Ekspor Urea ke Australia Tembus Babak Baru, Pupuk Kaltim Kantongi Primaniyarta 2026
Kredit Foto: Pupuk Kaltim
PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim) membidik ekspor urea ke Australia hingga 250.000 ton sepanjang 2026 melalui skema kerja sama government to government (G2G). Hingga September 2026, perusahaan telah merealisasikan produksi urea sebanyak 2,81 juta ton atau 81,29% dari target tahunan.
Strategi ekspor tersebut mengantarkan Pupuk Kaltim meraih Penghargaan Primaniyarta 2026 kategori Eksportir Produk Industri Manufaktur dari Kementerian Perdagangan. Penghargaan itu diberikan atas kontribusi perusahaan dalam meningkatkan kinerja perdagangan luar negeri dan memperluas pasar internasional.
Direktur Keuangan dan Umum Pupuk Kaltim Andik Cahyanto Budiarto menerima penghargaan tersebut dalam pembukaan Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Tangerang, Banten, Rabu (14/10/2026).
Andik mengatakan, pengembangan pasar ekspor menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk mengoptimalkan kapasitas produksi dan memperkuat posisi di tengah dinamika industri global. Namun, ekspansi tersebut tetap harus berjalan seiring dengan pemenuhan kebutuhan pupuk dalam negeri.
Salah satu capaian ekspor perusahaan adalah pengiriman perdana 47.250 ton urea dari Bontang ke Australia pada Mei 2026. Pengiriman tersebut menjadi bagian dari target ekspor bertahap sebesar 250.000 ton hingga akhir tahun sekaligus menandai dimulainya kerja sama pemerintah Indonesia dan Australia untuk memperkuat rantai pasok pupuk di kawasan Asia Pasifik.
“Bagi Pupuk Kaltim, pengembangan pasar ekspor menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam mengoptimalkan kapasitas produksi, serta memperkuat posisi di tengah dinamika industri global,” ujar Andik.
Menurut dia, keseimbangan antara penguatan pasar ekspor dan pemenuhan kebutuhan domestik menjadi aspek penting untuk menjaga keberlanjutan bisnis perusahaan. Pupuk Kaltim pun berupaya mengoptimalkan kapasitas produksi, meningkatkan efisiensi, dan menjaga kesiapan distribusi.
“Dari hal itu, pasar internasional dapat dimanfaatkan secara optimal tanpa mengesampingkan mandat perusahaan dalam mendukung sektor pertanian dan ketahanan pangan nasional,” ucap Andik.
Berdasarkan data perusahaan hingga 30 September 2026, Pupuk Kaltim mencatatkan produksi amonia sebanyak 2.171.024 ton atau 79,23% dari target tahunan. Sementara itu, produksi urea mencapai 2.812.801 ton atau 81,29% dari target, sedangkan produksi NPK sebesar 263.457 ton atau 82,07%.
Capaian tersebut menjadi penopang operasional perusahaan dalam memenuhi kebutuhan sektor pertanian dan industri. Di tengah pengembangan pasar ekspor, Pupuk Kaltim juga memastikan ketersediaan pupuk untuk petani domestik.
Perusahaan mencatat stok pupuk di gudang produsen lini I mencapai lebih dari 245.000 ton untuk mendukung musim tanam Oktober 2026 hingga Maret 2027. Persediaan tersebut terdiri atas 236.417 ton urea dan 8.658 ton NPK.
“Kesiapan stok menjadi bagian dari upaya perusahaan menjaga kesinambungan pasokan, sehingga aktivitas produksi dan ekspor tetap sejalan dengan kebutuhan pupuk nasional,” kata Andik.
Ketersediaan stok domestik menjadi bagian penting dalam strategi perusahaan, mengingat ekspansi ekspor perlu diselaraskan dengan kebutuhan pupuk nasional. Meski demikian, data produksi dan persediaan tersebut belum dengan sendirinya menunjukkan besaran volume pupuk yang dialokasikan untuk pasar ekspor maupun domestik sepanjang tahun.
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia, yang mewakili Presiden Prabowo Subianto dalam acara tersebut, mengapresiasi para penerima Primaniyarta 2026 atas kontribusi mereka terhadap kinerja ekspor dan daya saing produk Indonesia di pasar global.
“Capaian ini harus menjadi momentum untuk memperkuat ekspor nasional, meningkatkan nilai tambah produk, serta mendorong produk Indonesia semakin kompetitif di pasar internasional,” ujar Bahlil.
Baca Juga: Pupuk Kaltim Perluas Energi Terbarukan, PLTS Atap Dukung Operasional dan Kendaraan Listrik
Baca Juga: Pupuk Kaltim Hemat Rp228 Miliar dari Revamping Pabrik Ammonia-2
Baca Juga: Ekonomi Desa Digenjot, Pupuk Kaltim Integrasikan Pertanian, Peternakan hingga Energi
Dia menegaskan, hilirisasi dan industrialisasi merupakan langkah strategis untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya alam sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi Indonesia.
Menurut Bahlil, penguatan daya saing ekspor juga membutuhkan perluasan akses pasar melalui perjanjian perdagangan internasional, penyederhanaan prosedur ekspor, kemudahan pembiayaan, serta promosi produk yang lebih intensif.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Annisa Nurfitri
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: