Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Bersama Paman Gibran dan Tokoh Besar di Wantimpres, Rocky Gerung: Saya Akan Solo Karier

Bersama Paman Gibran dan Tokoh Besar di Wantimpres, Rocky Gerung: Saya Akan Solo Karier Kredit Foto: Youtube Sekretariat Presiden
Warta Ekonomi, Jakarta -

Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Rocky Gerung menegaskan dirinya tidak akan mengubah cara berpikir setelah bergabung dalam lembaga penasihat Presiden Prabowo Subianto.

Rocky menyadari latar belakang para anggota Wantimpres cukup beragam. Ada tokoh organisasi, purnawirawan jenderal, politisi, tokoh agama, hingga pengusaha. Sementara itu, ia mengaku masuk dengan identitas yang lebih independen.

Seperti diketahui, 

  1. Sinta Nuriyah Wahid
  2. Muhammad Quraish Shihab
  3. Agum Gumelar
  4. Chairul Tanjung
  5. Said Aqil Siroj (Said Aqiel Siradj)
  6. Anwar Iskandar
  7. Yahya Cholil Staquf
  8. Jusuf Wanandi
  9. Budi Gunawan
  10. Bambang Soesatyo
  11. Salim Segaf Al-Jufri
  12. Soekarwo
  13. Dato' Sri Tahir
  14. Rocky Gerung
  15. Ida Bagus Purwalaksana
  16. Philip Kuntjoro Wijaya (Philip Kuncoro Wijaya)
  17. Budi Santoso Tanuwibowo
  18. Anwar Usman
  19. Mohamad Hatta (Muhamad Hatta)
  20. Jusuf Hamka
  21. Margarito Kamis
  22. Jacky Manuputty (Zaki Manuputi)
  23. Ignasius Jonan

Dalam perbincangannya bersama Akbar Faizal di kanal YouTube Akbar Faizal Uncensored yang tayang Kamis (8/10/2026), Rocky mengatakan perbedaan latar belakang tersebut membuat cara berpikir setiap anggota bisa berbeda.

"Pak Yahya Staquf punya latar belakang memimpin organisasi paling besar di Indonesia. Pasti cara dia berpikir beda dengan saya yang individual. Ada Pak Salim Segaf Al-Jufri, ada Jenderal Budi Gunawan, ada Dato Sri Tahir yang konglomerat. Jadi ya saya sendirian di situ sebetulnya yang enggak ada identitas komunalnya," jelas Rocky.

Menurut Rocky, perbedaan cara berpikir di antara anggota Wantimpres merupakan hal yang mungkin terjadi. Karena itu, ia tidak ingin pandangannya harus selalu disatukan dengan pendapat anggota lainnya sebelum disampaikan kepada Presiden.

Rocky menilai mekanisme kolektif berpotensi membuat gagasan mengalami perubahan karena harus melalui proses pembahasan dan kompromi.

"Kalau saya bersama (anggota lain), itu bukan pikiran saya lagi, kan? Itu pikiran dewan. Kebeningan isu dan ide yang harus disampaikan kepada presiden akhirnya diedit oleh basa-basi feudalisme. Supaya murni, ya individual saja," tegas Rocky.

Pilih Jalur Individual

Rocky mengatakan dirinya akan memanfaatkan ruang yang tersedia bagi anggota Wantimpres untuk menyampaikan pertimbangan kepada Presiden secara personal.

Menurut dia, penyampaian pertimbangan secara individual memungkinkan gagasan disampaikan secara langsung tanpa harus terlebih dahulu menjadi kesepakatan seluruh anggota dewan.

Cara tersebut juga dinilai Rocky dapat menjaga independensi pemikirannya setelah masuk ke lingkungan pemerintahan.

Ia menegaskan jabatan sebagai anggota Wantimpres tidak akan membuatnya mengubah identitas maupun cara berpikir yang selama ini digunakan ketika menyampaikan kritik.

"Enggak mungkin saya ubah identitas psikologi saya atau mode of thought saya hanya karena ada jabatan Wantimpres. Yang penting ada kejujuran memberitahu pada presiden mengenai konsekuensi etis dari suatu kebijakan. Enggak akan ada basa-basi di situ," pungkasnya.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat

Tag Terkait: