Kredit Foto: Ilham Nurul Karim
BYD memperkenalkan teknologi baterai Blade Battery generasi kedua dan sistem pengisian daya FLASH Charging yang diklaim mampu mengisi daya kendaraan listrik dari 10 persen hingga 70 persen dalam lima menit.
Teknologi tersebut diperkenalkan bersamaan dengan peluncuran dua model premium DANZA, yakni D9 dan Z9GT. Kedua model dipasarkan dengan harga mulai Rp 1,08 miliar hingga Rp 2,25 miliar.
BYD mengklaim sistem FLASH Charging memiliki daya pengisian hingga 1.500 kW. Dengan teknologi tersebut, pengisian baterai dari 10 persen hingga 97 persen disebut dapat diselesaikan dalam sembilan menit pada suhu normal.
Liu Xueliang, General Manager BYD Asia-Pacific Auto Sales Division, mengatakan pengembangan teknologi baterai dan pengisian daya menjadi bagian dari upaya perusahaan meningkatkan pengalaman pengguna kendaraan listrik.
“Bagi BYD, inovasi teknologi bukan sekadar tentang mengejar parameter teknis, tetapi juga bagaimana teknologi tersebut dapat memberikan manfaat nyata bagi konsumen,” ujar Liu.
Teknologi Baterai dan Pengisian Daya
BYD mengembangkan Blade Battery generasi kedua dengan sejumlah pembaruan pada struktur dan sistem pengisian daya. Perusahaan menyebut teknologi tersebut dirancang untuk mendukung pengisian berdaya tinggi sekaligus menjaga aspek keselamatan baterai.
Salah satu teknologi yang dikembangkan adalah FlashPass, yang berkaitan dengan jalur penghantaran ion. BYD juga memperkenalkan Flash-Release, Flash-Flow, dan Flash-Intercalate sebagai bagian dari pengembangan sistem baterai tersebut.
Perusahaan turut mengembangkan lapisan solid electrolyte interphase (SEI) untuk mendukung kinerja baterai. Meski demikian, klaim mengenai kecepatan pengisian dan keselamatan baterai tersebut masih mengacu pada hasil pengujian yang disampaikan BYD.
Luther Panjaitan mengatakan, kebutuhan konsumen terhadap kendaraan listrik tidak hanya berkaitan dengan jarak tempuh, tetapi juga waktu yang dibutuhkan untuk mengisi daya.
“Kami memahami bahwa kenyamanan konsumen menjadi salah satu faktor penting dalam penggunaan kendaraan listrik,” kata Luther.
BYD juga menyampaikan bahwa teknologi FLASH Charging akan dikembangkan untuk sejumlah kendaraan listriknya. Salah satunya adalah M6 EV, yang disebut berpotensi mendapatkan dukungan pengisian daya tersebut melalui pembaruan perangkat lunak.
Baca Juga: TKDN Mobil Listrik 60% Bisa Dikejar, Kemenperin Ungkap Syaratnya
Baca Juga: Mobil Listrik Mulai Geser Peta Persaingan Pasar Mobil RI
Baca Juga: BYD Sealion 5 Terjegal Uji Keselamatan, Cuma Dapat 3 Bintang
Harga DANZA D9 dan Z9GT
Bersamaan dengan pengenalan teknologi baterai dan pengisian daya, BYD memperkenalkan DANZA D9 sebagai model premium dengan banderol Rp 1,08 miliar.
DANZA D9 memiliki tenaga 340 kW atau setara 462 PS. Berdasarkan pengujian dengan metode New European Driving Cycle (NEDC), mobil ini diklaim mampu menempuh jarak hingga 730 kilometer dalam sekali pengisian daya.
Model tersebut juga dibekali sistem suspensi DiSus-C. Fitur ini dirancang untuk membantu menjaga kenyamanan berkendara dengan menyesuaikan respons suspensi terhadap kondisi jalan.
Sementara itu, DANZA Z9GT dipasarkan dengan harga Rp 2,25 miliar. Mobil ini memiliki tenaga maksimum 850 kW atau setara 1.156 PS dengan torsi 1.210 Nm.
BYD mengklaim Z9GT mampu berakselerasi dari posisi diam hingga 100 km per jam dalam 2,7 detik. Adapun jarak tempuh yang diklaim berdasarkan metode NEDC mencapai 701 kilometer.
Kedua model tersebut menyasar segmen premium dengan mengandalkan performa, teknologi baterai, serta fitur kenyamanan.
BYD berencana memulai pengembangan jaringan FLASH Charging melalui 10 dealer DANZA pada 2026. Perusahaan juga menjajaki kerja sama dengan PT PLN (Persero) untuk mendukung pengembangan infrastruktur pengisian daya di Indonesia.
Eagle Zhao mengatakan pengembangan ekosistem pengisian daya menjadi bagian dari strategi BYD untuk memperluas penggunaan kendaraan listrik.
“Tentunya penting membangun ekosistem yang mendukung penggunaan kendaraan listrik,” ujar Eagle.
Pengembangan jaringan pengisian daya berkecepatan tinggi menjadi salah satu tantangan dalam memperluas penggunaan kendaraan listrik. Selain ketersediaan stasiun pengisian, penerapan teknologi dengan daya hingga 1.500 kW juga membutuhkan dukungan infrastruktur listrik yang sesuai.
Karena itu, penerapan FLASH Charging di Indonesia akan bergantung pada kesiapan jaringan, lokasi pemasangan, serta kerja sama dengan pihak terkait.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Ilham Nurul Karim
Editor: Dian Ihsan
Tag Terkait: