Keterbatasan Akses Hambat Pembangunan Jalan Desa, 18 Mobile Batching Plant Dioperasikan
Kredit Foto: Kementerian PU
Keterbatasan akses transportasi dan sulitnya menjangkau lokasi proyek masih menjadi tantangan dalam pembangunan infrastruktur di wilayah terpencil. Kondisi geografis yang tidak selalu mendukung mobilitas kendaraan besar dapat menyulitkan pengiriman material, termasuk beton untuk pembangunan jalan desa.
Untuk mengatasi kendala tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Barat menyediakan 18 unit mobile batching plant, kendaraan yang mampu memproduksi beton langsung di lokasi proyek. Penggunaan teknologi ini memungkinkan pekerjaan pengecoran dilakukan tanpa sepenuhnya bergantung pada pasokan beton dari pabrik eksternal.
Kepala Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang Jawa Barat Agung Wahyudi mengatakan, mobile batching plant dirancang untuk mendukung pembangunan jalan di lokasi yang sulit dijangkau truk molen konvensional.
Kendaraan tersebut menggabungkan fungsi pemuatan, penimbangan, pengadukan, dan pengangkutan beton dalam satu unit. Dengan sistem terintegrasi, proses produksi beton dapat dilakukan secara langsung di area pekerjaan.
"Dengan desain yang kompak dan sistem penggerak roda yang tangguh, membuatnya sangat andal untuk proyek di medan yang sulit, jalan sempit, atau lokasi terpencil yang tidak terjangkau oleh truk molen besar," ujar Agung, Rabu (14/10/2026).
Salah satu persoalan dalam pembangunan jalan di daerah terpencil adalah kebutuhan pengangkutan material melalui jalur yang terbatas. Ketika kendaraan pengangkut berukuran besar sulit menjangkau lokasi, proses distribusi beton dapat menjadi kendala tersendiri dalam pelaksanaan proyek.
Melalui mobile batching plant, sejumlah tahapan pekerjaan dapat dilakukan menggunakan satu kendaraan. Alat ini dilengkapi sekop besar di bagian depan untuk mengambil material seperti pasir, kerikil, dan semen dari tumpukan tanpa memerlukan bantuan wheel loader eksternal.
Material kemudian ditimbang menggunakan sistem digital berbasis sensor untuk memastikan takaran sesuai dengan formula campuran beton yang ditetapkan. Setelah itu, material dicampur dengan air dari tangki terintegrasi hingga menghasilkan adonan beton yang homogen.
Sistem penimbangan digital tersebut membantu mengurangi risiko kesalahan takaran akibat faktor manusia sekaligus mendukung konsistensi mutu beton.
Agung menjelaskan, proses pengadukan dapat dilakukan saat kendaraan bergerak menuju titik pengecoran. Mekanisme ini membantu mengurangi waktu tunggu pengiriman beton dari fasilitas produksi di luar lokasi proyek.
Selain mengintegrasikan sejumlah tahapan produksi, kendaraan tersebut dirancang agar dapat dioperasikan oleh satu orang operator. Proses pemuatan material hingga penuangan beton dikendalikan langsung dari dalam kabin.
Meski demikian, efektivitas penggunaannya tetap bergantung pada kondisi medan, ketersediaan material, perencanaan pekerjaan, serta pemenuhan standar teknis konstruksi.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengatakan, penggunaan mobile batching plant merupakan bagian dari upaya mempercepat pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, khususnya pembangunan jalan dengan konstruksi beton.
"Ini kan mobil yang diperuntukkan untuk membuat jalan-jalan cor sehingga ngecornya tidak usah lagi di pabrik," kata Dedi.
Ia menegaskan, pengadaan kendaraan tersebut menggunakan anggaran pemerintah yang bersumber dari pajak. Menurutnya, pemanfaatan anggaran tersebut merupakan salah satu bentuk penyediaan fasilitas umum bagi masyarakat.
Sejumlah lokasi telah memanfaatkan armada tersebut untuk pembangunan jalan, antara lain Desa Margamulya, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung; Kelurahan Pamoyanan, Kabupaten Cianjur; serta Desa Dukuh, Kabupaten Bandung.
Pembangunan jalan di wilayah dengan akses terbatas memiliki arti penting bagi konektivitas ekonomi masyarakat. Infrastruktur yang memadai dapat membantu memperlancar mobilitas penduduk, distribusi hasil pertanian, pengangkutan barang, hingga akses menuju pusat perdagangan dan layanan publik.
Baca Juga: Mitigasi Risiko Sesar Lembang, Jabar Siapkan Infrastruktur Pemerintahan di Dua Daerah
Sebaliknya, keterbatasan jalan berpotensi meningkatkan hambatan distribusi dan waktu perjalanan, terutama bagi masyarakat yang menggantungkan aktivitas ekonominya pada akses antardesa.
Dalam konteks tersebut, penggunaan teknologi produksi beton di lokasi menjadi salah satu pendekatan untuk menghadapi kendala geografis dalam pembangunan infrastruktur.
Namun, manfaat ekonominya tidak hanya ditentukan oleh penggunaan alat. Perencanaan trase jalan, kualitas konstruksi, ketepatan penggunaan anggaran, serta pemeliharaan infrastruktur tetap menjadi faktor penting agar pembangunan memberikan manfaat jangka panjang.
"Pembangunan jalan desa diharapkan dapat menjangkau kawasan yang selama ini menghadapi hambatan akses, sekaligus memperkuat konektivitas dan mendukung aktivitas ekonomi masyarakat,"pungkasnya
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Rahmat Saepulloh
Editor: Fajar Sulaiman
Tag Terkait: