Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Menperin Dorong Ulos Naik Kelas, Peluang Bisnisnya Tak Boleh Berhenti di Kain Tradisional

Menperin Dorong Ulos Naik Kelas, Peluang Bisnisnya Tak Boleh Berhenti di Kain Tradisional Kredit Foto: Ilham Nurul Karim
Warta Ekonomi, Jakarta -

Menteri Perindustrian (Menperin), Muhammad Sarmuji mendorong pengembangan tenun ulos agar tidak hanya bertahan sebagai warisan budaya, tetapi juga memberikan nilai tambah ekonomi bagi para perajin. Upaya tersebut dilakukan melalui penguatan kapasitas industri kecil dan menengah (IKM), inovasi produk, serta perluasan akses pasar.

Sarmuji menyampaikan hal tersebut saat membuka Pameran Tenun Ulos yang diselenggarakan Forum Konferensi Perempuan Huria Kristen Batak Protestan (HKBP).

Menurut dia, ulos memiliki potensi ekonomi yang dapat dikembangkan seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap produk lokal. Pengembangan produk juga perlu mengikuti kebutuhan pasar tanpa menghilangkan karakter budaya yang melekat pada kain tradisional tersebut.

"Saat ini ulos telah dikembangkan dalam berbagai bentuk produk, mulai dari busana yang siap pakai, aksesori fashion, produk dekorasi interior, dan berbagai produk cenderamata," kata Sarmuji dalam sambutannya di gedung Kemenperin di Jakarta Selatan, Selasa (13/10/2026).

Dia menilai diversifikasi produk menjadi salah satu cara untuk menjaga keberlangsungan industri tenun tradisional. Dengan pengembangan desain dan bentuk produk, ulos berpeluang menjangkau konsumen yang lebih luas, termasuk masyarakat yang ingin menggunakan kain tradisional dalam kehidupan modern.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang disampaikan Sarmuji, terdapat 43 sentra tenun ulos yang tersebar di sejumlah kabupaten dan kota di Sumatera Utara, antara lain Tapanuli Utara, Toba, dan Simalungun.

Keberadaan sentra tersebut menunjukkan bahwa ulos memiliki basis produksi yang dapat dikembangkan lebih lanjut. Namun, pengembangan industri ini masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari keberlanjutan keterampilan menenun hingga kemampuan pelaku usaha mengikuti selera pasar.

Sarmuji menyoroti regenerasi perajin dan minat generasi muda sebagai persoalan yang perlu mendapat perhatian. Selain itu, peningkatan kualitas produk, inovasi desain, dan kemampuan usaha dalam memenuhi kebutuhan konsumen juga menjadi bagian dari tantangan pengembangan tenun tradisional.

"Kita tidak hanya cukup menjaga ulos sebagai sebuah tradisi, tetapi harus memastikan bahwa ulos akan tetap hidup, digunakan, berkembang, dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat yang menjaganya," ujarnya.

Ekspor Tenun Ikat Tumbuh 150%

Selain pasar domestik, pemerintah juga melihat peluang pengembangan tenun tradisional melalui perdagangan internasional.

Sarmuji menyampaikan, nilai ekspor tenun ikat Indonesia pada 2025 mencapai US$28.000. Kinerja tersebut berlanjut pada semester I/2026, dengan nilai ekspor sebesar US$34.000.

Nilai ekspor tersebut meningkat 150% dibandingkan periode yang sama pada 2025, ketika ekspor tenun ikat tercatat sebesar US$13.600.

Pemerintah berupaya memperkuat daya saing industri tenun tradisional melalui sejumlah program pembinaan IKM. Langkah tersebut mencakup penguatan sumber daya manusia dan kewirausahaan, fasilitasi indikasi geografis untuk melindungi kekhasan produk daerah, serta peningkatan kapasitas dan produktivitas usaha.

Baca Juga: Menperin Ungkap Rencana Akuisisi Perusahaan Tekstil oleh Danantara

Baca Juga: Menperin Sentil Pemda, Lahan dan Infrastruktur Jadi Kunci Kawasan Industri

Kementerian Perindustrian juga mendorong revitalisasi sentra, restrukturisasi mesin dan peralatan, jaminan bahan baku, serta pemanfaatan teknologi dalam proses produksi. Di sisi pemasaran, pemerintah memberikan fasilitasi promosi dan keikutsertaan dalam pameran di dalam maupun luar negeri.

Menurut Sarmuji, upaya tersebut diperlukan agar pengembangan industri tenun dapat berjalan seiring dengan pelestarian budaya.

Dia menegaskan, ulos bukan sekadar kain tradisional, melainkan bagian dari identitas masyarakat Batak yang memiliki peran dalam berbagai tahapan kehidupan, mulai dari kelahiran, pernikahan, hingga upacara kedukaan.

Melalui pengembangan industri tenun, pemerintah berharap para perajin, khususnya perempuan, memperoleh kesempatan lebih luas untuk berkarya dan meningkatkan kesejahteraan.

Pameran Tenun Ulos tersebut mengangkat tema "Menenun Harapan, Merajut Kemandirian". Sarmuji berharap kegiatan itu dapat meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap karya perajin sekaligus mendorong generasi muda untuk mengenal dan menggunakan produk budaya Nusantara.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Ilham Nurul Karim
Editor: Dian Ihsan