Kredit Foto: Ist
Sikap mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang belakangan tak lagi lantang mendorong duet Prabowo Subianto–Gibran Rakabuming Raka untuk dua periode memunculkan tanda tanya.
Pernyataan terbarunya soal Pemilu 2029 masih jauh dinilai bisa menjadi sinyal adanya perubahan kalkulasi politik, terutama menyangkut masa depan putra sulungnya, Gibran.
Pengamat komunikasi politik Universitas Esa Unggul, M. Jamiluddin Ritonga, melihat setidaknya ada dua kemungkinan yang melatarbelakangi perubahan narasi Jokowi. Pertama, Jokowi diduga mulai realistis menghadapi situasi politik Gibran setelah putusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait gugatan persyaratan pendidikan Wakil Presiden tersebut.
Baca Juga: PKS Dukung Prabowo sampai 2029, Selanjutnya Belum Pasti
Jamiluddin menilai polemik itu berpotensi memengaruhi reputasi dan kredibilitas Gibran, yang dianggap penting untuk menghadapi kontestasi politik berikutnya.
Dalam situasi tersebut, menurut Jamiluddin, Jokowi mungkin tidak lagi memprioritaskan wacana dua periode bagi pasangan Prabowo-Gibran. Menjaga agar Gibran tetap bertahan di kursi Wakil Presiden tanpa menghadapi pemakzulan bisa menjadi perhatian yang lebih mendesak.
Jamiluddin menduga Jokowi akan berupaya mempertahankan posisi politik Gibran dengan memanfaatkan pengaruh yang masih dimilikinya. Salah satu langkah yang mungkin ditempuh, menurutnya, adalah melakukan lobi kepada para ketua umum partai politik, termasuk Prabowo yang kini menjabat sebagai presiden.
"Untuk itu, Jokowi tampaknya akan menggunakan sisa-sisa pengaruhnya untuk melobi para ketua umum partai untuk tidak memakzulkan Gibran. Termasuk tentunya Presiden Prabowo Subianto,” ungkap Jamiluddin kepada wartawan, dikutip Senin (12/10/2026).
Baca Juga: Faisol Riza: PKB 1.000% Dukung Prabowo Maju Capres 2029 Tanpa Alasan
Namun, Jamiluddin juga melihat kemungkinan kedua, yakni Jokowi sengaja menjaga jarak dari pembicaraan mengenai Pilpres 2029 karena belum ingin mengunci pilihan politiknya terlalu dini. Dengan menyebut pemilu masih jauh, Jokowi dinilai memiliki ruang untuk menyesuaikan strategi berdasarkan perkembangan politik menjelang kontestasi.
Menurut Jamiluddin, Jokowi mungkin tidak ingin masa depan politik Gibran sepenuhnya bergantung pada keputusan Prabowo dan koalisi partai pendukung pemerintah. Karena itu, peluang Gibran untuk maju sebagai calon presiden maupun kembali menjadi calon wakil presiden dinilai masih bisa dipertimbangkan.
Jamiluddin menduga, apabila menjelang Pilpres 2029 peluang Prabowo dinilai melemah, Jokowi bisa mempertimbangkan Gibran sebagai calon presiden dengan menggandeng sosok yang memiliki elektabilitas tinggi. Sebaliknya, jika Prabowo masih memiliki peluang politik yang kuat, Jokowi diperkirakan akan berupaya mempertahankan Gibran sebagai calon wakil presiden.
"Jadi, perubahan sikap itu tampaknya disengaja. Sebab dengan perubahan sikap itu Jokowi bisa lebih bebas menentukan Gibran menjadi capres atau tetap menjadi cawapres,” sebut Ritonga.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri
Tag Terkait: