- Home
- /
- Kabar Finansial
- /
- Bursa
Haji Isam Jaminkan Saham PGUN-JARR ke Bank Mandiri, Analis Ungkap Dampaknya
Kredit Foto: Antara/Indrianto Eko Suwarso
Pembiayaan akuisisi saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) oleh kelompok usaha Jhonlin milik Haji Isam, yakni PT Pradiksi Gundatama Tbk (PGUN) dan PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) menjadi salah satu hal yang disoroti investor karena berpotensi memengaruhi risiko kredit PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI).
Research Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Muhammad Nurkholis Syafruddin menilai kemampuan debitur menghasilkan arus kas untuk membayar utang seharusnya menjadi dasar utama penilaian kredit. Menurutnya, penilaian tidak cukup hanya bertumpu pada nilai aset yang dijaminkan.
Setelah transaksi akuisisi, PT Jhonlin Baratama memegang 30,25% saham BYAN. Kepemilikan tersebut berpotensi memberikan sumber pendapatan dari pembagian dividen perusahaan tambang batu bara itu.
Nurkholis mencatat, BYAN rata-rata membagikan dividen sebesar US$960 juta per tahun selama periode tahun buku 2021–2025. Untuk tahun buku 2025 saja, nilai dividen yang dibagikan mencapai US$500 juta.
Berdasarkan porsi kepemilikannya, Jhonlin secara historis berpotensi memperoleh dividen sekitar US$290 juta per tahun. Nilai tersebut setara dengan imbal hasil sekitar 20% terhadap asumsi fasilitas pembiayaan sebesar Rp26,1 triliun atau sekitar US$1,45 miliar, yang seluruhnya dibiayai melalui utang.
Angka itu lebih tinggi dibandingkan asumsi biaya pinjaman sebesar 8%. Dengan tenor cicilan selama 7–8 tahun, dividen BYAN dinilai berpotensi menopang pembayaran pinjaman.
“Beban bunga tahunan sekitar US$116 juta dapat ditutup 2,5 kali oleh dividen rata-rata lima tahun dan 1,3 kali oleh dividen tahun buku 2025,” ujar Nurkholis dalam keterangan resminya, seperti diberitakan Rabu (14/10/2026).
Ia memperkirakan cicilan tahunan sebesar US$252 juta hingga US$279 juta dapat ditutup sekitar 1,04–1,15 kali oleh dividen berdasarkan asumsi historis tersebut. Dengan skenario itu, pinjaman berpotensi lunas dalam waktu sekitar 6,6 tahun.
Kemampuan pembayaran utang juga ditopang kinerja operasional BYAN. Pada semester I 2026, perusahaan membukukan laba bersih sebesar US$410 juta, tumbuh 17% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. BYAN juga memiliki kas sebesar US$934 juta.
Risiko Dividen dan Arus Kas Jadi Sorotan
Meski demikian, Mirae Asset menilai ruang pengaman pembayaran utang masih terbatas. Sebab, kemampuan Jhonlin melunasi pinjaman sangat bergantung pada besaran dividen BYAN, yang tidak sepenuhnya berada dalam kendalinya.
Jika perhitungan menggunakan rata-rata dividen BYAN periode 2023–2025 sebesar US$667 juta per tahun, rasio Debt Service Coverage Ratio (DSCR) diperkirakan turun menjadi 0,72–0,80 kali.
DSCR merupakan rasio yang mengukur kemampuan arus kas untuk memenuhi kewajiban pembayaran utang. Rasio di bawah satu kali menunjukkan bahwa arus kas yang tersedia tidak cukup untuk menutup seluruh kewajiban pembayaran dalam periode tersebut.
Menurut perhitungan Mirae Asset, BYAN perlu membagikan dividen minimal sekitar US$830 juta per tahun agar DSCR berada di atas satu kali.
Risiko lainnya berasal dari kebijakan dividen perusahaan. Nurkholis menyebut Jhonlin tidak menerima dividen untuk tahun buku 2025 dan tidak memiliki kendali penuh atas keputusan pembagian dividen. Hal ini karena keluarga Low masih memegang sekitar 32% saham BYAN.
Selain kebijakan dividen, risiko juga dapat muncul dari perubahan ketentuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB), kewajiban Domestic Market Obligation (DMO), serta kondisi force majeure yang berpotensi memengaruhi arus kas perusahaan.
Baca Juga: Low Tuck Kwong Borong Saham BYAN Lagi, Ini Besaran Kepemilikannya
Baca Juga: Haji Isam Bakal Kuasai 30,25% Saham, BYAN Pastikan Bisnis dan Opersional Tak Berubah
Baca Juga: BEI Desak JARR-PGUN Jelaskan Penjaminan Saham ke Bank Mandiri
Struktur pembiayaan seperti gadai saham BYAN, rekening penampungan dividen, dan cadangan pembayaran utang dapat membantu mengendalikan risiko. Namun, kemampuan membayar pinjaman pada akhirnya tetap bergantung pada arus kas dan kondisi siklus industri batu bara.
Terlepas dari penilaian bahwa transaksi tersebut tidak seburuk yang dikhawatirkan, Mirae Asset masih berpandangan bearish terhadap saham BMRI. Pandangan ini didasari sejumlah tantangan fundamental perbankan, bukan semata-mata pembiayaan akuisisi saham BYAN.
Mirae menyoroti rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) BMRI sebesar 94,4%, rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) bank saja sebesar 17,5%, serta kenaikan Cost of Credit (CoC) di tengah rasio Loan Loss Reserve (LLR) sekitar 2,4%, yang disebut berada di level terendah sepanjang sejarahnya.
Kombinasi faktor tersebut menjadi perhatian bagi investor dalam menilai profil risiko dan prospek BMRI. Karena itu, perkembangan kebijakan dividen BYAN, arus kas untuk pembayaran utang, struktur pembiayaan, serta kualitas aset Bank Mandiri perlu dicermati di tengah volatilitas pasar saham.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Dian Ihsan
Editor: Dian Ihsan