Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Rupiah Tertekan ke Rp17.915 per Dolar AS di Tengah Penurunan IKK September

Rupiah Tertekan ke Rp17.915 per Dolar AS di Tengah Penurunan IKK September Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Warta Ekonomi, Jakarta -

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan Kamis (8/10/2026). Mata uang Garuda terparkir Rp17.915 per dolar AS atau melemah 28 poin dibandingkan penutupan sebelumnya Rp17.887.

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyampaikan pelemahan rupiah terjadi pada saag Indek Keyakinan Konsumen Indonesia tetap berada di zona optimistis. Namun pada September, optimisme tersebut sedikit memudar.

IKK September tercatat 118,1 sedikit memudar dibandingkan data pada bulan Agustus sebesar 118,5. IKK di atas 100 menandakan konsumen optimistis memandang perekonomian saat ini hingga 6 bulan mendatang. 

"Faktor yang membuat IKK terpeleset adalah Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) berada di 107,5. Lebih rendah dibandingkan Agustus yang sebesar 109,4. Artinya, konsumen memandang prospek perekonomian saat ini lebih suram dibandingkan saat memandang bulan sebelumnya," kata dia kepada wartawan.

Namun Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) tercatat naik dari 127,6 pada Agustus menjadi 128,7 pada September. Ini berarti konsumen melihat prospek ekonomi hingga 6 bulan ke depan lebih cerah.

Selain itu, pemerintah memaparkan realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sampai Agustus 2026 tercatat mengalami defisit sebesar Rp240,1 triliun atau 0,93% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Realisasi pendapatan negara tercatat baru 65,2% dari total target APBN yang sebesar Rp3.153 triliun, sementara realisasi belanja negara tercatat Rp2.295,7 triliun atau 59,7% dari target belanja yang mencapai Rp3.842 triliun.

Angka tersebut menurut para ekonom harus dibaca bersama dengan pos penerimaan yang masih berpotensi berubah, terutama restitusi. Kalau hanya melihat persentase realisasi, posisi APBN bisa terlihat lebih longgar daripada kondisi sebenarnya.

Baca Juga: Rupiah Buka Menguat ke Rp17.871, Tapi Diproyeksi Ditutup Melemah Hari Ini!

Baca Juga: Keluarga Jokowi Disebut Putar Bisnis Triliunan Rupiah, Kepala Bakom Pertanyakan Asalnya

Kualitas penerimaan di balik angka tersebut harus dilperhatikan dengan restitusi pajak yang belum dibayarkan dan berpotensi membuat penerimaan bersih untuk sementara terlihat lebih tinggi, meskipun negara sebenarnya memiliki kewajiban pengembalian kepada wajib pajak.

Ketika restitusi dicairkan pada kuartal IV, terutama bersamaan dengan meningkatnya pengembalian PPN eksportir dan penyelesaian kewajiban pajak badan, penerimaan bersih dapat turun dan defisit melebar tanpa ada tambahan belanja baru.

"Hal ini bukan berarti seluruh restitusi yang belum cair akan otomatis menjadi tambahan defisit. Besarnya dampak tergantung pada stok restitusi yang masih menunggu pembayaran dan kapan pembayaran tersebut dilakukan," jelas dia.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Dwi Aditya Putra

Tag Terkait: