Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Bukan Gara-Gara Pedagang Nasi, Ini Awal Mula Bentrokan Satpol PP dan Pekerja Proyek di Bulungan

Bukan Gara-Gara Pedagang Nasi, Ini Awal Mula Bentrokan Satpol PP dan Pekerja Proyek di Bulungan Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Warta Ekonomi, Jakarta -

Video keributan antara petugas penertiban dan sejumlah pekerja proyek di kawasan Bulungan, Jakarta Selatan, ramai diperbincangkan di media sosial. Namun, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan bahwa kejadian tersebut bukan bermula dari penertiban pedagang nasi, melainkan operasi terhadap kendaraan yang parkir liar.

Pramono menjelaskan petugas gabungan saat itu sedang menjalankan tugas penertiban di sekitar Kolam Renang Bulungan, Kebayoran Baru. Karena itu, ia meminta masyarakat tidak langsung menyimpulkan penyebab kejadian hanya berdasarkan potongan video yang beredar.

Menurut Pramono, persoalan utama yang terjadi adalah keributan saat petugas menjalankan penertiban parkir. Ia juga menegaskan bahwa tindakan kekerasan terhadap anggota Satpol PP yang kemudian terjadi tetap harus ditangani melalui proses hukum.

Kronologi kejadian dijelaskan oleh Kepala Satpol PP Kecamatan Kebayoran Baru, Diki Zulkanain. Ia mengatakan operasi gabungan dilakukan bersama Dinas Perhubungan (Dishub), TNI, dan kepolisian pada Kamis (8/10/2026) setelah masyarakat berulang kali mengeluhkan parkir liar yang menghambat lalu lintas.

Lokasi penertiban berada di Jalan Hang Tuah Raya, tepatnya di antara Kolam Renang Bulungan dan kantor PLN. Kendaraan yang parkir tidak pada tempatnya disebut kerap menimbulkan kemacetan sehingga petugas turun untuk melakukan penindakan.

Dalam operasi itu, Dishub menjalankan tindakan cabut pentil terhadap sepeda motor yang ditemukan parkir sembarangan. Tindakan tersebut kemudian memicu protes dari sejumlah pekerja proyek yang berada di sekitar lokasi.

Menurut Diki, perselisihan bermula ketika para pekerja memprotes tindakan petugas. Keributan kemudian terjadi antara pekerja proyek dan petugas Dishub, sebelum situasi berlanjut ketika petugas mulai meninggalkan lokasi.

Dalam rangkaian kejadian itu, seorang anggota Satpol PP dilaporkan turut menjadi korban kekerasan. Pramono menyebut petugas tersebut dipukul dan dihantam menggunakan helm hingga harus mendapatkan perawatan di Puskesmas Kelurahan Selong dan menerima enam jahitan.

Peristiwa tersebut membuat Pramono menegaskan bahwa petugas yang menjalankan tugas tidak boleh menjadi sasaran kekerasan. Ia meminta proses hukum tetap berjalan meski pihak manajemen proyek telah mendatangi kantor kecamatan untuk menyampaikan permintaan maaf.

“Tetapi sekali lagi saya minta hukum tetap ditegakkan, tetapi tentunya kita tetap membuka silaturahmi untuk itu,” kata Pramono.

Baca Juga: Pramono Ungkap Alasan Kebijakan Sekolah Integrasi di Jakarta: Lahan Mahal

Sementara itu, keberadaan pedagang nasi di sekitar lokasi memang disebut dalam penjelasan pihak Satpol PP. Namun, menurut Diki, petugas hanya mengingatkan pedagang tersebut agar tidak menggunakan fasilitas umum untuk berjualan.

Setelah mendapat imbauan, pedagang itu disebut berpindah dari lokasi. Diki menjelaskan bahwa petugas tidak sedang melakukan penertiban khusus terhadap pedagang nasi tersebut ketika keributan dengan pekerja proyek terjadi.

Keterangan itu menjadi penting untuk membedakan keberadaan pedagang di sekitar lokasi dengan pemicu bentrokan. Berdasarkan penjelasan pemerintah daerah dan pihak Satpol PP, operasi yang berlangsung saat kejadian berfokus pada penertiban parkir liar akibat keluhan masyarakat.

Setelah kejadian, manajemen proyek mendatangi Kantor Kecamatan Kebayoran Baru untuk menyampaikan permintaan maaf. Pramono meminta Kepala Satpol PP DKI Jakarta, Satriadi Gunawan, mendengarkan penjelasan pihak manajemen, tetapi ia tetap menghendaki dugaan kekerasan diproses sesuai hukum.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Wahyu Pratama