Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

IMF Peringatkan Lonjakan Harga Pangan dan Energi Bisa Tekan Daya Beli Jangka Panjang

IMF Peringatkan Lonjakan Harga Pangan dan Energi Bisa Tekan Daya Beli Jangka Panjang Kredit Foto: IMF
Warta Ekonomi, Jakarta -

Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) memperingatkan lonjakan harga kebutuhan pokok, terutama pangan dan energi, dapat menekan daya beli masyarakat dalam jangka panjang. 

Dampaknya berpotensi lebih berat bagi rumah tangga berpenghasilan rendah yang mengalokasikan sebagian besar pendapatannya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Peringatan tersebut disampaikan IMF melalui kajian yang menjadi bagian dari laporan *World Economic Outlook* edisi Oktober 2026. Kajian itu menyoroti dampak krisis biaya hidup terhadap inflasi, tingkat kemiskinan, ketimpangan, serta stabilitas perekonomian.

IMF mencatat, lonjakan harga kebutuhan pokok yang terjadi berulang kali dalam beberapa tahun terakhir tidak hanya meningkatkan biaya hidup masyarakat, tetapi juga meninggalkan dampak berkepanjangan terhadap ekspektasi inflasi. Bahkan, tekanan tersebut dapat bertahan setelah kenaikan harga pangan dan energi mulai mereda.

"Kami menemukan harga barang kebutuhan pokok relatif terhadap barang-barang lain terus meningkat selama lebih dari satu tahun setelah dimulainya suatu kejadian tipikal, dan tetap tinggi secara terus-menerus," tulis laporan IMF dalam sebuah unggahan blog yang menyertai laporan terbarunya seperti dilansir The Manila Times, Senin (12/10/2026).

Kondisi tersebut membuat kelompok masyarakat berpenghasilan rendah semakin rentan. Ketika harga pangan, listrik, dan bahan bakar meningkat lebih cepat dibandingkan pendapatan, kemampuan rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan lainnya menjadi semakin terbatas.

Baca Juga: Bukan Daya Beli Melemah, Masyarakat Kini Lebih Banyak Belanja untuk Jalan-Jalan

Baca Juga: Sebelum Dicopot, Purbaya: Negara Tak Perlu Pinjam IMF jika Hadapi Bencana Besar

IMF juga menemukan bahwa ekspektasi inflasi jangka pendek dan menengah meningkat secara signifikan selama krisis biaya hidup. Tingkat ekspektasi tersebut bahkan dapat bertahan di atas posisi sebelum krisis hingga tiga tahun setelah krisis dimulai.

"Ekspektasi inflasi juga naik dan bertahan di atas level pra-krisis selama bertahun-tahun, yang menunjukkan bahwa episode ini dapat mempersulit upaya bank sentral untuk mengendalikan inflasi," tulis IMF.

Tekanan harga yang berkepanjangan juga berpotensi meningkatkan risiko kenaikan suku bunga apabila bank sentral perlu mengambil langkah tambahan untuk mengendalikan inflasi.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Dwi Aditya Putra