Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Bukan Daya Beli Melemah, Masyarakat Kini Lebih Banyak Belanja untuk Jalan-Jalan

Bukan Daya Beli Melemah, Masyarakat Kini Lebih Banyak Belanja untuk Jalan-Jalan Kredit Foto: Aryo Hadi Wibowo
Warta Ekonomi, Jakarta -

Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomia, Drajad Hari Wibowo, membantah, anggapan daya beli masyarakat Indonesia mengalami pelemahan.

Menurutnya, daya beli masyarakat masih terjaga, tetapi terjadi pergeseran pola konsumsi yang membuat pengeluaran masyarakat kini lebih banyak mengarah ke sektor transportasi dan pariwisata.

“Jadi yang terjadi, itu bukan daya beli melemah, enggak sama sekali, enggak betul. Yang terjadi adalah pergeseran pola konsumsi masyarakat yang sangat signifikan,” ujar Drajad dalam pertemuan dengan BPS, Senin (12/10/2026).

Ia menyimpulkan setelah dirinya melakukan pertemuan dan berdiskusi dengan jajaran Badan Pusat Statistik (BPS). Dalam pertemuan itu, pemerintah memperoleh sejumlah data yang menjadi bahan evaluasi untuk merumuskan kebijakan ekonomi, terutama dalam menjaga pertumbuhan ekonomi pada kuartal III dan kuartal IV 2026.

"Salah satu indikasi yang menunjukkan konsumsi masyarakat masih berjalan terlihat dari tingginya pertumbuhan sektor transportasi dan aktivitas yang berkaitan dengan pariwisata," ujar Drajad di kantor BPS.

Masyarakat dinilai semakin banyak mengalokasikan pengeluaran untuk bepergian atau melakukan perjalanan wisata, yang kemudian turut mendorong aktivitas ekonomi di sektor pendukung.

Selain transportasi, Drajad juga menyoroti peningkatan konsumsi di restoran dan hotel. Menurutnya, perubahan tersebut memperlihatkan bahwa pengeluaran masyarakat tidak hanya berpusat pada pembelian barang, tetapi juga bergeser ke konsumsi jasa dan pengalaman, termasuk aktivitas rekreasi dan perjalanan.

Indikator lainnya, kata Drajad, terlihat dari peningkatan transaksi melalui Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS). Ia menilai kenaikan transaksi tersebut mencerminkan aktivitas transaksi masyarakat yang semakin ramai. Meski demikian, peningkatan transaksi digital perlu dibaca bersama indikator konsumsi lainnya untuk menggambarkan kondisi daya beli secara menyeluruh.

Drajad menambahkan, pergeseran pola konsumsi juga terjadi pada pembelian barang. Ia mencontohkan konsumsi alas kaki, seperti sepatu, yang sebelumnya menjadi salah satu jenis pengeluaran masyarakat. Menurutnya, perubahan pola belanja tersebut perlu dipahami agar penurunan konsumsi pada kelompok barang tertentu tidak serta-merta diartikan sebagai pelemahan daya beli secara keseluruhan.

Pergeseran konsumsi juga terlihat pada meningkatnya aktivitas belanja melalui marketplace dan platform daring. Drajad menilai perubahan saluran belanja serta pilihan konsumsi masyarakat menjadi hal yang perlu diperhatikan pemerintah dalam membaca perkembangan ekonomi. Karena itu, ia menekankan pentingnya penggunaan data untuk memastikan kebijakan yang diambil sesuai dengan kondisi ekonomi yang sebenarnya.

Kepala Badan Pusat Statistik Amalia Adininggar Widyasanti turut menyampaikan bahwa data statistik menunjukkan konsumsi masyarakat Indonesia masih kuat.

Baca Juga: Ada Reshuffle dan Rilis Data BPS, Rupiah Tertekan Dekati Level Rp18.000 per USD

Baca Juga: Apindo Bongkar Biang Daya Beli Melemah: Kelas Menengah Makin Tertekan

"Konsumsi masyarakat tetap tumbuh di atas 5% selama semester I 2026," kata Amalia di pertemuan Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian dengan BPS.

Kondisi tersebut menjadi salah satu indikator yang digunakan untuk melihat perkembangan daya beli masyarakat di tengah perubahan pola pengeluaran.

Amalia menjelaskan, rekaman data BPS juga memperlihatkan adanya perubahan pola konsumsi masyarakat yang dipengaruhi gaya hidup dan meningkatnya mobilitas.

Pertumbuhan konsumsi pada sektor transportasi, restoran, dan hotel menjadi salah satu gambaran bahwa pengeluaran masyarakat semakin mengarah pada aktivitas perjalanan dan pariwisata.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Aryo Hadi Wibowo
Editor: Dwi Aditya Putra