Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Saham Apple hingga Tesla Jadi Objek Taruhan di Polymarket dan Kalshi, Pasar Modal AS Ketar-ketir

Saham Apple hingga Tesla Jadi Objek Taruhan di Polymarket dan Kalshi, Pasar Modal AS Ketar-ketir Kredit Foto: Antara/Indrianto Eko Suwarso
Warta Ekonomi, Jakarta -

Platform pasar prediksi Polymarket dan Kalshi mulai merambah kontrak terkait saham perusahaan Amerika Serikat (AS), termasuk Apple, Tesla, dan Nvidia. Ekspansi ini memicu kekhawatiran mengenai perlindungan investor dan pengawasan regulator karena aktivitas pasar prediksi mulai bersinggungan dengan pasar keuangan.

Mengutip Reuters, analisis perusahaan riset blockchain Allium mencatat Polymarket International meluncurkan pasar terkait saham individual pada Oktober 2025. Hingga awal September 2026, pengguna telah memasang taruhan senilai lebih dari US$220 juta di sekitar 31.000 pasar terkait ekuitas.

Hampir 60 persen aktivitas tersebut berkaitan dengan pergerakan saham individual. Nvidia, Alphabet selaku induk Google, Apple, dan Tesla menjadi saham yang paling banyak diminati. Sisanya terkait dengan dana yang diperdagangkan di bursa (exchange-traded fund/ETF) atau indeks saham.

Dalam mekanisme pasar prediksi, pengguna umumnya memilih kontrak “ya” atau “tidak” untuk memperkirakan apakah saham atau indeks akan menyentuh level tertentu pada tanggal yang ditetapkan.

Allium mengidentifikasi satu dompet digital yang mencatat volume transaksi sebesar US$175.000 melalui sekitar 1.300 transaksi terkait saham Apple. Pengguna dompet tersebut menyusun posisi untuk memperoleh keuntungan kecil terlepas dari hasil kontrak “ya” atau “tidak”.

Sementara itu, Kalshi tidak menawarkan kontrak yang secara langsung terkait dengan saham individual. Namun, platform tersebut menyediakan sekitar 2.500 pasar yang berkaitan dengan indeks dan indikator kinerja utama (key performance indicators/KPI) perusahaan pada hari tertentu, termasuk peluncuran iPhone dan pengiriman kendaraan Tesla.

Perluasan produk tersebut memunculkan pertanyaan mengenai batas pengawasan pasar prediksi dan pasar sekuritas konvensional. Para ahli hukum memperingatkan, pertumbuhan kontrak berbasis saham dan indikator kinerja perusahaan berpotensi memengaruhi perdagangan aset yang mendasarinya sekaligus menyulitkan pengawasan pasar.

“Ini adalah babak baru dalam struktur pasar. Ini adalah inovasi yang luar biasa,” kata Wakil Dekan Fakultas Hukum Universitas Vanderbilt Yesha Yadav, seperti dikutip Reuters pada Sabtu (10/10/2026).

Yadav menilai regulator perlu merespons perkembangan produk tersebut secara sigap dan kreatif.

Polymarket dan Kalshi menyatakan memantau potensi pelanggaran serta merujuk kasus kepada otoritas AS. Polymarket juga menyebut telah memblokir pengguna AS dari platform internasionalnya.

“Integritas pasar adalah inti dari cara kami beroperasi,” kata juru bicara Polymarket.

Komisi Perdagangan Berjangka Komoditas AS (Commodity Futures Trading Commission/CFTC) menyatakan memiliki kewenangan pengawasan terhadap pasar prediksi karena aktivitasnya melibatkan kontrak derivatif. Namun, muncul pula desakan agar Komisi Sekuritas dan Bursa AS (Securities and Exchange Commission/SEC) mengambil peran dalam mengawasi produk yang berkaitan dengan saham.

Berdasarkan hukum AS, kontrak yang terkait dengan satu saham umumnya dapat dikategorikan sebagai security-based swap (SBS), yakni instrumen derivatif yang berada di bawah pengawasan SEC dan penggunaannya dibatasi oleh ketentuan tertentu, terutama bagi investor nonprofesional.

Para ahli hukum juga menilai sejumlah kontrak berbasis KPI berpotensi memenuhi kriteria SBS. Namun, juru bicara Kalshi membantah bahwa kontrak tersebut termasuk dalam kategori itu. Sementara itu, juru bicara Polymarket mengatakan perusahaan tengah bekerja sama dengan lembaga terkait untuk membahas penerapan definisi swap dan SBS terhadap kontrak berbasis peristiwa.

Pada Juni 2026, regulator terkait bersama-sama meminta masukan publik mengenai persoalan tersebut.

Mantan pejabat SEC Ben Schiffrin turut memperingatkan risiko perdagangan orang dalam pada kontrak berbasis KPI. Menurut dia, informasi internal perusahaan dapat dimanfaatkan untuk mengambil posisi sebelum informasi tersebut diketahui publik.

“Praktik perdagangan orang dalam bisa terjadi pada indikator kinerja utama (KPI) ini semudah praktik tersebut terjadi pada saham,” katanya.

Perusahaan keuangan konvensional dan kelompok konsumen mendorong SEC memimpin pengawasan karena lembaga tersebut memiliki keahlian dalam mengawasi pasar sekuritas.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Azka Elfriza
Editor: Annisa Nurfitri

Tag Terkait: