Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Trump Tegaskan AS Tak Akan Serang Iran Sebelum Pemilu 3 November

Trump Tegaskan AS Tak Akan Serang Iran Sebelum Pemilu 3 November Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan negaranya tidak akan menyerang Iran sebelum pemilihan umum paruh waktu pada 3 November 2026. Pernyataan tersebut disampaikan melalui platform Truth Social pada Kamis (8/10).

"Kami tidak akan menyerang Iran sebelum Pemilihan Paruh Waktu digelar di Amerika Serikat pada 3 November," kata Trump.

Trump menyebut Washington dan Teheran saat ini tengah mengadakan "diskusi produktif". Meski demikian, ia menegaskan blokade terhadap Iran "akan tetap berlaku sepenuhnya".

Trump juga mengklaim pengiriman minyak melalui Selat Hormuz mencapai rekor pada Rabu (7/10), dengan volume mencapai 22 juta barel.

Pernyataan itu muncul di tengah laporan sejumlah media mengenai kemungkinan AS kembali melanjutkan perang melawan Iran. Sebelumnya, Trump bersama tim keamanan nasionalnya disebut telah membahas opsi untuk melanjutkan konflik tersebut.

Sejumlah pejabat AS mengatakan kepada Axios bahwa Trump telah memerintahkan Komando Pusat AS, yang bertanggung jawab atas operasi militer di Timur Tengah, untuk merampungkan persiapan menghadapi kemungkinan kembalinya pertempuran dengan Iran.

Sementara itu, laporan Atlantic menyebut Trump tengah mempertimbangkan serangan terhadap Teheran sebelum pemilu paruh waktu. Operasi militer tersebut diperkirakan dapat menyasar sektor energi, infrastruktur, dan fasilitas nuklir Iran.

Baca Juga: Memanas! Trump Respon Santai Ancaman Iran, Sebut Tak Peduli Kalau Los Angeles Dilenyapkan!

Axios juga memperingatkan bahwa jika perang kembali pecah dalam tiga hingga empat minggu mendatang, dampaknya berpotensi memengaruhi pemilu. Salah satu risikonya adalah kenaikan harga minyak sebagai respons terhadap eskalasi konflik.

Di sisi lain, tingkat popularitas Trump disebut telah merosot ke level terendah sepanjang sejarah. Namun, bahan yang tersedia tidak merinci angka survei maupun lembaga yang mengukur tingkat popularitas tersebut.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Christian Andy
Editor: Christian Andy