Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Fenomena downgrading atau peralihan pilihan konsumsi masyarakat ke barang dan layanan yang lebih murah belakangan ini ramai diperbincangkan.
Hal ini terlihat dari perubahan gaya hidup, penurunan angka konsumsi, hingga penjualan aset akibat stagnasi pendapatan di tengah melonjaknya kebutuhan hidup.
Menanggapi hal tersebut, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Gadjah Mada (UGM), Wisnu Setiadi Nugroho PhD menilai bahwa fenomena ini bukanlah sekadar pilihan gaya hidup. Menurutnya, downgrading adalah respons rasional rumah tangga dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi.
"Downgrading sebagai respons rasional rumah tangga terhadap ketidakpastian ekonomi, bukan pilihan gaya hidup," kata Wisnu, Kamis (8/10).
Dalam teori ekonomi, langkah ini dikenal dengan istilah consumption smoothing. Rumah tangga berusaha menjaga stabilitas konsumsi inti, seperti pangan, kesehatan, dan pendidikan, dengan memangkas pengeluaran yang lebih fleksibel atau tersier.
Masyarakat berhemat bukan karena keinginan, melainkan karena terbatasnya ruang pilihan dalam mengatur anggaran.
Wisnu menggarisbawahi bahwa titik krusial dari fenomena ini terletak pada skala dan kelompok masyarakat yang terdampak.
Jika downgrading meluas hingga memengaruhi kelas menengah yang selama ini menjadi tulang punggung konsumsi nasional, hal tersebut harus menjadi perhatian serius.
"Kalau fenomena ini meluas, terutama di kelas menengah yang menyumbang porsi besar terhadap konsumsi nasional, itu seharusnya jadi alarm bahaya bagi pemerintah," tegasnya.
Menurutnya, terdapat dua faktor utama yang saling memperkuat tren downgrading, yakni stagnasi pendapatan riil, yakni kemampuan belanja riil menyusut akibat pendapatan yang stagnan berbenturan dengan kenaikan harga kebutuhan dasar, seperti pangan, energi, dan pendidikan.
Kedua, penurunan ekspektasi ekonomi, masyarakat menahan konsumsi akibat kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi masa depan, termasuk keamanan status pekerjaan.
"Kombinasi kedua faktor ini memicu pola trade down, yakni perpindahan masif dari merek premium ke merek ekonomis, serta meningkatnya popularitas pasar barang bekas," jelasnya.
Jika daya beli terus tertekan dalam jangka panjang, dampaknya akan merambat ke makroekonomi. Penahanan konsumsi akan memperlambat sektor perdagangan dan jasa, yang berujung pada penundaan ekspansi bisnis dan perekrutan tenaga kerja oleh pelaku usaha.
Kondisi paling ekstrem terjadi ketika masyarakat mulai bergantung pada utang jangka pendek atau menjual aset berharga.
"Ketika rumah tangga sampai menjual aset untuk menutup kebutuhan sehari-hari, itu tanda bahwa bantalan keuangan mereka sudah habis. Bukan lagi soal mengatur ulang prioritas belanja, tapi soal bertahan hidup," pungkas Wisnu.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Ferry Hidayat
Editor: Ferry Hidayat
Tag Terkait: