-benar bisa eh teraplikasi dan eh sukses,” tambahnya.

Keputusan perusahaan menggandeng investor asal China sebagai penyedia teknologi telah melalui berbagai pertimbangan. Arif menjelaskan bahwa teknologi smelter dari China saat ini dinilai menjadi salah satu yang paling efisien dan kompetitif di dunia.

Menurutnya, terdapat dua penyedia teknologi smelter asal China yang saat ini saling bersaing dan telah memiliki rekam jejak yang baik. Ia menyebut, dari total produksi aluminium primer dunia yang mencapai sekitar 73 juta ton, sebanyak 45 juta ton di antaranya berasal dari China. Selain itu, penggunaan teknologi dari China juga dinilai mampu memberikan efisiensi biaya investasi karena lebih rendah dibandingkan alternatif teknologi lainnya.

”Sehingga bagi kita akan jauh lebih kompetitif apabila menggunakan teknologi dari China. Apabila teknologinya dari China pembiayaannya juga dari China kan gitu. Mereka sangat kompetitif,” jabarnya.

Seiring dengan proses pembentukan perusahaan patungan tersebut, Inalum juga menargetkan keputusan investasi final (Final Investment Decision/FID) untuk proyek Smelter dan SGAR Fase 2 dapat segera dirampungkan.

Sebelumnya, Direktur Utama Inalum Melati Sarnita menyampaikan bahwa progres proyek smelter tersebut telah memasuki tahap Bankable Feasibility Study (BFS). Kajian multiplier effect juga telah diselesaikan dengan hasil yang positif, sementara pemetaan lahan serta proses kadaster masih berjalan.

Baca Juga: INALUM Kantongi Rating BBB- S&P Jelang Pendanaan SGAR 2 dan Smelter 2

Baca Juga: INALUM Naik Kelas ke idAA, Fundamental Keuangan Topang Ekspansi Hilirisasi Aluminium

Terkait kebutuhan energi untuk operasional smelter, Inalum telah melakukan langkah awal melalui kerja sama dengan PT Bukit Asam. Perusahaan telah menandatangani nota kesepahaman untuk penyediaan solusi kelistrikan (power solution) bagi pembangunan smelter kedua Inalum di Mempawah.

Melati menyebut pembentukan perusahaan patungan ditargetkan selesai pada akhir 2026. Sementara keputusan investasi final ditargetkan pada November 2026, penutupan pendanaan pada pertengahan 2027, dan produksi logam perdana ditargetkan berlangsung pada kuartal I 2030.

”Kemudian progres lainnya dari smelter ini adalah pembentukan perusahaan patungan ditargetkan akhir 2026 dan keputusan investasi final di November 2026 dan juga penutupan pendanaan pertengahan 2027 dan produksi logam perdana sendiri kami targetkan pada kuartal pertama 2030,” ungkap Melati dalam RDP bersama Komisi XII September lalu.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra