Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Cadangan Migas Makin Terbatas, Pengamat Dorong Pertamina Garap Sumur Tua

Cadangan Migas Makin Terbatas, Pengamat Dorong Pertamina Garap Sumur Tua Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Optimalisasi sumur minyak dan gas bumi (migas) tua dinilai dapat menjadi salah satu peluang bagi PT Pertamina Hulu Energi (PHE) untuk mendukung peningkatan produksi migas nasional di tengah keterbatasan cadangan. Namun, upaya tersebut perlu memperhitungkan keekonomian produksi agar biaya pengelolaan tidak lebih besar daripada hasil yang diperoleh.

Pakar ketahanan energi Universitas Indonesia (UI), Ali Ahmudi Achyak, menilai optimalisasi sumur tua dapat melengkapi strategi PHE yang selama ini mencakup eksplorasi dan eksploitasi sumur baru. Menurutnya, peluang produksi masih dapat digali melalui peningkatan pengelolaan sumur yang telah beroperasi.

“Saya kira PHE terus berbenah dalam mengelola seluruh wilayah kerja, termasuk untuk meningkatkan produksi. Kondisi cadangan kita memang semakin terbatas, tetapi tetap ada opportunity, termasuk melalui sumur tua,” kata Ali kepada media.

Direktur Eksekutif Pusat Kajian Ketahanan Energi untuk Pembangunan Berkelanjutan (Puskep) UI itu menilai optimalisasi sumur tua dapat mendukung upaya menjaga produksi migas dan ketahanan energi nasional. Peluang tersebut, menurutnya, berkaitan dengan peningkatan kemampuan teknologi, tata kelola, dan manajemen di sektor hulu migas.

“Kinerja PHE menunjukkan tren yang positif, didukung oleh penguasaan berbagai teknologi, termasuk enhanced oil recovery (EOR). Hal ini mencerminkan peningkatan kapabilitas PHE, baik dari sisi teknologi maupun tata kelola dan manajemen,” ujar Ali.

Teknologi enhanced oil recovery merupakan salah satu metode yang dapat digunakan untuk meningkatkan perolehan minyak dari suatu lapangan. Dalam konteks pengelolaan sumur tua, pemanfaatan teknologi menjadi salah satu faktor yang dapat menentukan peluang peningkatan produksi.

Meski demikian, Ali menegaskan optimalisasi sumur tua tidak dapat menggantikan eksplorasi dan pengembangan sumur baru. PHE tetap perlu menjalankan kedua strategi tersebut sekaligus mendorong pemberdayaan sumur minyak masyarakat untuk mendukung pencapaian target produksi.

Keekonomian Jadi Tantangan Sumur Tua

Di balik peluang peningkatan produksi, pengelolaan sumur tua memiliki tantangan tersendiri. Ali mengingatkan bahwa tingkat produksi sumur tua umumnya lebih rendah dibandingkan sumur baru, sementara biaya operasional tetap menjadi faktor penting dalam menentukan kelayakan pengelolaannya.

Menurutnya, penggunaan teknologi lama pada sumur dengan produksi yang terus menurun dapat membuat kegiatan operasional menjadi tidak ekonomis.

“Kalau sisi keekonomian, jika menggunakan teknologi lama dengan produksi yang semakin menurun, tentu menjadi tidak ekonomis,” kata dia.

Sebaliknya, penggunaan teknologi baru diharapkan dapat menekan sejumlah komponen biaya, termasuk kebutuhan sumber daya manusia (SDM). Dengan efisiensi biaya tersebut, sumur yang sebelumnya tidak ekonomis berpotensi kembali layak dikelola.

Ali juga menilai pelibatan pemerintah daerah dapat menjadi salah satu opsi untuk menekan biaya pengelolaan sumur tua. Ia mencontohkan praktik pengelolaan yang melibatkan pemerintah daerah, seperti di Riau dan Sumatera Selatan.

“Hasilnya dijual juga ke Pertamina sehingga dijadikan sebagai bagian dari lifting migas. Ini adalah upaya untuk mengejar target produksi. Jadi, apapun upaya untuk mengelola sumur tua, tetap patut diapresiasi,” tegasnya.

Dengan demikian, peluang optimalisasi sumur tua tidak hanya bergantung pada kemampuan meningkatkan produksi, tetapi juga pada efisiensi biaya, pilihan teknologi, dan skema pengelolaan yang diterapkan.

Sebelumnya, Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Andre Rosiade juga mengapresiasi kinerja PT Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) dalam menjaga produktivitas sumur migas tua.

Apresiasi tersebut disampaikan Andre setelah memimpin Tim Kunjungan Kerja Spesifik Komisi VI DPR dalam kunjungan lapangan ke wilayah operasi PHE ONWJ di perairan utara Laut Jawa, Jawa Barat, pada Minggu (4/10/2026).

Baca Juga: Optimalkan Potensi Sumur Idle, HWU Elnusa Dukung Produksi Migas dan Ketahanan Energi Nasional

Baca Juga: SKK Migas: Kebutuhan Minyak Pada 2030 Naik 124 Persen

Baca Juga: Bahlil Pastikan Kelembagaan BUK Migas Berada Langsung di Bawah Presiden

Dalam kunjungan tersebut, tim melihat langsung kondisi dan kinerja sumur yang telah beroperasi sejak 1969.

Menurut Andre, produktivitas sumur tersebut masih dapat dipertahankan meskipun telah beroperasi selama puluhan tahun dan mengalami proses peralihan pengelolaan.

Hasil kunjungan itu menjadi salah satu contoh upaya mempertahankan produktivitas lapangan migas yang telah beroperasi lama. Namun, keberlanjutan pengelolaan sumur tua tetap membutuhkan perhitungan teknis dan keekonomian agar kontribusinya terhadap produksi migas dapat dipertahankan.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Annisa Nurfitri
Editor: Annisa Nurfitri