Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Jokowi dan Prabowo Disebut Merenggang? Arifki Ingatkan Jangan Gegabah

Jokowi dan Prabowo Disebut Merenggang? Arifki Ingatkan Jangan Gegabah Kredit Foto: Baznas
Warta Ekonomi, Jakarta -

Dinamika politik menuju Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029 mulai memunculkan pertanyaan mengenai arah hubungan Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi). Namun, perbedaan penekanan dalam pernyataan publik keduanya belum cukup untuk memastikan adanya keretakan politik.

Pengamat politik sekaligus Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Indonesia, Arifki Chaniago, menilai situasi tersebut perlu dibaca sebagai bagian dari kalkulasi politik yang masih berkembang. Menurutnya, para elite belum ingin mengunci seluruh pilihan politik terlalu dini, meskipun sejumlah sinyal menuju Pilpres 2029 mulai terlihat.

Salah satu sinyal itu datang dari Partai Golkar yang telah menyatakan dukungan kepada Prabowo untuk kembali maju sebagai calon presiden pada 2029. Di sisi lain, Jokowi justru mengingatkan bahwa pemilu masih jauh, sehingga belum ada alasan untuk memastikan seluruh konfigurasi politik telah terbentuk.

Arifki menilai dua sikap tersebut tidak serta-merta menunjukkan pertentangan. Golkar dapat menegaskan loyalitas kepada Prabowo sebagai presiden yang sedang menjabat, sementara Jokowi tetap menjaga ruang bagi dinamika politik yang belum final.

“Golkar mengunci Prabowo, tetapi belum mengunci cawapres. Sementara Jokowi memilih mengingatkan bahwa Pemilu masih jauh. Ini menunjukkan bahwa ruang politik menuju 2029 masih terbuka,” ujar Arifki, Sabtu (10/10/2026).

Menurut Arifki, Golkar memiliki kepentingan untuk menunjukkan sikap tegak lurus kepada Prabowo. Sebagai partai dengan beragam kekuatan dan kepentingan internal, Golkar perlu menjaga konsistensi dukungan agar tidak dianggap sedang membangun alternatif kepemimpinan di luar presiden yang sedang menjabat.

Meski demikian, penetapan Prabowo sebagai calon presiden belum menjawab siapa yang akan menjadi pendampingnya. Arifki menilai belum ditentukannya calon wakil presiden membuat peluang Gibran Rakabuming Raka untuk kembali masuk dalam perhitungan politik masih terbuka.

“Golkar bukan partai dengan satu pemilik saham mayoritas yang bisa menentukan seluruh arah politik secara sepihak. Karena itu, terlalu berisiko jika Golkar terkesan tidak tegak lurus dengan Prabowo. Namun, dukungan kepada Prabowo sebagai capres tidak otomatis menutup peluang Gibran,” katanya.

Arifki juga menyoroti kemungkinan adanya perubahan dinamika hubungan Jokowi dan Prabowo menjelang kontestasi politik berikutnya. Namun, ia mengingatkan bahwa perbedaan pernyataan atau sikap politik belum dapat dijadikan bukti bahwa hubungan keduanya benar-benar memburuk.

Ia menggambarkan langkah Golkar dan Jokowi sebagai upaya menjaga ruang gerak di tengah ketidakpastian peta politik. Golkar memperjelas dukungannya kepada Prabowo, sedangkan belum adanya kepastian mengenai cawapres membuat sejumlah kemungkinan tetap terbuka.

“Saya melihat ada kemungkinan Golkar dan Jokowi sedang bergerak tanpa bola. Mereka menjaga ruang manuver, membaca perkembangan politik, dan tidak ingin terlalu dini mengunci pilihan,” ujar Arifki.

Baca Juga: Jokowi Tak Ingin Terus Terseret Polemik Ijazah, Pengacara Ungkap Keinginannya di Persidangan

Ia menambahkan, pernyataan Jokowi yang tidak secara eksplisit memastikan pasangan Prabowo-Gibran untuk dua periode juga tidak otomatis berarti dukungannya kepada Gibran telah berubah. Begitu pula keputusan Golkar yang belum menentukan cawapres tidak dapat langsung diartikan sebagai sinyal bahwa Gibran tersingkir.

Pada akhirnya, arah Pilpres 2029 masih akan dipengaruhi oleh sejumlah faktor, mulai dari kinerja pemerintahan, dinamika koalisi, hingga kesepakatan antarpartai menjelang pemilihan. Karena itu, sinyal politik yang muncul saat ini belum cukup untuk memastikan siapa yang akan berpasangan dengan Prabowo atau bagaimana posisi Jokowi dalam konfigurasi tersebut.

Arifki menilai hal yang menarik untuk dicermati bukan hanya siapa yang mendukung siapa, melainkan bagaimana para elite mempertahankan pilihan politik mereka tanpa terlalu cepat menutup kemungkinan lain. Dengan demikian, dugaan keretakan Jokowi dan Prabowo perlu ditempatkan sebagai spekulasi yang belum terbukti, sementara manuver menuju Pilpres 2029 masih terus berkembang.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Wahyu Pratama