Bidik Kemandirian Industri Medis, Startup Indonesia-Malaysia Kembangkan Prostetik Berbasis AI
Kredit Foto: Rahmat Saepulloh
Sementara itu, di tengah peluang pertumbuhan industri, keterjangkauan produk masih menjadi tantangan utama. Inovasi teknologi tidak otomatis memperluas pasar apabila pengguna tidak memiliki kemampuan finansial untuk memperoleh perangkat yang dibutuhkan.
Arief menilai pengembangan industri prostetik perlu didukung mekanisme pembiayaan, distribusi, dan layanan yang berkelanjutan. Tantangan ini terutama dirasakan oleh pengguna yang kehilangan kemampuan bekerja setelah mengalami kecelakaan.
Selain pembiayaan, keterbatasan data kebutuhan pengguna juga memengaruhi pengembangan produk. Data administratif yang tersedia belum sepenuhnya menggambarkan kondisi dan kebutuhan spesifik masyarakat di lapangan.
Untuk menjangkau calon pengguna, pengembang perlu memanfaatkan komunitas, kelompok masyarakat, dan jaringan akar rumput.
"Pendekatan ini diperlukan agar desain teknologi yang dikembangkan sesuai dengan kondisi pengguna di Indonesia,"katanya.
Tantangan lainnya adalah ketersediaan layanan rehabilitasi. Berdasarkan catatan internal pengembang, dari 76 orang yang telah didata membutuhkan tangan prostetik, sebanyak 56 orang telah memperoleh akses terhadap produk tersebut.
Namun, dari kelompok yang diwawancarai, hanya dua orang yang disebut memperoleh rehabilitasi secara lengkap, mencakup aspek medis dan sosial. Angka tersebut merupakan data internal pengembang dan tidak dapat digeneralisasi sebagai gambaran seluruh pengguna prostetik di Indonesia.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penyediaan alat bantu perlu disertai pendampingan, pelatihan penggunaan, dan penyesuaian fisik agar produk dapat dimanfaatkan secara optimal.
Karena itu, pengembangan industri prostetik membutuhkan keterlibatan fasilitas kesehatan, tenaga medis, praktisi prostetik, serta penyedia teknologi untuk membangun layanan yang terintegrasi.
Kolaborasi KARLA Bionics dan Empowered Solutions juga membuka peluang pengembangan pusat inovasi prostetik di kawasan KPP. Fasilitas tersebut direncanakan menjadi ruang pengembangan teknologi, pembelajaran bagi praktisi, serta transfer pengetahuan dan teknologi antara mitra.
inovasi diharapkan dapat mempertemukan pengembangan perangkat keras, perangkat lunak, desain prostetik, dan manufaktur digital dalam satu ekosistem. Dengan demikian, inovasi tidak berhenti pada tahap prototipe, tetapi dapat diarahkan menuju produksi dan distribusi yang lebih terstruktur.
Dalam jangka panjang, pengembang menargetkan perluasan pasar, termasuk peluang ekspor melalui kolaborasi dengan Malaysia. Pengembangan produk untuk pasar internasional direncanakan dalam rentang tujuh tahun.
Baca Juga: Pakai ChatGPT hingga Grok di Kantor? ITSEC Ingatkan Risiko Data Bocor
Realisasi target tersebut akan bergantung pada kemampuan memenuhi standar klinis, menjaga konsistensi kualitas produksi, memperkuat kapasitas manufaktur, dan membangun jaringan distribusi yang berkelanjutan.
Bagi industri teknologi kesehatan Indonesia, kolaborasi ini menunjukkan bahwa peluang bisnis prostetik tidak hanya terletak pada penjualan alat bantu, tetapi juga pada pengembangan teknologi desain, manufaktur digital, layanan rehabilitasi, dan rantai pasok lokal.
Integrasi AI, 3D printing, dan penguatan kemampuan produksi domestik berpotensi menjadi fondasi bagi industri prostetik yang lebih kompetitif. Namun, keberhasilan komersialisasinya tetap membutuhkan keseimbangan antara inovasi, keterjangkauan harga, pemenuhan standar keselamatan, dan akses pengguna terhadap layanan pendukung.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Rahmat Saepulloh
Editor: Fajar Sulaiman
Tag Terkait: