Yunarto Wijaya Bongkar Alasan Tinggalkan Jokowi: Nilai yang Dulu Saya Percaya Berubah
Kredit Foto: Setneg
Tahun 2023 menjadi titik balik bagi Yunarto Wijaya dalam memandang Joko Widodo. Direktur Eksekutif Charta Politika Indonesia itu menilai sejumlah keputusan politik Jokowi menjelang Pemilihan Presiden 2024 bertentangan dengan nilai yang dahulu membuatnya memberikan dukungan.
Yunarto mengungkapkan perubahan pandangannya dalam podcast Akbar Faizal Uncensored. Ia mengatakan, keputusan politik Jokowi pada periode tersebut membuatnya mempertanyakan konsistensi mantan presiden itu terhadap prinsip yang selama ini ia pahami.
"Beliau mengambil posisi yang totally menegasikan semua yang kita lihat ada sebagai nilai-nilai itu dalam dirinya," ujar Yunarto.
Sebelum perubahan itu terjadi, Yunarto mengaku tertarik pada sosok Jokowi karena gagasan dan pendekatan politiknya. Ia bahkan belum mengenal Jokowi secara pribadi ketika mantan Wali Kota Solo itu mulai maju dalam pemilihan gubernur Jakarta.
Menurut Yunarto, Jokowi ketika itu memiliki karakter yang berbeda. Ia bukan ketua partai politik, memiliki rekam jejak memimpin Solo, dan dinilai mampu membangun komunikasi yang egaliter.
Hal-hal tersebut menjadi alasan Yunarto mendukung Jokowi, bukan karena berharap mendapatkan jabatan. Ia mengatakan ketertarikannya berangkat dari nilai yang diyakini dibawa Jokowi dalam praktik politiknya.
Selama Jokowi menjabat sebagai presiden, Yunarto mengaku masih bisa menerima sejumlah keputusan yang berada di wilayah abu-abu. Ia memahami politik tidak selalu hitam putih sehingga tidak semua perbedaan langsung membuatnya menarik dukungan.
Akan tetapi, Yunarto menilai situasi berubah ketika memasuki tahun politik 2023. Ia melihat keputusan-keputusan Jokowi saat itu semakin sulit diselaraskan dengan prinsip yang sebelumnya menjadi dasar dukungannya.
Salah satu kritik utama Yunarto berkaitan dengan arah politik yang ia nilai berubah dari pendekatan bawah ke atas menjadi sangat terpusat dari atas ke bawah. Ia mengaitkan perubahan tersebut dengan praktik politik dinasti yang menurutnya berlangsung ketika Jokowi masih berkuasa.
Yunarto membandingkan situasi itu dengan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dan Megawati Soekarnoputri. Menurut dia, praktik politik dinasti yang ia kritik tidak terjadi seekstrem yang ia nilai berlangsung pada masa Jokowi.
Persoalan lain yang memperlebar jarak Yunarto adalah keputusan Jokowi mendukung Prabowo Subianto sebagai calon presiden. Yunarto menilai dukungan tersebut sulit dipahami karena ia melihat perbedaan ideologis yang besar antara Jokowi dan Prabowo.
Ia mengakui keputusan Jokowi menerima Prabowo sebagai Menteri Pertahanan masih bisa dipahami sebagai bagian dari upaya menjaga harmoni politik. Namun, dukungan kepada Prabowo untuk menjadi presiden dinilainya berbeda karena menyangkut arah kepemimpinan nasional dan gagasan yang akan dibawa.
Baca Juga: Yunarto Wijaya Ungkap Alasan Dulu Dukung Jokowi: Bukan karena Jabatan, tetapi.....
Yunarto kemudian menghubungkan keputusan tersebut dengan dugaan transaksi politik yang menurutnya berkaitan dengan posisi Gibran Rakabuming Raka.
"Artinya kita lihat beliau sedang tidak berpikir tentang negara. Beliau menggadaikan apa yang sudah dia perjuangkan untuk sebuah transaksi politik. Kompensasinya apa? Anaknya," ujarnya.
Ia juga menilai perkembangan politik berikutnya memperlihatkan ketidaksesuaian pemikiran yang telah ia persoalkan.
"Apa yang saya sebutkan barusan tadi sekarang terbukti. Perlahan terbuka ketidaksesuaian pemikiran. Tidak pernah ada perbincangan mengenai program," kata Yunarto.
Kritik tersebut menunjukkan bahwa jarak politik Yunarto dengan Jokowi tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan melalui perubahan penilaiannya terhadap keputusan-keputusan politik yang diambil mantan presiden itu. Meski demikian, tudingan mengenai transaksi politik dan politik dinasti merupakan pandangan Yunarto yang perlu dibedakan dari fakta yang telah terverifikasi secara independen.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Wahyu Pratama
Tag Terkait: